APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemuas Birahi Setengah Baya

Pemuas Birahi Setengah Baya

Anisa terjebak dalam pusaran gairah yang tak terduga saat ia mengenal dunia para pria matang. Di balik usia mereka, tersimpan pengalaman dan maskulinitas liar yang membangkitkan sensasi baru bagi Anisa. Melalui setiap sentuhan dan godaan penuh misteri, ia menemukan sisi lain dari nafsu yang lebih mendalam. Terpesona oleh stamina dan daya pikat pria setengah baya, Anisa pun menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk menjadi pemuas birahi dalam hubungan yang panas ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sinar matahari mulai melumer keemasan, menembus jendela kaca toko yang kini mulai lengang. Anisa sudah bersiap menutup, meski tetap menjaga etika bisnis—siapa tahu ada pembeli terakhir datang.

Dan benar saja, pintu berderit pelan. Seorang lelaki setengah baya melangkah masuk dengan aroma minyak rambut dan parfum maskulin yang menyengat seperti hendak menutupi usia.

Kemejanya berkilau tipis, celana kain disetrika rapi, sepatu kulit mengilap, dan di tangan kirinya ada gelang batu akik yang memantulkan cahaya senja. Ia tersenyum—senyum penuh percaya diri, seperti orang yang baru saja memenangkan tender besar.

“Selamat sore, Mbak cantik. Masih buka, ya?” suaranya dalam, dibuat-buat berat.

“Masih, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Anisa ramah, namun tetap menjaga jarak.

Lelaki itu berjalan perlahan, matanya menelisik rak mainan, tapi sorotnya jelas tak tertarik pada mainan.

“Saya... sebenarnya cari mainan mobil-mobilan buat keponakan. Tapi, sejak tadi siang kok gak tenang ya. Rasanya ada yang menarik saya ke sini,” katanya sambil tersenyum menggoda.

Anisa hanya tersenyum tipis, tak menanggapi. Tangannya tetap sibuk membereskan catatan stok.

“Saya Rudy. Panggil saja Om Erdi. Kontraktor besar, dan alhamdulillah proyek-proyek sudah beres. Tapi yang belum beres, urusan hati.”

Anisa menatap sekilas, masih mengangguk sopan.

“Mainannya di rak kanan, Om. Silakan dilihat-lihat dulu.”

Tapi Om Erdi tak bergerak ke rak.

“Saya udah sering lihat Mbak Anisa. Ya Allah... cantik, ayu, anggun, tapi tetap kelihatan... kesepian.”

“Maaf, Om... saya sudah bersuami, bagaimana bisa kesepian?” ucap Anisa langsung, tegas tapi masih menjaga etika.

“Justru itu. Saya tahu. Tapi saya gak bisa pura-pura tutup mata terus.” Om Erdi mendekat sedikit, suaranya dikecilkan seperti orang hendak berbisik rahasia.

“Kalau suami kamu bertanggung jawab, kenapa kamu tiap hari sendirian di sini? Dipajang, tapi gak dijaga. Cantik begini harusnya jadi ratu, bukan jadi babu.”

Anisa menarik napas panjang. Tangannya berhenti menulis, darahnya berdesir.

“Pak Rudy, saya tidak terbiasa dilontari kata-kata seperti itu. Kalau tidak ada yang ingin dibeli, silahkan keluar karena aya mau tutup!” tegas Anisa, walau sejatinya tak pernah dia sekasar itu sebelumnya. Mungkin karena pengaruh mimpinya semalam.

Tapi lelaki flamboyan putus urat malunya itu malah tertawa kecil.

“Saya gak main-main, Mbak Anisa. Saya bisa buktikan. Saya bisa nyalakan api cinta dari dalam dada saya—api yang gak akan padam, seperti sumber api Merapen. Kamu tahu itu? Api abadi dari bumi... begitu juga cintaku.”

Anisa menatapnya datar.

“Saya tahu api Merapen, Pak. Tapi saya juga tahu cara memadamkan orang yang nyebelin, bermulut besar.” Lagi dan lagi Anisa berkata kasar.

Ia berdiri, menatap Om Erdi dengan sorot dingin.

“Saya pamit tutup toko. Mohon jangan kembali kalau cuma mau bawa api murahan, ya.”

Om Erdi masih tertawa, tapi kini mulai salah tingkah. Ia mencoba mencairkan suasana dengan candaan yang makin basi, tapi Anisa sudah menutup buku kas dan mulai membereskan meja kasir.

Dengan sedikit kikuk, akhirnya si flamboyan angkat kaki.

“Baiklah... kalau begitu, sampai jumpa, Mbak Anisa. Saya belum menyerah.”

Pintu kembali tertutup. Udara kembali tenang.

Tapi di dalam dada Anisa, ada sesuatu yang menggelegak. Marah? Jijik? Terhina? Atau luka lama yang kembali disinggung? Tak ada yang tahu.

Anisa menutup pintu rolling toko perlahan, mengaitkan gembok, lalu menarik napas panjang. Sisa aroma parfum Om Erdi masih tersisa samar di udara, membuatnya geleng kepala sendiri.

“Boleh saja datang lagi...” gumamnya dalam hati, senyum miring terbentuk di bibir. “Asal waktu ada Tante Maya,” lanjutnya memasukan anak kunci ke dalam tas tangannya.

“Dan nikmati keseruannya. Paling juga kamu mati kutu, trauma dikerjain Tante Maya dan geng janda Ganjen-nya. Baru jadi pemborong aja udah ketinggian. Aku bukan babu, Pak Rudy. Aku istrinya Mas Pian dan tak berniat juga jadi ratu!” geramnya.

Langkah Anisa ringan sore itu. Bukan karena lelah, tapi karena sebagian besar hasil penjualan sudah diambil Tante Maya tadi siang, sehingga dia tak perlu mampir dulu ke rumah Tante Maya. Uang sisa itu bisa dibawa pulang, cukup untuk jajan gorengan di pinggir jalan kalau sempat.

Ia berdiri di tepi trotoar menunggu angkot, menatap jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan pulang kerja. Sinar matahari mulai merambat ke jingga, langit separuh lembut, separuh kelabu. Persis seperti hatinya.

Tiba-tiba suara knalpot pelan terdengar mendekat. Sebuah motor matic berhenti tak jauh darinya. Helm hitam terbuka, menampilkan wajah yang sangat dikenalnya.

Haikal. Dan masih bercelana seragam SMA, kali ini jaketnya ganti kulit.

Ia turun pelan, menyapa tanpa kata. Hanya anggukan dan senyum kecil. Seperti biasa, tak banyak bicara. ‘Untung saja Tante Maya, belum pernah melihatmu, Kal. Kalau sampai tahu, entah akan dibawa kemana brondong seganteng kamu inii,’ pikir Anisa.

“Sendiri aja, Mbak?” tanya Haikal sambil tersneyum hangat.

“Iya. Lagi nunggu angkot, tapi... malas juga, kelamaan.”

“Mau pulang kan? Bareng aku aja.”

Anisa ragu sejenak, lalu mengangguk, dadanya terasa hangat. “Ya udah... tapi pelan-pelan ya.”

Mereka pun melaju di antara keramaian. Udara sore membawa debu dan bau gorengan dari pinggir jalan. Tak banyak kata yang terucap, hanya suara motor, suara kota, dan... suara jantung yang berdetak sedikit tak wajar. Terlalu dekat. Terlalu sunyi. Terlalu sadar.

Di pertigaan kecil, sebuah becak tiba-tiba muncul dari gang, nyelonong tanpa aba-aba.

“Waduh—!” seru Haikal spontan menarik rem. Motor berhenti mendadak.

Anisa yang tak siap, reflek memeluk Haikal dari belakang. Tubuhnya menempel dan buah dadanya menekan punggung sang pengendara. Napas bertukar panas. Dunia seolah berhenti sepersekian detik.

Mereka tak berkata apa-apa. Haikal menegakkan motor, masih dalam posisi yang sama. Anisa cepat-cepat melepaskan pelukan, pura-pura sibuk membenarkan tasnya.

“Maaf... refleks,” ucapnya pelan.

“Iya, gak apa-apa,” jawab Haikal, sama pelannya. Nadanya agak serak.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan. Lebih pelan. Lebih kikuk. Tapi hati keduanya seperti dibakar sesuatu yang tak bisa mereka sebutkan namanya.

Sesampinya di rumah, langit sudah menggantungkan gelapnya sepenuhnya. Udara terasa lembap, walau tak ada hujan yang mengguyur. Anisa membuka pagar rumah dengan hati yang berat, tapi bibirnya tetap tersenyum kecil ketika melihat Pian menyambut dari ambang pintu.

“Pulang sama Haikal ya?” tanya Pian sambil masuk kembali ke rumah setelah Anisa mencium tangannya.

“Iya kebetulan tadi lewat depan toko, pas aku sedang nyari ojek,” balas Anisa sambil berjalan mengikuti suaminya.

“Syukurlah. Pas banget, makanannya baru mateng,” kata Pian sambil mengangkat tutup panci di atas meja makan.

Aroma tumisan sayur dan sambal terasi menyebar di udara, sederhana tapi menggugah selera. Anisa mengganti bajunya, mencuci tangan, lalu duduk di hadapan suaminya. Mereka makan berdua, seperti biasa. Seperti pasangan yang saling menyayangi dan berbagi hari dengan penuh ketulusan.

Namun, dalam hatinya, Anisa justru merasa sebaliknya.

Sendok demi sendok terasa seperti beban. Matanya sesekali melirik Pian, mencoba menebak apakah pria itu bisa merasakan kegelisahan yang terus berdesak-desakan dalam dirinya.

“Kamu capek banget ya?” tanya Pian sambil tersenyum, “Mukamu dari tadi keliatan murung.”

“Enggak, cuma agak pusing aja mungkin,” jawab Anisa pelan.

Padahal bukan itu. Bukan pusing yang membuatnya hilang arah. Tapi peristiwa mimpi yang menghadirkan sosok yang tak seharusnya muncul Dan perasaan kini menjadi sangat tersiksa karena mimpi itu terasa terlalu nyata.

Setiap kali ia menatap Pian, rasa bersalah kembali menggelayut. Ia merasa seperti seorang istri yang sudah mengkhianati, meski tidak dalam tindakan. Tapi mimpi itu... rasanya begitu hidup. Begitu menggaorahkan dan liar. Dan ia tak tahu apakah Tuhan pun menganggapnya dosa.

Setelah makan malam, mereka membereskan meja dan mencuci piring bersama. Sesekali Pian menggoda atau bercerita tentang sawah, tapi Anisa hanya menanggapinya dengan senyum yang setengah hati.

Hingga akhirnya mereka masuk kamar.

Pian tertidur lebih dulu, tubuhnya rebah damai, seperti biasa. Anisa memandang wajah suaminya dalam senyap. Tak ada yang berubah darinya. Tetap lembut, tetap penuh kasih. Tapi justru itu yang membuat Anisa merasa lebih buruk.

Ia memeluk Pian perlahan dari belakang. Bukan untuk membangunkan, tapi untuk menenangkan dirinya sendiri.

Malam ini, ia berharap bisa tidur tanpa mimpi. Atau kalau pun bermimpi... semoga bukan mimpi yang membuatnya merasa malu semalu-malunya seperti lagi.

^*^

PERINGATAN KERAS!!!

Bersiaplah untuk menangis tersedu-sedu, tertawa terbahak-bahak, tegang urat syarat hingga tubuh panas dingin secara mendadak hingga tiba-tiba sesuatu yang hangat dan nikmat keluar meleleh dari salurannya dengan tak terduga.

Pemuas Birahi Setengah Baya ini, benar-benar beda dengan cerita-cerita yang pernah ada. Bahasanya sederhana, lugas, tegas, penuh makna namun asik mengalir laksana Sungai Ciliwung yang bergelora dalam dinamika lika-likunya. Hingga berakhir dengansesuatu yang tak bisa diduga.

Selamat membaca, jangan lupa masukan cerita ini dalam daftar bacaan atau pustakamu. Dan berikan respon jika menikmatinya.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Warisnya yang Tersembunyi, Pelariannya
9.6
Malam pameran seni perdanaku hancur saat suamiku justru muncul di berita demi melindungi wanita lain. Pesan singkatnya yang dingin menegaskan bahwa aku bukan prioritasnya. Selama ini, dia meremehkan bakatku, padahal karyaku adalah fondasi kekayaannya. Lelah diabaikan, aku menyusun strategi cerai yang cerdik. Aku akan menyamarkan dokumen perceraian sebagai berkas hak cipta biasa, memanfaatkan kesombongannya agar dia segera menandatanganinya tanpa curiga.
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel Dijodohin
8.0
Dunia ini tidak pernah memberikan apa pun secara cuma-cuma, termasuk dalam urusan hidup. Sayangnya, seorang gadis baru menyadari kenyataan pahit tersebut setelah semuanya terlambat. Ia telah terlanjur menggadaikan masa mudanya demi mengejar kebahagiaan yang bersifat sementara melalui sebuah ikatan perjodohan. Kini, ia harus menghadapi konsekuensi dari pertukaran besar yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya di usia yang masih sangat belia.
Sampul Novel Edoraded Distance
9.0
Kevin dan Sekar terikat dalam pernikahan formal yang terasa hampa tanpa keintiman nyata. Meski hubungan mereka sebatas status di atas kertas, Kevin yang telah lama mencintai Sekar tak menyerah. Di tengah kehadiran keluarga Son dan Atmaja, Kevin berjuang keras meruntuhkan tembok pemisah di antara mereka. Ia bertekad meyakinkan Sekar bahwa ikatan ini adalah gerbang menuju kebahagiaan sejati, bukan sekadar kontrak belaka yang dingin tanpa perasaan.
Sampul Novel Gairah Sang Pemuas
9.1
Terhimpit masalah finansial, Gusti yang dulunya pemuda desa kolot bertransformasi menjadi pria kota yang menawan demi bekerja sebagai pemuas. Paras rupawannya sukses memikat banyak wanita, namun ia justru terperosok makin dalam ke sisi kelam Jakarta. Di tengah gemerlap kehidupan yang menyesatkan, ketakutan mulai menghantui Gusti saat teman masa kecilnya tiba-tiba muncul. Ia kini terjebak antara tuntutan hidup yang kejam dan bayang-bayang masa lalunya.
Sampul Novel Godaan kakak iparku
9.5
Terjebak dalam situasi pelik, aku merasa tercekik oleh sikap kakak iparku yang posesif layaknya seorang kekasih. Perhatian yang ia curahkan kepadaku justru jauh lebih besar dibandingkan kepada istrinya sendiri. Namun, di balik perlakuan janggal yang melampaui batas tersebut, tersimpan sebuah rahasia gelap yang menyelimuti hubungan kami. Kini aku berdiri di tengah misteri besar yang membuatku ragu harus percaya atau tidak pada kenyataan yang ada.