APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Annoying Boss

My Annoying Boss

Demi lepas dari mantan pacar yang toksik, Sina nekat mengeklaim seorang pria asing sebagai kekasih barunya di sebuah restoran. Sialnya, pria itu ternyata Abraham Prama, atasan barunya di kantor. Di sisi lain, Abraham yang terdesak tuntutan menikah dari orang tuanya melihat ini sebagai peluang. Ia pun menuntut pertanggungjawaban Sina atas sandiwara tersebut. Terjebak dalam kesepakatan tak terduga, Sina harus menghadapi tuntutan sang bos miliarder yang menyebalkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Wah!" Kepala Sina mendongak ke atas lalu menunduk ke bawah. Di samping kakinya terdapat ember berisikan air pel yang telah berubah warna lebih gelap. Diam-diam Sina mendumal, mengomentari Abraham Prama yang ia anggap telah mengerjainya.

Sina memasukkan alat pelnya ke dalam ember. Ia menengok ke sekitar rumah yang sepi. Ibu tiri beserta adik-adiknya sedang tidak ada di rumah. Entah ke mana perginya. Yang Sina tebak, sepertinya mereka tengah menghamburkan uang gajian Sina. 

Malang sekali nasib Sina. Berharap punya Ibu baru karena ingin mendapat kasih sayang, nyatanya hidup Sina lebih sengsara. Bukannya meringankan beban, Sina justru malah menjadi pembantu di rumahnya sendiri.

Ini sama seperti cerita di negeri dongeng. Bedanya kalau di dongeng, si tokoh utama digambarkan sebagai anak orang kaya raya, dari keluarga ningrat, tapi kalau Sina memang dasarnya bukan dari keluarga berada, mendiang ayahnya dulu bekerja sebagai seorang supir pribadi. Ayah Sina bahkan harus bekerja lebih giat setelah menikah lagi.

Sina menarik gagang alat pel, lanjut melamun di saat rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Dalam bayangan Sina dulu, jika ayahnya menikah lagi, maka Sina dan ayahnya tidak akan kesepian. Ya memang sih, rumah jadi tidak sepi lagi. Setiap hari selalu ramai oleh omelan Mama tirinya. Kurang uang belanja lah, protes ke Sina karena banyak makan lah, disuruh ini dan itu, sudah dilakukan masih saja tetap salah. Sina jadi tidak bisa hidup dengan bebas. Kalau diberi pilihan, Sina lebih suka hidup berdua dengan ayahnya saja. Tidak mau punya Ibu tiri yang kejamnya mirip seperti di TV.

"Mana ada orang kaya mau sama rakyat jelata," gerutu Sina melanjutkan tugas rumahnya sebelum Ibu tiri dan adik-adiknya pulang. "Nikahin gue secara tiba-tiba lebih ngeri daripada gue dipecat karena kejadian waktu itu."

Atasan yang menikahi bawahannya itu cuma ada di cerita fiksi. Akan sangat mudah ditemukan di belakang sampul novel, drama Korea, Cina, dan sebangsanya. Namun, di dunia nyata tidak mungkin ada. Orang kaya akan mencari yang setara dengan mereka. Lagi pula kenapa harus memilih Sina di antara banyaknya perempuan di kantor untuk Abraham Prama nikahi?

Dari status sosial, jelas keluarga Sina tidak ada apa-apanya. Mendiang ayahnya bekerja sebagai supir. Ibu tirinya juga bukan wanita karir, tapi pandai menghabiskan uang anak tirinya. Lihat saja Sina, walau bekerja di perusahaan bagus, gaji besar, penampilannya ya begitu-begitu saja. Teman-teman Sina sudah bisa menenteng tas mahal, Sina masih setia memakai tas lamanya sampai mengelupas juga tetap dipakai.

"Tapi untungnya ngerjain gue dapat apa?" gumam Sina sambil terus mengepel lantai. "Balas dendam karena kemarin gue akuin jadi selingkuhan? Ya, masa caranya gitu, sih! Cupu banget! Gue pikir bakal dipecat!"

Sina menggaruk kulit kepalanya. Karena setelah percakapan kemarin, Abra menyuruhnya keluar tanpa mengatakan apa-apa. Tidak menjelaskan kenapa Abra ingin melamarnya.

Sepanjang ia keluar dari ruangan lelaki itu mirip orang linglung. Sampai Sina duduk di kursinya dengan tatapan kosong, Sina ditegur oleh teman di sebelahnya.

"Lo bikin masalah apa sampai dipanggil sama Pak Abra?" tanya teman Sina.

Sina meminta pendapat. Siapa tahu Sina memang salah mendengar. "Lo percaya Pak Abra mau ngelamar gue, nggak?"

Teman Sina memberikan reaksi seperti meletakkan punggung tangannya ke kening Sina. "Oh, panas. Pantas. Mending lo izin pulang lebih awal sebelum beneran gila, deh!"

Tuh, kan! Berarti memang Sina salah mendengar. Karena ia terlalu takut di depak dari perusahaan ia bekerja, Sina jadi berhalusinasi dinikahi atasannya sendiri.

Sina menggelengkan kepalanya mengusir percakapan terakhirnya bersama Abra. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sina meletakkan alat pelnya kembali, berjalan ke arah pintu sambil mengomel. Pasti itu Ibu tiri beserta adik-adiknya. Kenapa juga harus ketuk pintu? Tinggal masuk saja kan bisa.

"Lho! Pak Abra? Kok tiba-tiba ada di sini? Tahu alamat saya dari mana?"

Seperti hantu tidak diundang tapi datang tiba-tiba, Sina dikejutkan dengan kedatangan Abra di depan pintu rumahnya. Atasannya itu mengenakan pakaian lebih santai, namun bisa dipastikan harganya bisa berkali-kali lipat dari gajian satu bulan Sina.

"Saya nggak ngundang Bapak kemari, lho. Tolong kalau bercanda jangan keterlaluan, Pak. Kalau saya berharap Bapak mau nikahin saya beneran, gimana? Saya sudah capek hidup sama Ibu tiri dan adik-adik saya yang kelakuannya mirip setan semua!"

Abra mengangkat sebelah tangan dan melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya. "Saya nggak punya banyak waktu menjawab semua pertanyaan kamu. Sekarang kamu ikut saya, dan jangan banyak tanya."

"Mau ke mana, Pak? Saya perlu ganti baju, nggak? Bapak lihat, dong, saya pakai daster. Kalau orang-orang ngira saya pembantu yang sedang beruntung diajak belanja sama majikan gantengnya, gimana? Saya emang nggak cantik, Pak, nggak modis juga. Tapi paling nggak, saya pergi dalam keadaan rapi dan wangi."

Abra melirik penampilan Sina selama dua detik. "Rasanya nggak akan ada bedanya. Mau pakai daster atau nggak, kamu tetap Sina..."

"Karena saya emang Sina, Pak. Bahaya banget kalau saya mandi, saya berubah jadi Desi Ratnasari. Saya mau mandi sehari enam kali aja," celetuk Sina.

***

Dengan kejadian barusan membuat Sina semakin sadar. Jika atasan menikahi bawahannya cuma ada di drama saja. Di sebuah drama yang Sina tonton, tokoh utama yang digambarkan dari keluarga kaya raya akan mengubah penampilan si perempuan lebih cantik. Akan dibawa belanja ke tempat mahal, dipoles menggunakan riasan semahal harga ginjal kiri Sina. Tapi... ini berbanding terbalik sama Sina.

Jangan bayangkan Sina diajak membeli gaun ke butik paling mahal, diajak ke salon bagus, dibelikan ini dan itu agar penampilannya lebih enak dilihat. Karena pada nyatanya Sina dibawa ke rumah orang tua Abra—dengan dandanan ala kadarnya.

Definisi ala kadar yang sesungguhnya. Rambut yang dijepit ke atas, belum mandi, masih mengenakan daster dan sandal jepit seharga sepuluh ribu yang biasa ada di warung-warung. Sementara rumah orang tua Abra sepuluh kali lipat lebih besar dari rumah Sina.

Abra mengajak Sina masuk ke dalam dan disapa oleh banyaknya asisten rumah tangga di sana. Sina teringat kata-kata Abra kemarin. Di rumah Abra ada dua belas orang asisten rumah tangga. Tapi saat Sina sengaja menghitung asisten rumah tangga Abra, ternyata ada lebih dari satu lusin. Belum satpamnya, tukang kebunnya, kepala asisten rumah tangga juga ada, dan tidak termasuk dihitung.

Sepasang mata Sina menatap bergantian ke asisten rumah tangga di rumah Abra bergantian, lalu menatap penampilannya sendiri. Bahkan seluruh asisten rumah tangga di rumah Abra jauh lebih cantik, rapi, dan wangi.

Memaki atasan sendiri dengan sebutan berengsek, dosa tidak, sih?

"Pak...," Sina secara spontan menarik lengan kanan Abra.

Abra memutar badan dan menghadap ke arah Sina. "Ada apa? Kalau mau tanya bisa nanti. Orang tua saya sudah menunggu."

Sina semakin erat meremas lengan Abra. "Pak, penampilan saya sekarang mirip gelandangan kalau Bapak nggak sadar. Masa saya mau diajak ketemu orang tua Bapak? Bapak kalau gila jangan ajak-ajak orang."

"Justru itu yang saya harapkan," jawab Abra, terdengar ambigu.

"Pak, gimana sih?" Sina berkacak pinggang dengan satu tangan. "Tolong jangan nambah beban pikiran saya deh, Pak! Saya masih waras sampai hari ini walau disiksa batin sama Mama tiri bertahun-tahun sudah bagus, lho. Jangan sampai besok saya beneran gila karena berhadapan sama Bapak. Oke. Saya ngaku salah. Saya sudah mencoreng nama Bapak karena kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi beneran, daripada saya harus mempermalukan diri, apa lagi di hina-hina sama keluarga Bapak, padahal saya juga nggak minat nikah sama Bapak, lebih baik Bapak pecat saya aja! Saya nggak usah di hina, Pak. Saya orangnya tahu diri, kok."

Sina bicara panjang lebar kepada Abra. Dan cuma ditanggapi dengan tatapan tanpa ekspresi dari lelaki itu. Sina ternyata sangat berani dari dugaan Abra. Ia kira Sina akan menurut walau dibawa ke mana-mana, tapi nyatanya perempuan itu sangat banyak bicara, terus bertanya, sampai kepala Abra pusing.

"Abra..."

Sina mengatupkan bibir melihat wanita cantik menuruni anak tangga dengan gerakkan anggun. Sina sampai membulatkan bibir. Memang kalau punya banyak uang beda, ya. Di usia yang sudah tidak muda seperti wanita itu, kulit tangannya masih bagus, mulus, wajahnya mulus sekali. Berbeda dengan Sina yang cuma mengandalkan skincare yang harganya cuma ratusan ribu saja.

"Itu mamanya Bapak?" Sina secara perlahan bersembunyi di belakang punggung Abra.

"Iya," jawab Abra.

"Pak, saya pulang aja, deh. Aura mamanya Bapak udah kayak calon mertua di FTV azab yang tayang siang hari." Sina sesekali mengintip di balik lengan Abra. "Saya mending nikah sama yang biasa-biasa aja, Pak. Daripada nikah sama orang kaya, saya di hina setiap hari, bisa mati muda saya nanti, Pak. Saya apa sih, bisa makan ayam friedchiken sepuluh ribuan tiap hari juga senang, Pak. Saya mundur, Pak. Saya lebih baik dengar Pak Abra lagi prank saya, sumpah, Pak!"

Abra menoleh ke belakang, lantas menunduk balas menatap Sina yang terus mengoceh. "Kamu bisa diam aja, nggak? Saya pusing dengarnya. Lagian yang kamu katain tadi itu Mama saya. Berani banget kamu bilang Mama saya auranya mirip calon mertua di FTV azab!"

Sina menggigit bagian dalam pipinya. Aduh. Definisi menambah masalah pada Abraham Prama ini namanya!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!
8.3
Hanif, pimpinan INANTA Group, bukanlah CEO angkuh pada umumnya. Ia adalah sosok religius yang mengutamakan ibadah di tengah kesuksesan. Namun, hidupnya berubah saat putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ikatan kuat antara Aisyah dan Aida membuat pertunangan Hanif dengan Soraya terancam gagal. Di antara tanggung jawab dan keinginan sang anak, ke manakah hati Hanif akhirnya akan memilih berlabuh?
Sampul Novel Ayahku, Penjahat Terbesarku
8.1
Zayden Alaric Veyra adalah pengusaha sukses sekaligus pemimpin organisasi Raven yang ditakuti. Meski dikelilingi wanita, hatinya tetap hampa hingga ia terpikat oleh Kaela Seraphine di sebuah pesta. Namun, Kaela bukanlah gadis biasa; ia memiliki misi rahasia untuk memburu sosok Raven. Saat takdir mempertemukan mereka dalam misi berbahaya, ketertarikan pun muncul. Kini mereka terjebak antara perasaan cinta yang tumbuh atau tuntutan dunia gelap untuk saling menghabisi.
Sampul Novel Budak Seksi Tuan Cedric
8.2
Falisha Marbella, mahasiswi berusia 19 tahun, terjebak dalam tragedi saat kekasihnya, Ben Andrigo, meninggal dunia di sisinya. Ayah Ben, Cedric Andrigo, seorang miliarder kejam yang menguasai bisnis ilegal, menyalahkan Falisha atas kematian putranya. Didorong dendam membara, pria arogan ini bersumpah menyiksa hidup Falisha. Cedric menjadikan Falisha budak pemuas nafsu demi membalas dendam. Mampukah Falisha lepas dari jerat penderitaan dan kekejaman Cedric?
Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Tasya memberanikan diri melangkahkan kaki ke kantor pusat Adityaswara dengan harapan besar. Sambil menahan debar di dada, ia segera menghampiri meja resepsionis untuk mencari tahu ketersediaan lowongan pekerjaan di sana. Ia sangat berharap keberuntungan berpihak padanya sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan bergengsi tersebut. Langkah awal ini menjadi penentu masa depannya dalam mengejar karir di bawah pimpinan CEO perusahaan yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Dimanjakan suami kontrak
9.1
Terikat trauma pengkhianatan yang sama, aku dan seorang duda kaya sepakat menjalani pernikahan kontrak tanpa cinta. Rencanaku sederhana: melahirkan, menerima bayaran, lalu pergi demi masa depan adikku. Namun, takdir menyeretku ke pusaran konflik para penguasa. Saat aku bersikeras bahwa aku bukan siapa-siapa baginya, dia justru mengikatku dalam pernikahan sungguhan. Kini, di tengah ancaman yang mengincar, sang suami kontrak justru menjadi pelindung utamaku.
Sampul Novel Love my adoptive father
7.9
Alexander Lux mengadopsi Bella Laurent dari panti asuhan sejak usia tiga belas tahun untuk mengobati luka hatinya. Meski awalnya Alex berjanji tak ingin menikah lagi, kebersamaan mereka justru menumbuhkan benih cinta terlarang yang sangat mendalam. Kehadiran Bella membawa warna baru bagi Alex hingga hubungan mereka menjadi sangat intim. Namun, romansa ini terancam saat orang tua Alex memaksanya dijodohkan dan sang mantan kekasih kembali muncul mengusik mereka.