APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MrP (Mertua Rasa Pelakor)

MrP (Mertua Rasa Pelakor)

Kehancuran rumah tangga membayangi saat campur tangan mertua menjadi duri dalam pernikahan. Memiliki suami yang lebih mengutamakan ibunya daripada anak dan istri sendiri adalah ujian berat bagi kesabaran. Meski hati terkoyak, aku berusaha tegar menghadapi hinaan mertua yang puas melihat penderitaan kami. Saat Mas Bo'eng memilih pergi meninggalkan aku dan Fito dalam kepahitan, aku terpaksa bertahan di tengah luka batin yang kian mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 1

Menikah adalah sebuah pilihan hidup, semua memimpikan pernikahan yang sempurna. Memiliki pasangan dan jalan hidup yang sesuai keinginan hati. Akan tetapi, ketika Tuhan memberikan pasangan dan jalan hidup yang penuh liku, apakah kita harus menolaknya?

Siapa pun tak ingin memiliki pasangan yang bersifat buruk, tidak ada yang ingin hidup susah. Sejatinya, wanita ingin memiliki suami yang setia dan perhatian. Tapi tidak untukku.

Sebuah takdir yang harus dijalani dengan sebuah keterpaksaan, membuat hidup seperti di neraka.

Tuhan menciptakan wanita dengan kekuatan yang super dahsyatnya. Meski hanya memiliki dua tangan, para wanita mampu melakukan semua pekerjaan rumah dan lainnya. Walaupun kekuatan lelaki lebih besar dari perempuan.

Pun denganku, walaupun lelah menyelimuti tubuh, aku tak pernah mengeluh. Memilih diam adalah caraku untuk tetap bertahan. Tinggal bersama mertua, rasanya seperti bukan menantu saja. Lebih cocok sebagai pembantu.

Sejak hamil anak pertama, Mas Bo'eng memboyongku tinggal di rumah ibunya. Tentu saja, bukan hanya kami yang tinggal di sana. Ada dua adiknya yang masih bersekolah dan bekerja.

Rumah kontrakan kecil dengan dua kamar itu, menjadi saksi betapa tersiksanya aku. Kamar utama, ditempati oleh mertuaku dan dua anaknya, Rian dan Risa. Sedangkan kamar belakang, diisi oleh kami—aku, Mas Bo'eng, dan anak kami.

Tinggal bersama mertua dan ipar, tak membuatku merasa seperti layaknya keluarga pada umumnya. Bahkan, mereka tak pernah menganggap diri ini sebagai menantu dan ipar.

Anakku bernama Fito, umurnya baru satu tahun. Setiap pagi tugasku adalah menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah ini, menyapu, mencuci pakaian, bahkan sampai mengambil air di sumur umum yang terletak di belakang rumah. Untuk kebutuhanku dan Fito, mertuaku tidak memperbolehkan memakai air PAM. Alasannya, penggunaan air jika ada anak kecil, akan memperbesar biaya listrik.

Pernah suatu ketika, aku telat bangun dikarenakan badanku sakit semua. Sindiran dan hinaan tak lupa mereka sampaikan kepadaku. Tentu sakit hati bila mendengarnya, tetapi aku mencoba untuk tetap bertahan dalam keadaan ini.

"Enak, ya, tinggal gratis di sini, makan tidur gak perlu bayar. Nge-charge pun pakai listrik, listrik itu bisa mengalir, ya, harus di bayar!" Risa dan mertuaku saling berbalas.

"Iya, udah numpang gratis bukannya rajin dikit, kek," sambung mertuaku.

Aku hanya mendengarkan mereka dari dalam kamar, tentu saja mereka tahu kalau aku tidak tidur. Suamiku masih tertidur pulas, ia tak mendengar ucapan keluarganya. Telingaku bagaikan sudah kebal dengan hinaan mereka.

"Lebih baik pelihara anjing, ada balas budinya," celetuk Risa. Ingin menangis pun tak ada gunanya bagiku, itu hanya akan memperlihatkan kelemahanku saja.

Risa seorang gadis berusia 17 tahun, ia bekerja di salah satu toko di Jakarta. Sedangkan Rian, masih sekolah di bangku kelas 1 SMP.

"Dasar aja si Bo'eng, ngambil istri pemalas gitu. Asal ketemu aja, sih!" umpat mertuaku.

Serba salah, ingin keluar pun aku sudah malu. Apakah mereka menganggap aku sebagai pembantu? Memang, pernikahan kami tidak direstui oleh keluarganya.

Setelah puas menyindir, mereka pun pergi. Mertuaku setiap paginya mengantarkan Risa sampai ke stasiun kereta, setelah itu ia akan pulang dan kembali melanjutkan tidurnya.

Aku keluar kamar saat Ibu dan anak itu pergi, menyapu, mengelap kaca, serta mencuci piring bekas mereka pakai tadi. Setelah bersih, aku kembali merendam pakaian di halaman depan—perkarangan depan lebih luas, jadi selain menjemur digunakan untuk mencuci pakaian juga—dan menyikat kamar mandi.

Aku memaksakan diri untuk melakukan semuanya, mumpung Fito masih tertidur pulas. Lapar begitu terasa, aku mencari sesuatu di dapur. Barangkali ada yang bisa dimakan. Tidak ada apa pun. Hanya kopi dan teh. Baiklah, aku memilih untuk menyeduh kopi instan.

Ibu menyusui memang mudah lapar. Aku harus bagaimana lagi? Suamiku tidak bekerja, untuk membeli sesuatu pun tidak mungkin. Pukul sembilan pagi, kerjaan rumah tangga telah selesai dikerjakan. Tinggal menunggu mertuaku pulang membawa sayuran dari pasar, itupun jika ia membelinya.

Baru saja ingin menyesap kopi yang hampir dingin, anakku menangis mungkin ia lapar, buru-buru aku menghampiri dan menggendongnya. Takut jika Mas Bo'eng terbangun, ia tidak suka mendengar suara tangis anaknya.

Tak lama, mertuaku pun pulang. Tanpa diperintah, gegas membukakan pintu pagar persis asisten rumah tangga yang sedang menunggu majikannya pulang.

Ada beberapa plastik belanjaan yang tergantung di motornya. Setelah mematikan mesin motor, ia masuk begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sambil menggendong Fito, aku membawa semua belanjaan nyonya besar itu.

"Ini siapa yang nyeduh kopi Mami?!" teriaknya dari dalam. Gegas aku menghampiri pemilik rumah itu dengan setengah berlari. Hampir saja bawaan di tangan kanan terlepas.

"Maaf, Mi. Tadi July yang nyeduh," ucapku menunduk. Seperti maling yang tertangkap.

"Dasar gak tau diri, sudah numpang gratis, pake berani-beraninya ngambil barang orang lain!" hujatnya.

Tak berapa lama, pintu kamarku terbuka. Ya, Mas Bo'eng bangun karena mendengar teriakan ibunya.

"Aduh, berisik amat, sih?! Gak tau apa, ada yang masih tidur?!" bentaknya.

"Ini, nih! Maling kopi Mami, dasar gak tau diri, udah bangun siang masih berani nyeduh kopi segala!" hardiknya kembali.

Mas Bo'eng mendekat dan menjambak rambutku, sakit sekali.

"Lu maunya apa, sih? Tau diri, dong, tinggal di rumah orang bangun pagian dikit!" Bau mulutnya begitu menguar saat hidungku berdekatan dengan wajahnya.

Aku hanya bisa menangis, tidak taukah jika aku lelah? Berharap, Tuhan akan membalas semua perlakuan mereka terhadapku. Aku selalu berdoa, agar Tuhan dapat membukakan pintu hati Mas Bo'eng.

Sejak tinggal bersama ibunya, perlakuan suamiku semakin menjadi. Ia tak mau mencari pekerjaan, untuk membeli susu Fito pun, harus menunggu sedekah dari seseorang. Semiris itu hidupku.

Ada sesal yang menjalar dalam hati, andai saja waktu dapat diulang kembali. Aku tak ingin menerima lamaran Mas Bo'eng, memang salahku tidak mencaritahu terlebih dahulu tentang asal usul suamiku.

Nasi telah menjadi bubur, seberat apapun cobaan hidup, aku akan menerima semuanya dengan keikhlasan. Meskipun terlihat seperti orang bodoh. Semua demi anakku.

Namaku July, merantau dari rumah ke Jakarta pada saat usiaku 21 tahun. Terlahir dari keluarga miskin, membuatku bertekad mengadu nasib ke Ibu kota.

Aku mengunjungi temanku bernama Irma, ia bekerja di salah satu warung nasi di daerah Poris Indah, tangerang. Irma mengajakku untuk bekerja bersama dengannya. Pemilik warung pun memberi kesempatan padaku, hingga akhirnya aku tak sengaja bertemu dengan Mas Bo'eng.

Kegiatan Mas Bo'eng adalah sebagai karyawan pabrik lampu di daerah Cengkareng, ia sering mampir ke warung ini di jam-jam makan siang. Ternyata, rumahnya pun di dekat sini juga.

Awalnya, aku tak begitu memperhatikan Mas Bo'eng. Ia lebih akrab dengan Irma, karena memang Irma adalah karyawan lama di warung nasi milik Mpok Minah. Seorang janda paruh baya yang masih seksi itu sangat ramah kepada siapa saja.

Setelah tiga bulan bekerja, aku baru menyadari jika warung ini lebih banyak laki-laki yang datang, dan memiliki rahasia lain. Aku pernah bertanya pada Irma, kenapa pengunjung lebih banyak laki-laki. Ia mengatakan, jika wanita pasti memasak dan jarang membeli sayur atau sekedar makan di sini.

Irma dan karyawan lainnya sering digoda oleh pria-pria itu, tak jarang mereka meraba bokong Irma ataupun teman-teman lainnya. Aku sedikit risih bila ada yang bersikap kurang ajar seperti itu.

Selama bekerja, aku masih menumpang pada Irma. Ia menyewa kamar kost di belakang perumahan ini. Lambat laun, aku mengenal Mas Bo'eng dari Irma. Aku pikir, Irma dan Mas Bo'eng ada hubungan spesial tadinya. Ternyata aku salah. Irma adalah seorang PSK, sejak tahu aku lebih memilih pindah.

Semua berlalu begitu saja, kedekatan aku dengan Mas Bo'eng pun semakin intens. Gadis polos bertemu dengan pria kota, banyak hal yang diajarkan oleh Mas Bo'eng padaku. Anehnya, aku begitu penurut dengannya. Apapun yang ia suruh, dengan polos mengikutinya.

Hingga sampai suatu saat, Mas Bo'eng dan aku tinggal dalam satu kamar yang sama. Berkali-kali juga menyaksikan kegilaannya bersama perempuan lain selain diri ini, seperti orang yang bodoh ketika ia berkata tidak seperti apa yang terlihat, dan kembali memaafkannya lagi.

Banyak yang memberitakan jika Mas Bo'eng memakai susuk pengasihan, tetapi aku tak mempercayai ucapan mereka. Aku tahu jika Irma juga menjalin hubungan dengan Mas Bo'eng, tetapi mereka selalu menyangkalnya.

Irma memang cantik dan seksi, ia pun begitu memikat. Pernah suatu ketika, Irma menginap di kost kami. Aku terlelap begitu saja, sedangkan mereka masih terjaga. Entah kenapa aku terbangun saat mendengar rintihan halus, menyaksikan sendiri Mas Bo'eng meraba tubuh Irma.

Mereka terkejut, Mas Bo'eng meminta maaf padaku, ia berkata kalau salah sentuh. Mas Bo'eng mengira, Irma adalah aku. Tentu saja alasan yang tidak masuk diakal. Aku luluh kembali untuk kesekian kalinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cerita Penggenjrotan
9.0
Kisah romansa modern ini secara khusus diperuntukkan bagi pembaca dewasa yang telah berusia delapan belas tahun ke atas. Mengingat muatan konten yang ada di dalamnya, sangat disarankan bagi mereka yang masih di bawah umur untuk tidak mencoba membaca cerita ini. Narasi yang disajikan fokus pada dinamika hubungan yang intens dengan peringatan keras mengenai batasan usia bagi audiensnya demi kenyamanan bersama dalam menikmati alur cerita yang sangat eksplisit.
Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Kehidupan Emily yang tenang hancur seketika setelah menerima panggilan polisi yang mengubah segalanya. Ia mendapati Jaka Guntur, kekasihnya, berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Di tengah kekacauan itu, Emily justru terlibat hubungan satu malam yang tak terduga dengan paman Jaka, Jacob. Kini, Emily terjebak dalam pusaran konflik rumit dan tarik ulur perasaan antara mantan kekasihnya dan sosok pria berkuasa yang merupakan paman dari mantannya tersebut.
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, gadis dari latar belakang sederhana, mendadak jadi pusat perhatian setelah Nyonya Silviana mengangkatnya sebagai ahli waris tunggal. Perubahan status sosial yang drastis ini memicu penolakan keras dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan kepantasannya. Di tengah kepalsuan dan intrik keluarga kaya, Lucyana harus berjuang mempertahankan diri. Mampukah ia bertahan menghadapi tekanan tersebut sembari mencari sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Mencintai ayah angkat ku
8.6
Adam terjebak dalam obsesi mendalam terhadap Hana, putri angkat yang ia besarkan sendiri. Saat Hana mencoba mengakhiri hubungan terlarang ini demi kebahagiaan Adam bersama wanita lain, amarah Adam meledak dalam sebuah kekerasan. Ia bersumpah tidak akan melepaskan Hana kepada pria mana pun. Di tengah pertentangan batin dan ketiadaan restu, Adam terus memaksakan cintanya yang egois. Akankah hubungan penuh luka ini bertahan meski dunia menentang mereka?
Sampul Novel Menikah dengan kakak ipar
9.0
Hanifah yang mandul mendesak suaminya, Raihan, untuk menikahi sang adik, Nur Naila Habibah, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tak layak bagi Raihan, dosen agama yang religius, karena ia adalah mahasiswi nakal yang belum berhijab. Tanpa mereka sadari, Naila sebenarnya bukan saudara kandung Hanifah, melainkan anak sahabat ibunya. Akankah Naila menerima permintaan kakaknya itu atau justru menolak pernikahan tersebut karena merasa terlalu berbeda?
Sampul Novel My Annoying Boss
7.9
Demi lepas dari mantan pacar yang toksik, Sina nekat mengeklaim seorang pria asing sebagai kekasih barunya di sebuah restoran. Sialnya, pria itu ternyata Abraham Prama, atasan barunya di kantor. Di sisi lain, Abraham yang terdesak tuntutan menikah dari orang tuanya melihat ini sebagai peluang. Ia pun menuntut pertanggungjawaban Sina atas sandiwara tersebut. Terjebak dalam kesepakatan tak terduga, Sina harus menghadapi tuntutan sang bos miliarder yang menyebalkan.