APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelakor Jalur Cinta

Pelakor Jalur Cinta

Alena nekat mengambil peran sebagai perebut lelaki orang demi memenangkan hati Andre. Namun, saat ia terjebak dalam misi tersebut, sosok Angga muncul dan justru berusaha keras untuk mengejar cintanya. Alena kini berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap mengejar Andre atau membuka hati bagi Angga yang tulus mencintainya? Simak kelanjutan kisah asmara yang penuh dilema dan emosi ini dalam pencarian akhir cinta sejati Alena.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Iya, wanita malam, alias wanita panggilan, Len." Penjelasan Vivin sukses membuat Alena tercengang.

Alena mencoba menatap Vivin makin dalam. Ia nyaris tak percaya dengan tawaran gila yang ditawarkan oleh wanita itu padanya. Pikir Alena, Vivin ini adalah orang yang baik. Namun, kenyataan di depannya bukanlah seperti itu.

"Maaf, saya bukan tipikal orang yang rela menjual tubuh hanya demi uang. Sekarang saya tanya, di mana tante saya?!" desak Alena.

Vivin tersenyum kecut. Ia sudah yakin kalau Alena akan menolak kerjasamanya mentah-mentah.

"Tantemu sekarang mungkin sedang menikmati uang hasil jual kamu, Lena."

Jawaban Vivin kali ini sama sekali tidak Alena mengerti. Namun, gadis itu memiliki firasat kalau tantenya telah melakukan kesalahan fatal yang akan membuat dirinya terjebak dalam situasi bahaya seperti sekarang ini.

"Hasil jual saya? Maksudnya ...?"

"Citra menjual kamu ke aku seharga lima milyar. Jadi mulai sekarang, kamu sepenuhnya punyaku. Kamu harus kerja jadi wanita panggilan seperti yang aku katakan tadi."

Alena tidak punya bahan kalimat lagi untuk menanggapi ucapan Vivin. Ia sangat shock dengan hal gila yang telah dilakukan Citra tanpa sepengetahuannya. Bisa-bisanya adik ayahnya itu tega menjual dirinya.

"Saya nggak percaya dengan omong kosong kamu. Tante Citra nggak mungkin menjual keponakannya sendiri!" Alena tiba-tiba berdiri dan berbalik badan. Ia berencana untuk melarikan diri dari tempat ini. Namun, nyalinya langsung menciut ketika di depannya sudah ada dua bodyguard Vivin yang menghalangi jalannya.

"Jangan berani kabur. Nanti ujung-ujungnya kamu dapat hukuman, loh. Hukumannya aku disekap di gudang yang gelap dan pengap. Mau kamu?"

Alena tidak bisa berkutik. Ia masih senantiasa berdiri, menunduk sambil menyembunyikan wajah yang mulai basah karena refleks air matanya mengalir begitu saja. Alena merasa benar-benar kalut.

Ia sama sekali tidak sudi menjadi seorang wanita panggilan. Pun kalau berusaha kabur, ia takut keselamatannya akan terancam. Apalagi jika harus dihukum dengan disekap di sebuah gudang yang gelap dan pengap. Alena tidak yakin ia mampu menjalani hukuman itu karena dirinya takut berada di ruangan gelap.

Gadis itu tiba-tiba saja duduk bersimpuh di hadapan Vivin. Ia tidak punya pilihan lain kali ini. Ia mantapkan hati untuk memohon pada Vivin agar bisa dibebaskan.

"Tante, tolong bebaskan saya. Tolong biarkan saya keluar dari sini, Tan. Saya janji saya akan kembalikan uang lima milyar itu, tapi tolong beri saya waktu untuk mengumpulkan uang itu, Tante."

Vivin refleks menertawakan permohonan yang dilontarkan oleh gadis lugu di depannya. Ia tidak yakin kalau Alena mampu mengembalikan uang lima milyar yang telah ia berikan kepada Citra dalam waktu dekat.

"Kalau aku minta uang lima milyar itu dikembalikan sekarang, apa kamu sanggup?" tantang Vivin.

Alena merasa dirinya sedang diremehkan. Vivin sudah tahu dengan pekerjaan Alena yang hanya pegawai toko dan nyambi jadi penyanyi cafe. Mana mungkin Alena punya uang lima milyar di tabungannya. Gajiannya setiap bulan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga Citra.

"Tante, saya mohon tolong kasih saya waktu, Tante ... tolong jangan jadikan saya sebagai wanita panggilan, saya mohon ...." Alena kembali memohon sambil menangis. Dalam situasi genting begini, ia tiba-tiba teringat dengan seseorang. Seseorang yang menjadi harapan terakhir Alena. Pun Alena sangat berharap kalau orang tersebut sudi membantu masalahnya.

Gadis itu mulai meraba-raba saku celananya. Ia baru sadar kalau lupa tidak membawa ponsel. Padahal niatnya Alena akan menghubungi orang yang kiranya bisa membebaskan dirinya dari sini.

"Tante, boleh saya pinjam handphone-nya sebentar? Saya akan menghubungi orang yang bisa membebaskan saya sekarang. Saya jamin orang tersebut bersedia mengembalikan uang lima milyar milik Tante."

Alena berusaha meyakinkan Vivin kalau ada orang yang dengan relanya mau menyerahkan uang lima milyar demi menebus dirinya. Padahal, Alena sendiri juga tidak seratus persen yakin kalau orang yang dimaksud sudi mengeluarkan uang sebanyak itu untuk dirinya.

***

Silvy baru saja meletakkan Shireen ke dalam box bayi. Kondisi bayi mungil itu sudah terlelap setelah sejak tadi ia rewel di gendongan ibunya.

"Akhirnya kamu tidur juga, Nak," ucap Silvy lega karena saat ini dirinya bisa santai sejenak.

Silvy tidak memakai jasa babysitter untuk membantu mengasuh bayinya. Dikarenakan Sasti--yang merupakan ibu mertuanya--tidak begitu setuju kalau sang cucu diasuh oleh orang lain.

Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu bergerak menuju meja rias kemudian melepas jepitan rambutnya. Silvy lalu duduk di kursi meja rias tersebut dan mulai menyisir rambut panjangnya itu.

Setelah melahirkan, ia terkadang tidak sempat untuk merawat diri. Semua waktunya telah tersita untuk mengurus Shireen dan juga suaminya. Bicara soal suami, Silvy mulai mencari-cari keberadaan Andre yang belum juga datang ke kamar.

Silvy berniat menyusul Andre yang ia pikir masih berada di ruang kerja. Namun, baru juga berdiri, ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Silvy sangat yakin kalau itu suaminya yang datang.

"Hai, Ndre," sapa Silvy sambil bergerak mendekati Andre.

Lelaki dengan kaus hitam itu hanya menatap Silvy sekilas. Menampilkan wajah datar, tanpa ada niat ingin membalas sapaan istrinya.

Andre bergerak menuju ranjang dan mulai berbaring. Silvy putuskan untuk menyusul sang suami, dan ikut berbaring di sampingnya.

"Shireen udah tidur. Hari ini dia rewel banget, loh. Mungkin pengen digendong sama papanya." Silvy mulai bercerita tentang kerewelan bayi mungilnya hari ini pada sang suami.

"Papanya udah ditimbun tanah. Mau tuh bayi nangis sampai kejang pun, papanya nggak akan bangkit lagi, kan?"

Perkataan Andre barusan sukses membuat Silvy marah dan tersinggung. Wanita itu beranjak bangun kemudian menatap Andre tak terbaca. Kata-kata suaminya itu mengingatkan Silvy pada luka masa lalu.

"Papanya Shireen yang sekarang itu kamu, Ndre. Kenapa kamu masih belum bisa menerima Shireen sebagai anak kamu? Meskipun bukan ayah kandungnya, tapi sekarang kamu suami aku. Jadi otomatis anakku ya anakmu juga, dong."

Kini giliran Andre yang ikut bangun dan masih saja menampilkan wajah datar.

"Aku udah berusaha untuk menganggap dia sebagai anak, tapi kenyataannya sulit. Ya, jika di depan Mama Papa, mungkin aku wajib berperilaku baik sama kamu dan juga Shireen. Itu tuntutan. Tapi kalau di belakang mereka, aku nggak menganggap kalian siapa-siapa lagi."

Perlahan Silvy memejamkan mata. Menikmati air mata itu mengalir membasahi kedua pipinya. Bertengkar seperti ini sudah bukan hal baru lagi bagi mereka. Silvy paham, Andre tidak mencintainya. Pria itu tidak terima dengan pernikahan ini. Namun, Silvy hanya ingin Andre menganggap Shireen sebagai anak. Itu saja yang Silvy harapkan dari seorang Andre untuk saat ini.

"Aku nggak pernah memaksa kamu untuk menerima aku atau bahkan membalas perasaanku sekarang. Aku tau itu sangat sulit buat kamu, Ndre. Aku cuma minta,  kamu menerima Shireen. Menganggap dia sebagai anak. Menyayangi dia selayaknya seorang ayah pada anaknya. Apa itu salah, Ndre?"

Andre tidak tahu permintaan Silvy yang satu ini salah atau benar. Ia hanya tidak mau menjadi ayah dari seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri.

Ponsel milik Andre tiba-tiba berdering. Andre segera menyambar benda pipih berwarna silver itu dari meja nakas.

Di layar ponsel, tertera nomor asing yang tengah menghubungi dirinya. Meski agak ragu mau mengangkatnya atau tidak, akhirnya Andre putuskan untuk menerima panggilan telepon tersebut.

"Halo."

"Ha-halo, Mas."

Kening pria berusia tiga puluh dua tahun itu berkerut. Ia merasa tak asing dengan suara si penelepon.

"Iya?"

"Mas, ini aku Alena, Mas. A-aku mau minta tolong sama Mas." Suara Alena di jauh sana terdengar panik. Hal ini membuat Andre menjadi cemas.

Andre bergerak turun dari tempat tidur, kemudian pergi menuju balkon kamar karena ia tidak mau Silvy sampai mendengar pembicaraannya dengan Alena.

"Kamu kenapa, Len? Mau minta tolong apa?"

"Aku diculik, Mas. Aku diculik sama temannya tante aku. Tiba-tiba aku mau dijadikan wanita panggilan, Mas, sama temannya tante aku itu. Dia minta tebusan lima milyar, baru setelah itu dia mau bebasin aku. Tolong aku, Mas. Tolong bebaskan aku dari sini."

Andre refleks memijit pelipisnya yang kini mendadak terasa pening. Bisa-bisanya teman Citra itu seenaknya ingin menjadikan Alena sebagai wanita panggilan. Dan yang tak habis pikir, seenaknya orang tersebut main minta tebusan lima milyar.

"Oke. Tolong kirimi alamatnya. Aku akan segera ke sana, sambil bawa uangnya."

"Makasih banyak, Mas. Makasih karena udah sudi nolong aku, tapi aku mohon, Mas jangan lapor polisi. Kalau sampai bawa-bawa polisi, nyawaku akan jadi taruhannya, Mas."

"Ya. Aku nggak akan lapor polisi. Kamu tenang aja. Aku akan segera datang."

Andre mengakhiri percakapan teleponnya. Niatnya ia akan langsung siap-siap menemui Alena. Namun, baru juga berbalik badan, ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Silvy yang tahu-tahu sudah ada di depannya.

"Astaga ... nguping kamu, ya?!" tuduh Andre di sela-sela rasa kagetnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bismillah Anna
9.2
Anna memendam cinta pada Malik sejak SMP, meski Malik bersikap dingin dan menyukai wanita lain. Di tengah perjuangan menjadi dokter muda, Anna harus menghadapi duka mendalam karena kehilangan sosok ayah tercinta. Meski takdir terasa pahit dan cintanya tak terbalas, Anna berusaha tegar menjalani hidupnya yang penuh cobaan. Akankah kesabaran Anna berujung pernikahan dengan Malik, atau justru ia akan bersatu dengan pria lain yang jauh lebih misterius?
Sampul Novel Istri rahasia Dosen dingin
8.1
Kayra adalah mahasiswi yang terpaksa menari pole dance di klub malam demi biaya hidup. Namun, rahasianya terbongkar oleh Alvin, dosen dingin yang kemudian mengancam karier akademisnya. Kayra dipaksa menikah hanya untuk menjadi alat balas dendam Alvin terhadap mendiang mantan kekasihnya. Di tengah hubungan toksik ini, Alvin berniat membuangnya setelah satu tahun, tetapi Kayra bersumpah akan membalikkan keadaan dan mengikat Alvin selamanya.
Sampul Novel Kembang Desa
8.4
Bagi Lasmini, paras cantik bukanlah anugerah melainkan awal dari petaka yang menghancurkan hidupnya. Di usia yang masih sangat belia, ia harus menelan kenyataan pahit akibat pengkhianatan kekasih yang tidak bertanggung jawab. Kini, ia berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal demi membesarkan buah hatinya di tengah kerasnya dunia. Mampukah Lasmini bangkit dari masa lalu yang kelam, menemukan belahan jiwa sejati, dan meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Sampul Novel Kenapa Kalian Membuang Ibu?
8.2
Minah awalnya hidup tenang dalam asuhan Eliza dan Agung. Namun, situasi berubah drastis saat putri bungsunya itu harus pergi merantau. Minah terpaksa pindah ke rumah Edo, putra sulungnya. Di sanalah penderitaan bermula akibat perlakuan buruk sang menantu yang kejam. Masa tua Minah berakhir tragis di sebuah panti jompo. Ia akhirnya mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang memilukan, tanpa kehadiran satu pun anak kandung di sisi tempat tidurnya.
Sampul Novel Mengejar Cinta Pak Dosen
8.2
Agatha meyakini cinta sejati akan hadir secara alami, namun takdir justru membawanya ke dalam perjodohan dengan Bintang. Meski pria itu awalnya menolak tradisi ini, Agatha tetap gigih berjuang meluluhkan hatinya. Tantangan besar muncul saat bayang-bayang Aera, cinta pertama Bintang, terus membayangi hubungan mereka. Akankah Agatha berhasil memenangkan kasih sayang tulus Bintang, atau ia selamanya hanya menjadi sosok pengganti yang tak pernah diinginkan?
Sampul Novel MENIKAH DENGAN PACAR SAHABAT
8.0
Sebulan pasca menikah, Rio justru berkhianat dengan menikahi siri Marta, sahabatku sendiri. Aku dianggap pajangan tak berarti di rumah kami, hingga suatu malam Rio merenggut paksa kehormatanku demi mengganti rugi mahar yang ia beri. Hancur karena dijadikan tumbal pernikahan tanpa cinta, aku mengadu pada orang tua namun tak mendapat pembelaan. Akhirnya, aku memilih pergi menjauh dan menghapus jejak demi menyembuhkan luka batin yang teramat perih ini.