APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mysterious CEO

Mysterious CEO

Dean Bernardus tumbuh tanpa ayah hingga ibunya menikah lagi. Namun, ayah tirinya justru merampas harta mereka dan mengusir Dean. Berkat bantuan wanita misterius, Dean bangkit menjadi CEO sukses. Kini ia mendekati Kensky Revina Oxley untuk membalas dendam, karena Kensky adalah putri dari pria yang menghancurkan hidupnya. Dean memaksa Kensky menjadi kekasihnya meski gadis itu telah dijodohkan. Akankah cinta tulus tumbuh atau hanya sekadar alat pembalasan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kensky terpaksa memutar jalur. Tidak punya cukup waktu untuk kembali ke rumahnya lagi dan berganti pakaian, ia akhirnya berjalan menuju apartemen Tanisa yang kebetulan tidak jauh dari kejadian itu.

Ting! Tong!

"Semoga saja Tanisa ada di dalam," lirih Kensky. Ia hendak menangis melihat kondisinya yang begitu kotor. Seandainya pagi ini tidak ada wawancara, mungkin ia tidak akan sepanik ini. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi staf di perusahan ternama itu.

Ting! Tong!

Kensky menekan bel itu lagi dan tidak butuh waktu lama, sosok dari dalam pun muncul.

Clek!

"Kensky!" Tanisa terkejut melihat sahabatnya yang kini terlihat kotor dan basah, "Apa yang terjadi denganmu?" Meski perihatin akibat apa yang menimpa Kensky, tapi Tanisa tidak bisa menahan tawanya karena melihat kondisi gadis itu.

Dengan wajah malas Kensky menjawab, "Maukah kau meminjamkanku pakaian?"

Tawa Tanisa meledak. Dia tertawa puas kemudian mempersilahkan Kensky untuk masuk. Dia berjalan mendahului Kensky untuk mengambilkan handuk. "Bersihkan tubuhmu di kamar mandi, biar aku yang akan menyiapkan pakaian untukmu."

Kensky menurut. Gadis yang bertubuh mungil dan berkulit putih itu berjalan menuju kamar mandi. Tanisa yang ternyata adalah sahabat dekatnya itu memiliki rambut hitam dan berkulit eksotis. Ia tidak kuasa menahan tawa melihat tubuh Kensky dan rambut panjang indah yang biasanya rapi kini lemas dan kotor.

Kensky pun keluar dari kamar mandi. Bagian tubuhnya yang tidak ditutupi handuk itu kini terlihat bercahaya. Rambutnya yang panjang dan kotor tadi pun sudah bersih, wangi dan terbungkus handuk berwarna putih.

"Apa yang membuatmu seperti ini? Apakah percakapan kita di telepon begitu serius, sehingga kau tidak melihat jalan dan jatuh ke parit?" tanya Tanisa. Lagi-lagi ia tak bisa menahan tawa setiap kali mengingat penampilan sahabatnya saat pertama kali muncul di depan pintu.

Sambil mengeringkan diri dan mulai memakai pakaian dalam yang disediakan Tanisa Kensky mulai bercerita, "Saat aku sedang berbicara denganmu di telepon tadi, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju melewati dan melindas genangan air yang ada di sepanjang jalan. Akibat kejadian itu, tubuhku basah dan handphone-ku rusak."

Tanisa tertawa. "Ya, Tuhan, kamu pasti sangat malu," ekspresinya berubah, "Tapi kenapa ponselmu bisa rusak?"

Kensky mulai mengancingkan kemeja putih yang berlengan panjang. "Waktu bicara tadi aku menempelkan ponsel ke telinga kiriku, sedangkan air itu menyembur dari arah kanan. Kau tahu, air itu bahkan lolos masuk ke dalam mulutku, Tanisa."

Tanisa tertawa lagi. "Ya, Tuhan, Kensky ... harimu ini benar-benar sangat buruk." Gadis itu tertawa terbahak-bahak.

"Entalah, tapi sebaiknya kamu tidak mengatakan bahwa hari ini adalah hari buruk. Jika hari ini buruk, mungkin aku tidak akan ada jadwal wawancara hari ini."

Tawa Tanisa perlahan berhenti. Ia menatap Kensky yang sudah mengenakan kemeja putih polos dan rok hitam ketat yang panjangnya di atas lutut. Mereka memang memiliki tubuh yang sama. Ukuran underware pun sama, hanya saja Tanisa sering memakai bra yang lebih besar dari aslinya, sehingga dadanya terlihat lebih berisi. Dan saat mata Tanisa menatap dada Kensky, ia nyaris terbahak. "Pakai silikon, ya?"

Kensky melemparkan handuk setengah basah itu ke wajah Tanisa. "Silikon, memangnya kamu yang terobsesi ingin memiliki dada besar. Seandainya tidak ada wawancara hari ini, aku tidak akan mau memakai dalamanmu yang besar ini," Kensky berkata kemudian berjalan menuju mereka rias.

Tanisa pun tertawa sambil terus menatap gadis itu. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya, apa mobilnya tidak berhenti? Apakah pemilik mobil itu tidak bertanggung jawab?"

Kensky menceritakan pertengkaran antara dirinya dan Dean sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Calon suami?" tanya Tanisa dengan nada heran, "Kenapa dia bilang begitu?"

Kensky mengangkat bahu. "Aku sendiri tidak tahu, tapi seperti itulah yang dia katakan. Dia bahkan menyebut nama lengkap ayahku dengan benar. Aneh, bukan?"

Tanisa berdiri di depan Kensky. "Aneh, tapi kenapa tebakannya bisa benar, ya? Atau mungkin benar apa yang dia katakan, bahwa ayahmu telah menjodohkan kalian?"

Kensky mengambil sikat rambut dan mulai menyisir rambutnya yang setengah basah. "Entahlah, tapi kurasa dia hanya mengada-ada. Jika benar aku telah dijodohkan, ayahku pasti sudah mengatakan itu sejak lama. Dia juga pasti akan melarangku melakukan ini dan itu, tapi kenyataannya tidak. Ayah bahkan tidak pernah membicarakan masalah itu denganku."

"Iya, tapi kalau dipikir-pikir tidak mungkin dia bisa menebak namamu dengan lengkap dan benar. Begitu juga saat dia menyebut nama ayahmu dengan lengkap dan benar. Aku rasa dia memang sudah mengenal kalian, Sky."

"Sudahlah Tan, aku tidak mau memikirkannya. Biarkan ayahku yang mengurusnya. Aku tidak ingin berkencan atau menikah muda. Lelaki itu memang tampan, bahkan wanita manapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta, termasuk aku. Tapi aku tidak ingin mengambil pusing, aku punya tujuan lain," tatapan Kensky kini mengarah pada Tanisa. Ia menatap sahabatnya itu dari cermin lalu berkata, "Yang aku inginkan sekarang adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Aku ingin menghasilkan uang sendiri, agar nanti aku bisa keluar dari rumah itu dan menyewa apartemen."

"Kau tidak perlu keluar dari sana, Kensky. Rumah itu milik almarhumah ibumu."

"Benar, tapi aku bagaikan di neraka jika harus bertahan di sana. Jadi, lebih baik aku keluar demi mencari ketenanganku sendiri."

***

Dengan wajah cantik dan make-up tipis yang natural, wanita yang usianya sebentar lagi akan mencapai dua puluh tiga tahun itu duduk di ruang tunggu. Ruangan yang tepatnya di lantai sepuluh Kitten Group. Rambutnya sudah disanggul sedemikian rupa agar terlihat mempesona. Lehernya yang putih dan panjang membuat gadis yang ternyata adalah Kensky itu terlihat cantik dan anggun.

Namun sayangnya pikiran yang selalu menghantuinya itu membuat Kensky terlihat jelas bahwa dirinya sedang gelisah. "Ya, Tuhan, bagaimana aku bisa mendapatkan handphone baru? Semoga saja aku bisa diterima di kantor ini, agar nanti bisa membeli handphone baru," katanya dalam hati.

Sejak ibunya masih hidup, Kensky tidak pernah meminta uang kepada Eduardus untuk membeli segala keperluannya. Hal itu dikarenakan sang ibu selalu menyediakan semua kebutuhan dan keperluan Kensky baik dari hal kecil maupun yang sebesar apapun. Kensky sangat berbeda dari anak-anak perempuan pada umumnya, yang lebih dekat dengan orang tua laki-laki daripada orang tua perempuan. Kensky sejak lahir memang sudah dekat dengan ibunya daripada ayahnya. Namun sejak ibunya meninggal, mau tidak mau Kensky harus menjadi pengemis pada ayahnya sendiri untuk membiayai kebutuhannya. Ia bahkan rela diperlakukan hardik oleh ayahnya demi mendapatkan uang jajan. Lebih sangat disayangkan lagi, sejak memiliki ibu tiri yang serakah, uang jajan yang diberikan ayahnya selalu dikorting oleh wanita itu. Kensky kesal dan ingin memprotes, tapi ayahnya justru membela istri barunya itu dan mengancam tidak memberikan uang jajan lagi kalau menjelekan ibu tirinya itu. Dengan kejadian itu Kensky memutuskan untuk hidup hemat dan menabung dua puluh lima persen dari sebagian uang yang ayahnya berikan, karena hanya dengan cara itulah ia bisa memenuhi keperluannya sendiri.

"Kensky, sedang apa kau di sini?"

Suara dari arah belakang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan menatap sosok si pemilik suara. "Soraya?" ia terkejut, "Kau sendiri sedang apa di sini?"

Soraya adalah saudara tiri Kensky. Dia memiliki rambut panjang dan berwarna cokelat. Dia juga memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Kensky dan usia mereka hanya berbeda tiga tahun. Namun, orang-orang mengira usia mereka sangat jauh. Soraya sering merias wajahnya setebal mungkin, sehingga dia terlihat lebih tua jauh daripada Kensky.

Karena penasaran kenapa Kensky ada di kantor itu, Soraya segera mengambil posisi tepat di sampingnya lalu berkata, "Aku ada jadwal wawancara. Kau sendiri sedang apa di sini, hah?"

"Aku juga ada wawancara," balasnya santai.

Soraya terkejut. "Tidak mungkin! Siapa yang menyuruhmu untuk bekerja di sini? Kau itu tidak pantas bekerja di sini, Kensky. Dan sebaiknya kau pulang saja, aku yakin kau pasti tidak akan diterima di perusahaan ini."

Kensky pun dengan santai menjawab perkataan Soraya, "Tidak pantas? Kalau tidak pantas, lantas kenapa mereka menerima pengajuanku dan menyuruhku untuk hadir di sini pagi ini?"

Soraya tertawa seakan mengejek. "Mungkin mereka pikir kau adalah aku. Tapi tidak apa-apa, kau ikuti saja apa yang mereka katakan. Tapi kita lihat saja nanti, kau pasti tidak akan diterima."

"Nona Oxley?" Suara wanita dari arah pintu membuat Kensky dan Soraya sama-sama berdiri.

"Iya, saya sendiri!" Mereka berdua sama-sama menjawab.

Wanita yang merupakan sekertaris Ceo di Kitten Group itu menatap bingung. Dilihatnya lagi berkas yang ada di tangannya itu lalu berkata, "Maaf, ternyata kalian bernama belakang yang sama."

Soraya menyeringai licik, sedangkan Kensky dengan senyum manis menatap sekertaris itu.

"Pemilik nama Kensky Revina Oxley di antara kalian siapa?" katanya sambil menatap Kensky dan Soraya secara bergantian.

"Saya!" Dengan cepat Kensky mengangkat tangan.

"Baik. Ayo, ikut saya."

Soraya menatap kesal karena Kensky mendapat giliran lebih dulu.

Dengan tersenyum puas sambil membetulkan dandannya Kensky pun berkata pada Soraya dengan nada mengejek, "Aku duluan, ya."

Sekertaris itu pun membawa Kensky masuk ke ruangan Ceo, sementara Soraya menatap tajam dan langsung meraih ponsel untuk menghubungi seseorang. Dengan kesal ia kembali duduk dan menunggu panggilannya terhubung.

"Halo?" sapanya begitu panggilan terhubung, "Mama, ternyata Kensky hari ini ikut wawancara juga. Namanya bahkan lebih dulu dipanggil daripada aku."

Suara di balik telepon itu terdengar kaget. "Masa, sih? Memangnya dia mengajukan permohonan di perusahan itu juga?"

"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas jika dia berada di sini, itu berarti dia telah mengajukan permohonan. Mama tidak berniat menikahkan dia dengan Dean, kan?"

Bersambung___

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Sampul Novel Cinta, Kebohongan, dan Anjing yang Mematikan
9.7
Dunia wanita ini runtuh saat ibunya sekarat akibat serangan anjing milik Helena. Bukannya peduli, Bara sang tunangan justru membela hewan itu dan pergi demi urusan bisnis. Namun, saat ibunya wafat, terungkap bahwa Bara berbohong. Alih-alih ke Singapura, ia justru berpesta mewah di Maladewa bersama Helena. Di depan pusara sang ibu, ia menyadari bahwa cinta dan janji miliarder itu hanyalah kepalsuan belaka. Pengkhianatan kejam ini mengakhiri segalanya.
Sampul Novel Derita Seorang Gadis Desa
9.4
Alya, gadis yatim piatu lulusan SMP, nekat merantau ke kota demi membiayai neneknya yang sakit. Nasib membawanya bekerja di kediaman Ibu Ratna yang baik hati. Namun, hidupnya hancur saat Arka, putra majikannya, pulang dan merenggut kehormatannya secara paksa. Bukannya bertanggung jawab, Arka justru menghina dan mengusir Alya dengan kejam. Di tengah luka batin yang mendalam, Alya harus berjuang bangkit menghadapi kenyataan pahit demi kelangsungan hidupnya.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Abraham
8.5
Demi memenuhi wasiat Mikhaela yang sakit parah, Abraham Wijaya terpaksa meminta Jihan, asisten rumah tangganya, untuk menjadi istri kedua. Meski sempat menolak, Jihan akhirnya setuju demi membalas budi. Namun, situasi menjadi rumit saat Jihan hamil dan sikap Abraham mulai berubah. Rasa cemburu membakar hati Mikhaela hingga ia mengusir Jihan. Kini, Jihan terjebak dalam dilema antara pergi membawa kandungannya atau bertahan demi cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Pernikahan Luka
8.8
Aji Pangestu adalah pengusaha sukses idaman yang akhirnya menikahi Dewi Sekar Sari. Namun, kebahagiaan mereka hancur seketika saat Putri Nagita hadir sebagai orang ketiga. Ironisnya, setelah Aji menikahi Putri, ia justru dikhianati karena istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Bagaskara. Di sisi lain, Dewi bertemu kembali dengan Andika, pria dari masa lalunya. Benih cinta lama di antara mereka pun mulai bersemi kembali di tengah luka yang ada.