APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Modal Dusta

Modal Dusta

Kecewa atas sikap suami yang kasar dan abai dalam menafkahi, seorang wanita terjebak dalam kehampaan. Di tengah luka itu, ia tak sengaja mengenal sosok pria tampan melalui temannya. Komunikasi yang awalnya biasa berubah menjadi pelarian emosional saat pria itu dengan tulus mendengarkan keluh kesahnya. Getaran cinta mulai muncul lewat pesan singkat yang intens. Kini, ia terjebak dalam romansa terlarang dengan pria yang jauh lebih muda. Akankah hubungan penuh dusta ini bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bab 2.

"Bawa kesini ponsel kamu!" bentak Mas Haris sambil merampas benda pipih itu dari tanganku.

"Apaan sih, kasar banget kamu, Mas," protesku.

Tanganku dinginnya minta ampun, bagaimana tidak. Isi chatingan dengan berondong itu belum sempat kuhapus. Mas Haris sudah muncul aja dibalik pintu.

"Loh, ponsel kamu kok mati?" teriaknya emosi.

"Hm, berarti lowbat," ucapku pelan.

"Sana, kamu charge dulu! Setelah itu Mas ingin tahu dengan siapa saja kamu chatingan,"  cecarnya.

Upss, aku menarik napas lega, sementara ini aku aman. Sambil mengambil charge di kamar, kuperhatikan gerak-gerik Mas Haris. Aku harus gerak cepat untuk menghapus pesan dan memblokir nomor Wira.

Triing ...

Ponselku menyala kembali, sedang Mas Haris masih duduk didekatku sambil matanya melihat ke televisi.

"Udah nyala ponsel kamu?" aku terlompat kaget mendengar pertanyaannya.

"Be-belum, maklumlah ponsel jadul jadi agak lama mengisi daya," jawabku spontan.

Nasib baik masih berpihak padaku, Mas Haris beranjak dari duduk. Ia berjalan ke dapur sepertinya hendak buang air. Kesempatan ini takku sia-siakan. Semua isi chat kuhapus lalu memblokir nomor Wira. Upss, selesai.

Aku duduk di sofa sambil menetralkan hati yang sempat kacau. Keasikan fokus melihat televisi, Mas Haris sudah berdiri disampingku sambil memegang ponsel yang dicharge.

"Hapus semua grup sekolah itu, enggak perlu kamu berteman dengan mereka!" bentaknya.

"Kamu ini kenapa sih, Mas? Dari tadi mengamuk gak jelas. Memang apa sih ruginya hingga harus menghapus pertemananku?!"

"Halahh, teman kamu itu hanya pamer status sosial aja setiap ada pertemuan. Apa kamu gak malu bergaul dengan mereka, disaat kondisi ekonomi kita begini?!" cecarnya.

"Kenapa harus malu, mereka tak membahas itu. Tak masalah juga dengan kondisi kita," jelasku.

"Tapi aku yang malu lihat kamu bergaul dengan mereka!" bentaknya.

"Sudah dari dulu kondisi kita seperti ini, kenapa baru sekarang kamu permasalahkan," sindirku.

Mas Haris terdiam. Hampir tiga bulan ini beliau uring-uringan. Sering marah tanpa alasan. Akhirnya sesuatu yang tak kuduga keluar dari mulutnya.

"Niki, mulai sekarang kamu harus bantu untuk mencari nafkah!" ucapnya pelan.

"Ada apa, kenapa kamu bicara seperti ini?" tanyaku heran.

"Kios kita terancam bangkrut karena terlilit hutang. Modal jualan dilarikan temanku," jawabnya pelan.

"Apaah?!" aku kaget mendengarnya.

"Sudah Mas tempahkan steling kecil untuk membuka usaha. Kamu kan bisa masak, jadi bisa buka warung di depan kios kita."

"Hahh, kenapa gak bilang dulu, Mas! Mau buat usaha apa?" tanyaku kaget.

"Kamu bisa membuka warung nasi untuk sarapan pagi atau makan siang," jawabnya santai.

Aku terdiam, tak berani membantah. Sebenarnya aku sudah lama punya keinginan untuk berdagang. Mungkin ini jalan Tuhan untuk mengatasi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk.

****

Sore harinya ...

"Bu, itu steling punya siapa?" tanya Diah, anak gadisku yang sulung.

"Ayahmu membelikannya untuk Ibu," jawabku.

"Wahh, Ibu mau jualan apa?" tanya Dimas dan Danu antusias.

"Ibu kalian hendak berjualan nasi," jawab Mas Haris tersenyum puas.

"Kamu sudah lihat stelingnya, kan! Sekarang biar dibawa langsung ke kios dengan menggunakan mobil pik-up milik temanku," jelasnya sambil menelepon seseorang.

Ketiga anakku masih keheranan dengan keputusan ayahnya yang tiba-tiba. Setelah kujelaskan masalah sebenarnya, mereka mengerti dan berjanji ikut membantu orangtuanya untuk berjualan.

Tak lama kedengaran suara klakson mobil, steling langsung dinaikkan ke atas pik-up. Mas Haris ikut mengantar dengan naik motor.

"Sebenarnya sudah lama ayah kalian menyuruh Ibu untuk membantu mencari nafkah. Tapi Ibu gak mau, karena itu tanggung jawabnya. Ibu takut Ayah kalian terlena, nanti sesuka hati saja memberikan nafkah. Kali ini Ibu menyerah dan mengalah karena gak ada pilihan lagi," jelasku panjang lebar.

Ketiga anakku langsung terdiam. Selama ini aku selalu ada untuk mereka. Khawatir saja kalau sudah berjualan, aku pasti repot dan sibuk. Otomatis perhatian jadi berkurang dan waktuku habis ditempat jualan mulai pagi hingga malam hari.

"Bu, Diah ingin bilang sesuatu," ucapnya pelan

"Mau bilang apa, Di?" tanyaku penasaran.

"Tabungan Diah sepertinya cukup untuk membeli motor tapi bayarnya dengan cara mencicil setiap bulan," jawabnya takut-takut.

"Bagus dong, Kak. Pulang sekolah kita bisa menyusul ke warung Ibu. Sekalian membantu jagain kios Ayah juga," sela Dimas semangat.

"Memangnya gaji kamu mengajar les itu cukup untuk membayar cicilan motor yang baru?" tanyaku ragu.

"Insya Allah cukup, Bu. Sekarang Diah mengajar les private di tiga tempat," jelasnya.

"Alhamdulillah. Ibu setuju. Semoga Tuhan menambah rejeki kamu, agar lancar niat untuk membeli motor," ucapku terharu.

Sekarang ini sekolah ketiga anakku sedang butuh biaya besar. Si sulung Diah hendak masuk kuliah, sedang Dimas tahun depan masuk SMA dan Danu masih SMP. Ditambah lagi ekonomi keluarga sedang terpuruk.

Mas Haris selalu melampiaskan amarah dan stresnya kepadaku dan anak-anak. Aku takut mereka kena mental. Jadi berdampak buruk terhadap perkembangan jiwanya. Semua keluhannya wajib didengarkan. Sebaliknya Mas Haris tak pernah peduli dengan keluhanku dan anak-anak. Dasar lelaki egois.

*****

Sejak membuka warung nasi, aku jarang bermain ponsel. Benda pipih itu kusimpan di dalam tas sandang. Cara ini menurut lebih baik. Aku takut Mas Haris kepo lagi seperti kemarin.

Mencari rejeki diniatkan untuk membantu ekonomi keluarga, mendatangkan berkah tersendiri bagiku. Perlahan warung nasi mulai dikenal orang. Banyak pelanggan diwaktu pagi dan siang hari.

Aku pikir dengan membantu mencari nafkah, Mas Haris tak lagi stres dan marah-marah. Ternyata dugaanku meleset. Mas Haris mulai dilanda cemburu tiap aku meladeni pembeli laki-laki. Dia sering mengamuk tak jelas bahkan hampir melempar aku dengan helm yang sedang dipegangnya.

"Kalau tak boleh meladeni pembeli, jangan suruh aku jualan, dong!" cecarku.

"Niki, kamu sudah berani melawan sekarang!" ucapnya tak mau kalah.

"Aku mana bisa memilih pembeli yang mau datang ke warung. Siapa saja bebas makan disini," jelasku berharap ia mengerti.

"Kamu gak usah terlalu ramah dengan pembeli lelaki!" bentaknya.

"Justru aku terlihat jutek dan jarang senyum tiap meladeni pembeli. Itu yang sering kudengar dari mereka," balasku.

"Kamu jangan menjawab terus, Niki!" ucapnya dengan suara tinggi.

Pembeli yang sedang duduk dipojokan, cepat menghabiskan sisa makanannya. Kemudian membayar dan segera berlalu.

"Puas sekarang! Pembeli lari ketakutan melihat kelakuan kamu," cecarku. Mas Haris terdiam, ia menarik napas kasar.

"Oh iya Niki, mulai bulan depan kamu yang bayar uang spp dan jajan anak-anak!" pintanya.

"Hahh, itu kan tanggung jawab kamu, Mas. Jadi penghasilan kamu untuk apa?" tanyaku dengan kesal.

"Mas hanya memberikan uang belanja setengahnya. Kamu kan udah jualan jadi biaya dapur sudah bisa diatasi," jawabnya santai.

"Enak saja bicara seperti itu, kamu harus berikan tanggung jawab seperti biasa!" ucapku penuh emosi.

"Uang dari mana lagi untuk memenuhi semua itu! Kamu lihat kios ini, modalnya semakin habis. Untungnya untuk mencicil motor dan hutang di grosir," jelasnya.

"Akibat kebodohan kamu yang terlalu percaya dengan teman, kita semua jadi susah. Aku tak mau dijadikan tulang punggung keluarga. Ingat itu, Mas!" bentakku tak mau kalah.

Aku tersadar, entah darimana keberanian untuk berbicara dan membantah semua ucapan Mas Haris. Emosiku keluar begitu saja mungkin selama ini hanya bisa dipendam. Sekaranglah saatnya mengeluarkan pendapat yang saling berseberangan.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan
9.2
Dunia Asha runtuh saat Raka, suaminya yang model terkenal, menceraikannya demi karier. Pernikahan tiga tahun itu berakhir karena Asha dianggap beban. Di tengah rasa sakit, hadir Rafael Adiwangsa, duda konglomerat sekaligus wali murid di sekolah tempat Asha mengajar. Rafael menawarkan kasih sayang yang jauh berbeda dari masa lalu Asha yang kelam. Mampukah Asha menyembuhkan luka hatinya dan menerima cinta pria berkuasa ini saat dirinya merasa tidak punya apa-apa lagi?
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
9.3
Dunia Keyla Valerie seketika runtuh saat ia memergoki pengkhianatan suaminya yang berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kehancuran hati dan keputusasaan yang mendalam, seorang pemuda tampan dengan gaya badboy tiba-tiba muncul di hadapannya. Tanpa ragu, pemuda kaya raya tersebut langsung mengklaim bahwa Keyla adalah calon istrinya. Bagaimana nasib Keyla selanjutnya menghadapi situasi tak terduga ini? Ikuti kisah selengkapnya sekarang.
Sampul Novel He's Danger
9.6
Cinta pertama tak selalu indah, bagi Julia, perkenalannya dengan Jacob di Instagram justru membawa petaka. Hubungan ini penuh kekerasan, paksaan, dan pengkhianatan yang melukai batinnya. Meski disakiti berulang kali, Julia sulit melepaskan diri dari pesona Jacob. Kehadiran pemuda itu perlahan mengungkap teka-teki gelap dalam hidup Julia yang semula tenang. Terjebak antara rasa cinta dan dendam, Julia menghadapi misteri yang menuntut untuk diselesaikan hingga akhir.
Sampul Novel Istri Yang Dicampakkan Menjadi Sultan
8.9
Lima tahun membina rumah tangga, Alia justru dikhianati Farhan yang meminta cerai demi wanita lain setelah pulang merantau. Meski hancur, Alia bertekad bangkit dan menyembuhkan luka hatinya sendirian. Saat hidupnya mulai membaik dan kesuksesan datang menghampiri, Farhan tiba-tiba muncul kembali. Mantan suaminya itu berusaha merayu dan menawarkan kenyamanan agar mereka bisa rujuk. Kini, Alia harus memilih antara ketenangan hidupnya atau kembali pada masa lalu.
Sampul Novel Kau Rebut Ayahku, Aku Rebut Suamimu
9.5
Kehancuran keluarga Arlena bermula saat wanita lain merebut ayahnya, hingga sang ibu wafat karena duka mendalam. Dendam membara mendorong Arlena untuk membalas rasa sakit itu dengan cara yang tak terduga. Ia menemukan celah saat mengetahui bahwa perusak rumah tangganya adalah istri dari Rafael Vallenzo, bosnya yang sangat berkuasa. Kini, Arlena bertekad merebut Rafael demi pembalasan, namun ia justru terjebak dalam risiko yang mengancam hatinya.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.