APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nafkah Sulit Selingkuh Elit

Nafkah Sulit Selingkuh Elit

Tias teringat pesan gurunya tentang pentingnya kemandirian finansial bagi istri agar tidak bergantung pada suami. Nasihat itu terbukti nyata saat ia menemukan rahasia kelam dalam pernikahannya. Di balik nafkah pas-pasan yang diberikan, sang suami justru menjalin hubungan gelap dengan wanita lain. Tak hanya berselingkuh, sebuah tindakan fatal yang melampaui batas logika akhirnya memicu amarah besar Tias. Mampukah ia bertahan menghadapi pengkhianatan ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tias adalah tipe wanita yang tingkat kesabarannya memang luar biasa. Ia tidak pernah marah meski Azam secara tidak langsung mengabaikan tanggung jawab dan juga menyakiti hatinya dengan tidak mau peduli bagaimana perasaan Tias tinggal berdekatan dengan Ibu mertua yang ucapannya seringkali menyakitkan bagi telinga dan hatinya.

"Sabar aja, Dik. Ibu udah tua. Yang namanya orang tua, ya, begitu. Ibu nggak ada niatan untuk seperti itu, memang tata bahasanya aja yang kurang pas. Jangan di ambil hati dan dipikirkan, ya. Ditambah lagi sabarnya. Anak Ibu yang deket, kan, cuman aku."

Itu adalah jawaban dari Azam saat Tias mengadu soal ibunya yang selalu saja memandang dirinya sebelah mata.

Dari awal pernikahan memang Tias sudah di anak tirikan oleh ibu mertuanya itu, karena beliau merasa bahwa ia sudah merebut anak sulungnya darinya. Azam memang mempunyai tiga saudara, tapi hanya ia yang terlahir sebagai laki-laki dan menjadi tulang punggung ibunya selama beberapa tahun terakhir setelah kepergian sang Ayah. Setelah kepergian suaminya itulah Bu Ningsih selaku ibu kandung dari Azam semakin menunjukkan dan semakin kentara bahwa beliau tidak suka dengan dirinya. Entah apa alasan pastinya Tias tak begitu paham. Yang ia tahu, ibunya overprotective pada anak sulungnya karena merasa takut beliau di nomor duakan. Padahal kenyataan yang terjadi adalah selalu Tias yang di nomor duakan oleh Azam.

Dengan ditemani rengekan Hanifa yang terdengar beberapa kali dan berhenti dengan sendirinya, Tias berusaha semaksimal mungkin untuk cepat menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Bangun sebelum subuh nyatanya tak juga membuat pekerjaannya lebih cepat selesai.

"Tias!" Sebuah teriakan yang nyaris setiap hari ia dengar membuat wanita 35 tahun itu dengan sengaja tak menyahut teriakannya.

"Yas, ada gula nggak? Ibu minta dulu setengah kilo, ya. Sama sekalian ada bumbu dapur Ibu yang habis. Minta sedikit." Sekali lagi Bu Ningsih tidak mencari terlebih dahulu keberadaan menantunya itu di mana. Beliau langsung menuju dapur dan berteriak meminta sesuatu.

Momen seperti itu tidak hanya terjadi satu atau dua kali dalam pernikahan Tias selama sembilan tahun ini, tapi sudah ratusan kali bahkan mungkin tidak terhitung lagi. Ia diam saja tidak menyahuti Ibu mertuanya bukan berarti mencoba untuk bersikap kurang ajar terhadapnya, tapi rasanya ia sudah lelah jika harus terus merespon ibunya yang sudah ia ketahui maksud dari kedatangannya ke rumahnya.

'Untuk apa izin minta ini itu jika mengambil sesuatu tanpa persetujuan dari pemiliknya. Kalaupun aku tidak memberikan izin, Ibu juga tetap akan mengambilnya, kan? Bahkan sebelum mengambilnya, Ibu masih sempat mencaci maki aku. Entah bagaimana aku memanggil wanita yang melahirkan suamiku itu. Dari semua sifat yang ada, sama sekali tidak ada baiknya.'

Tias menggerutu dalam hati seraya menjemur pakaian yang belum selesai ia jemur karena terhalang oleh rengekan Hanifa. Di saat dirinya selesai dan berbalik ke dalam rumah, ia dikejutkan dengan sosok Bu Ningsih yang berada di tengah pintu dengan membawa gula beserta bumbu dapur yang hanya direspon oleh hembusan napas kasar.

"Tias, kamu ngapain aja sih kerjaannya? Beresin rumah lah. Berantakan sekali ini, masih pagi udah berantakan nggak karuan," ujar Bu Ningsih seolah kesal.

"Tadi sudah aku beresin, Bu. Yang namanya punya anak kecil, ya, begitu. Ibu, kan, juga pernah ngurus anak kecil."

"Jawab aja kalau di kasih tahu. Makanya, bangunnya jangan siang-siang. Lagian punya anak banyak-banyak. Kayak orang kaya yang bisa bayar baby sitter aja," gerutu Bu Ningsih berlalu dari sana.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair
8.8
Kehidupan pernikahan yang terasa hambar dan dingin membuatku terjebak dalam nostalgia masa lalu. Kenangan manis bersama Hany, sang mantan kekasih, terus membayangi setiap sudut hari-hariku hingga menjadi beban bagi hubungan saat ini. Bayang-bayang kebahagiaan lama itu kini mengancam keutuhan rumah tangga yang sedang dijalani. Akankah pernikahan ini mampu bertahan di tengah godaan memori yang tak kunjung sirna, ataukah semuanya akan berakhir hancur?
Sampul Novel Baby CEO: Kehamilan yang Tak Diinginkan
8.4
Evalia terjebak dalam kehamilan tak terduga setelah menolak cinta Hanson Dirgantara. Meski Hans bersikeras ingin bertanggung jawab demi calon bayinya, Eva yang membenci kelicikan pria itu tetap menolak menikah. Di tengah ambisi Hans yang menggunakan kekayaan keluarganya untuk menaklukkan Eva, gadis yatim piatu ini justru berusaha menggugurkan kandungannya. Mampukah Eva lepas dari obsesi Hans dan meraih mimpinya menjadi dokter, atau ia akan selamanya terkendali?
Sampul Novel Calon Istriku Gadis Matre
8.8
Revan dan Nayla telah lama memadu kasih dan siap melangkah ke pelaminan dengan restu penuh orang tua. Namun, pengkhianatan Nayla menghancurkan ketulusan Revan hingga ia nekat membatalkan rencana pernikahan mereka. Di tengah keputusan pahit itu, Nayla menangis tersedu dan memohon agar Revan tidak pergi. Ia mengaku tengah mengandung darah daging Revan, berharap janin di rahimnya bisa menjadi alasan bagi sang kekasih untuk tetap menikahinya.
Sampul Novel Cinta Belum Berakhir
9.3
Lima tahun berlalu sejak Kanaya pergi tanpa pamit demi pernikahan pilihan orang tua, namun takdir justru mempertemukan kembali dirinya dengan Haitsam. Kini, Haitsam terjebak dalam tugas sulit membimbing Kanaya mengelola perusahaan milik ayah mertua wanita itu. Meski cintanya belum padam, Haitsam harus menekan perasaannya demi menjaga amanah sang atasan. Akankah rahasia masa lalu mereka terbongkar di hadapan suami Kanaya? Inilah dilema hati yang penuh risiko.
Sampul Novel HASRAT PENUH LUKA
9.7
Dominic mengejar sosok yang menyerupai Stella di tengah guyuran hujan deras. Sambil berlutut penuh penyesalan, ia memohon ampunan atas dosa masa lalunya. Namun, luka hati Stella dari kejadian tiga tahun silam telah membeku dan tertutup kegelapan. Dengan sikap yang amat dingin, Stella menegaskan bahwa permohonan maaf Dominic tidak ada artinya. Ia menyatakan bahwa hanya kematian pria itu yang mampu menebus segala penderitaan yang telah ia alami selama ini.
Sampul Novel KETUA OSIS
8.6
Budaya diskriminasi terhadap siswa beasiswa di sekolah elit Taruna Bangsa membuat Eva Nur Shafaah, sang ketua OSIS, kehilangan harga diri di mata murid lain. Hidupnya kian pelik saat ia berselisih dengan Artanabil Hibrizi, pemimpin geng Kompeni sekaligus cucu pemilik sekolah yang sangat berkuasa. Arta memaksa Eva menjadi babunya tanpa perlawanan. Di tengah hubungan toxic ini, ketulusan Eva diuji oleh sikap brengsek Arta dalam dinamika remaja yang keras.