APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT

Elmi dan Damar mengawali asmara sejak kuliah hingga menikah. Namun, lima tahun berumah tangga, Damar justru menjadi parasit yang menganggur dan mengklaim rumah warisan Elmi sebagai miliknya. Konflik memuncak saat Damar menolak punya anak, meski Elmi sangat mendambakannya. Saat mendapat kerja, Damar malah berselingkuh. Di tengah luka, Elmi bertemu kolega yang tulus mendukungnya. Kini ia harus memilih: bertahan dalam kepalsuan atau pergi mengejar kebahagiaan sejati.
Bab
Bagikan

Bab 2

Elmi duduk terdiam di tepi tempat tidur, pandangannya tertuju pada kalender di dinding. Lima tahun sudah berlalu sejak dia dan Damar mengucap janji pernikahan. Dia teringat dengan jelas, awalnya semua tampak begitu menjanjikan. Mereka adalah teman satu kampus yang saling mendukung, menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, mengerjakan tugas, bahkan berdebat soal masa depan.

Elmi jatuh cinta pada Damar karena melihatnya sebagai sosok yang bertanggung jawab. Pemuda yang selalu menepati janji, tak pernah absen membantu teman-temannya yang kesulitan. Ia yakin bahwa Damar adalah pilihan yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana, penuh harapan akan kebahagiaan. Semua tampak baik-baik saja di awal. Damar memiliki pekerjaan tetap, dan mereka memutuskan untuk membeli rumah dengan uang warisan dari keluarga Elmi. Namun, setelah bulan madu usai, Damar mulai menunjukkan keinginan untuk menunda kehamilan.

"Sayang, bagaimana kalau kita tunda dulu punya anak?" kata Damar suatu malam, saat mereka sedang menikmati makan malam sederhana di rumah baru mereka. "Aku pikir, kita perlu menabung yang banyak dulu. Aku ingin kita punya rumah yang benar-benar nyaman sebelum ada anak di sini."

Elmi mengangguk setuju saat itu. Logika Damar terdengar masuk akal. Mereka baru saja memulai hidup baru, dan menabung lebih banyak untuk masa depan anak-anak mereka sepertinya keputusan yang bijaksana. Dia pun menjalani hari-harinya dengan penuh harapan, membayangkan masa depan di mana mereka memiliki keluarga kecil yang bahagia.

Namun, semua bayangan itu mulai memudar setelah tiga tahun berlalu. Hingga suatu malam, setelah perdebatan kecil tentang keinginan Elmi untuk berhenti mengonsumsi pil KB, Damar akhirnya mengungkapkan kebenaran yang selama ini dia sembunyikan.

"Kenapa kamu ngotot banget, El?" Suara Damar terdengar frustrasi. "Aku udah bilang dari dulu, aku nggak siap punya anak."

"Tapi, Dam, sudah tiga tahun kita menunda. Aku juga ingin menjadi ibu," balas Elmi, suaranya bergetar. "Kamu bilang hanya butuh waktu untuk menabung. Sekarang kita sudah cukup punya simpanan. Jadi kenapa?"

Damar menghela napas panjang, lalu menatap Elmi dengan tatapan lelah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. "Kamu nggak ngerti, ya? Ini bukan soal uang. Aku memang nggak mau punya anak. Aku nggak suka anak kecil!"

Kata-kata itu menghantam Elmi seperti pukulan telak. Dia menatap suaminya, mencari tanda-tanda bahwa ini hanya lelucon buruk, tapi tatapan Damar tetap dingin dan datar.

"Damar ... Apa maksud ucapanmu?" Elmi seolah baru saja mendengar kabar buruk.

Damar mengusap wajahnya, tampak jengkel. "Denger baik-baik! Aku nggak suka anak kecil. Mereka berisik, merepotkan, dan aku nggak mau hidup kita berubah karena kehadiran mereka. Aku hanya nggak bisa bayangin punya anak di rumah ini."

Elmi terdiam, hatinya seketika itu hancur berantakan. Dulu dia yakin Damar akan menjadi sosok ayah  yang bertanggung jawab, seseorang yang bisa ia percayai untuk membangun keluarga. Tapi kenyataan yang ada sekarang, dia merasa telah salah menilai. Dia merasa tertipu.

"Kenapa baru sekarang kamu bilang ini?" Elmi bertanya pelan, menahan air mata yang menggenang di matanya. "Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu nggak mau punya anak?"

Damar mengangkat bahu, tampak tak acuh. "Aku pikir perasaanku bisa berubah. Tapi ternyata nggak. Dan aku nggak mau memaksa diri untuk sesuatu yang aku nggak suka."

Elmi terdiam, menatap Damar dengan pandangan tak percaya. Selama ini, dia sudah berkorban banyak. Menunda keinginannya untuk menjadi ibu, menahan segala kerinduannya akan kehadiran seorang anak. Dan sekarang, dia merasa seluruh pengorbanannya sia-sia.

"Jadi, selama ini... kamu cuma pura-pura?" Elmi berusaha menahan getaran suaranya. "Kamu bohongin aku?"

Damar tak menjawab. Dia hanya menatap Elmi dengan pandangan datar, seolah apa yang dia katakan tadi adalah hal yang sepele. Elmi merasa seperti jatuh ke jurang yang dalam, kehilangan pijakan yang selama ini dia pikir kokoh. Semua janji, semua harapan yang pernah mereka bangun bersama, kini hancur berantakan.

Saat itu, Elmi menyadari bahwa pria yang dia nikahi bukanlah sosok yang dia kira. Damar yang dulu terlihat penuh tanggung jawab dan perhatian hanyalah bayangan semu, topeng yang perlahan-lahan terkikis seiring berjalannya waktu. 

Dan kini, dia terjebak dalam pernikahan tanpa arah, tanpa masa depan yang jelas. Tepat di saat itu, Elmi menyadari bahwa kebahagiaannya sudah lama hilang, terperangkap di antara kebohongan dan harapan kosong yang perlahan terus memudar.

**

Lamunan Elmi seketika buyar ketika terdengar suara Ibu Damar memanggilnya dari ruang tengah. Suara yang terdengar tak sabar itu membuat Elmi buru-buru mengelap air matanya.

"Elmi, cepat, ke sini sebentar!" panggilan itu memenuhi rumah, memberikan kesan tak sabar. Elmi bergegas keluar dari dalam kamar tidurnya, buru-buru menghadap Ibu Damar yang sudah berdiri di sana dengan tangan bersilang di depan dada, ekspresi tidak puas menghiasi wajahnya.

"Ada apa, Bu?" Elmi mencoba tersenyum sopan meski hatinya sedikit berdebar. Setiap kali berhadapan dengan wanita paruh baya itu, dia selalu merasa seperti tersudut.

"Hendra baru saja kirim pesan ke ibu, katanya dia mau datang untuk makan siang di sini. Kenapa kamu belum masak apa-apa?" nada bicara Ibu Damar seperti biasa, tajam dan penuh tuntutan.

Elmi menatap ibu mertuanya, terkejut. "Oh, aku tidak tahu kalau mas Hendra akan datang, Bu. Maaf, tadi Damar nggak bilang ke Elmi kalo mas Hendra mau mampir ke rumah."

Ibu Damar mendesah keras, seolah-olah ketidaktahuan Elmi adalah kesalahan fatal. "Kamu ini gimana sih? Sebagai istri Damar, kamu harusnya peka! Masa harus selalu diberi tahu soal hal-hal seperti ini?"

Elmi menundukkan kepala, menahan diri untuk tidak membantah. Sejak awal menikah, ibu mertuanya selalu memiliki standar yang tinggi untuk segalanya. Hanya karena berasal dari kampung, apa pun yang Elmi lakukan selalu dianggap salah dan kurang.

"Baik, Bu. Saya akan segera ke pasar untuk membeli bahan makanan," kata Elmi, mencoba untuk tetap tenang.

"Jangan lama-lama! Keluarga Hendra itu orang penting, jangan sampai kita mempermalukan keluarga sendiri. Kamu harus pastikan semua hidangan nanti sempurna!" tegur Ibu Damar dengan tatapan penuh tekanan.

Hendra adalah suami dari Risma, kakak kandung Damar. Hendra bekerja sebagai pegawai negeri yang mempunyai jabatan cukup tinggi. Membuat ibu mertuanya kerap kali membanggakan menantunya itu. Ibu mertua Elmi memiliki dua anak, Risma dan Damar, mereka bersaudara kembar.

Elmi mengangguk patuh sebelum bergegas mengambil dompet dan ponselnya. Tanpa sepatah kata lagi, dia melangkah keluar rumah, merasakan perasaan tak nyaman menyelimuti hatinya. Dia tahu bahwa hari ini akan panjang dan melelahkan, bukan hanya karena tamu yang akan datang, tetapi juga karena dia harus menyiapkan semuanya sendirian tanpa bantuan.

Saat tiba di pasar, Elmi berusaha mengingat semua hal yang mungkin diinginkan oleh keluarga kakak iparnya. Dia sudah terlalu sering mendengar cerita tentang keluarga kakak iparnya itu dari Ibu Damar-bahwa mereka adalah keluarga terpandang dengan selera makan yang tinggi. Elmi memilih bahan-bahan terbaik yang bisa dia temukan, menghabiskan hampir seluruh uang belanja yang tersisa di dompetnya.

Dengan keranjang belanjaan yang penuh, Elmi kembali ke rumah. Saat dia tiba, waktu sudah hampir tengah hari. Tanpa membuang waktu, dia langsung masuk ke dapur dan mulai menyiapkan semua bahan makanan. Tangannya bekerja dengan cekatan, memotong sayuran, membersihkan daging, dan menyiapkan bumbu-bumbu.

Elmi berusaha sebaik mungkin untuk menyiapkan hidangan yang istimewa. Dia membuat sup buntut, ayam panggang dengan saus jamur, sayur lodeh, dan sambal terasi. Meski tubuhnya mulai lelah, dia tetap berusaha agar semua makanan itu sempurna. Bau harum masakan mulai memenuhi dapur, membuat Elmi merasa sedikit lega.

Namun, ketika dia sedang sibuk menyiapkan hidangan penutup, Ibu Damar berjalan mendekat ke arah dapur. Wanita itu berdiri di ambang pintu, matanya mengamati semua persiapan yang sudah Elmi lakukan.

"Elmi, kamu ini masak apaan sih?! Kok lama banget!" suara Ibu Damar terdengar meninggi, membuat Elmi tersentak. " Astaga! Apa ini??Risma dan Hendra nggak makan sambal terasi dan sayur lodeh kayak gini. Mereka lebih suka makanan yang modern, bukan yang kampungan begini."

Elmi menatap ibu mertuanya dengan kebingungan. "Tapi, Bu, saya pikir..."

"Udah, nggak usah pake mikir segala! Kalau nggak bisa masak yang benar, bilang dari tadi, udah biar Ibu saja yang pesan catering dari restoran!" Ibu Damar memotong dengan tegas. Dia meraih ponsel dari saku bajunya, lalu mulai menelepon seseorang.

Elmi berdiri di tengah dapur, merasa usahanya memasak sedari tadi sia-sia. Keringat yang mengalir di dahinya terasa dingin. Dia melihat masakan yang sudah dia siapkan dengan susah payah, dan tiba-tiba saja, perasaan kecewa dan marah menguasainya. Tapi dia tetap menahan diri, mencoba mengendalikan emosi yang bergolak.

"Maaf, Bu. Saya hanya ingin yang terbaik," bisik Elmi dengan suara lirih.

Ibu Damar menatapnya dengan tatapan menghina. "Kalau kamu benar-benar ingin yang terbaik, kamu harusnya sudah tahu apa yang harus dilakukan dari awal. Jangan asal-asalan kayak begini."

Tanpa menunggu tanggapan, Ibu Damar berbalik, meninggalkan Elmi yang masih berdiri di tengah dapur dengan rasa kecewa yang semakin menumpuk. Elmi menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah. Hari ini, sekali lagi, dia merasa gagal. Dan kali ini, rasa gagal itu menyisakan luka yang lebih dalam, karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada merasa tak pernah cukup di mata orang yang seharusnya menjadi keluarganya sendiri.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Pasca kehilangan suaminya dalam kecelakaan tragis, Mutia justru difitnah oleh keluarga mendiang suaminya atas tuduhan menggoda pria beristri. Ia pun diusir hingga mengalami insiden fatal yang menghancurkan wajahnya. Setelah menjalani operasi rekonstruksi total, Mutia bangkit dengan identitas baru. Kini, ia bertekad mengejar keadilan dan membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya. Ikuti perjuangan berani Mutia menuntut balas.
Sampul Novel Gigolo Selingkuhanku Ternyata Kamu !
9.4
Kezia adalah wanita karier sukses yang hidupnya berubah total setelah bertemu Alex di sebuah klub mewah. Hubungan intens mereka awalnya tampak sempurna, hingga Kezia menemukan rahasia pahit bahwa kekasihnya itu adalah seorang gigolo. Terjebak antara cinta dan pengkhianatan, Kezia mulai mengungkap masa lalu kelam yang melukai Alex. Melalui konflik batin yang hebat, keduanya berusaha mencari arti kejujuran dan pengampunan demi memperbaiki masa depan mereka.
Sampul Novel Hasrat Cinta Om Zafran
9.0
Hidup satu atap dengan Zafran Anthony membuat Bella Eleya Zadik terjebak dalam cinta terlarang pada omnya sendiri. Saat Bella mencoba menghapus rasanya, Zafran justru menyadari hasrat serupa hingga mereka berpacaran secara sembunyi-sembunyi. Namun, Bella dihantui ketakutan jika ayahnya tahu. Konflik memuncak saat Zafran dipaksa mengikuti perjodohan oleh kakaknya sendiri. Akankah hubungan mereka bertahan di tengah tekanan keluarga dan rahasia yang mengancam?
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Terdesak kebutuhan hidup, Zio terpaksa setuju melayani seorang wanita dalam satu malam. Ia sempat mengira akan bertemu wanita tua, namun justru sosok muda yang sangat cantik muncul di hadapannya. Secara mengejutkan, wanita itu memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah beban hidupnya yang sangat berat, mampukah Zio memenuhi permintaan gila tersebut dan menjadi pendamping sang miliarder cantik yang misterius itu?