APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat

Pendekar Pedang Terhebat

Zero, bocah yatim piatu berusia sepuluh tahun, kerap dirundung karena ambisinya menjadi pendekar pedang hebat meski kemampuannya sangat buruk. Statusnya yang misterius di bawah asuhan Master Pedang juga memicu rasa iri kawan-kawannya. Namun, semangatnya terbakar hebat setelah mengetahui bahwa sang ayah ternyata adalah salah satu pendekar legendaris. Kini, Zero harus membuktikan kekuatannya melewati berbagai rintangan demi meraih gelar tertinggi tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kioda pun memperhatikan kitab yang ada di ranjang Zero. Ia juga menantikan penjelasan Zero tentang kitab itu.

"Em..., ini..., aku juga tidak tahu Guru. Tadi ketika aku sedang duduk di halaman belakang, tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang yang mengatakan bahwa ia memberikan kitab ini padaku." Zero menjelaskan kepada gurunya apa yang ia alami tadi dengan jujur.

Akhirnya Kioda meraih Kitab itu. Kemudian Kioda mencoba untuk membuka kitab itu. Namun ia tidak melihat ada tulisan apapun, hanya ada lembaran-lembaran kosong saja.

"Zero, apakah kau yakin kitab ini diberikan padamu?" Kioda kembali bertanya pada Zero.

"Guru, aku pun masih belum mengerti semuanya. Yang jelas, aku sudah menceritakannya padamu tentang bagaimana aku mendapatkan kitab ini tadi. Dan lagi, aku juga tidak tahu siapa orang yang berbicara dan memberikanku kitab ini," jawab Zero dengan jujur.

"Tapi ini aneh. Kenapa kitabnya kosong?" tanya Kioda.

"Guru, jangan bercanda! Kitab ini tidak lah kosong semuanya kok. Lihatlah ini, tiga lembar pertama ada isinya." Zero membalikkan halaman kitab itu dan menunjukkannya pada Kioda.

Pada penglihatan Zero, kitab itu hanya tiga lembar pertama yang memiliki isi. Namun berbeda pada penglihatan gurunya. Gurunya justru tidak melihat apapun.

"Jadi begitu ya? Hem..., Zero, selamat! Berarti Kitab ini benar-benar memilihmu! Ini adalah Kitab Langka," ujar Kioda dengan mata yang berbinar.

Setelah itu Kioda menjelaskan sedikit pengetahuannya kepada Zero tentang kitab itu. Kioda teringat dengan adanya cerita legenda yang menceritakan tentang beberapa kitab langka. Dan sesuai dengan legenda yang ada, kitab itu hanya akan bisa dibaca oleh orang yang terpilih saja. Kioda juga menjelaskan kepada Zero bahwa halaman selanjutnya akan terbuka secara bertahap setelah Zero menguasai bagian demi bagian jurus yang ada di setiap lembarnya.

"Guru, apakah aku benar-benar boleh berlatih sesuai yang diajarkan dalam kitab ini?" Wajah Zero juga langsung terlihat ikut berbinar. Ia merasakan ada harapan bahwa dirinya akan benar-benar menjadi Master Pedang seperti ayahnya.

"Benar, sejujurnya Ayahmu juga dulu memiliki kitab Dua Pedang. Ia pernah menunjukkannya padaku. Akan tetapi, kalau aku ingat-ingat lagi, sampul kitab itu berbeda dengan kitab milikmu ini. Dan juga, memiliki ketebalan yang lebih sedikit dibanding milikmu. Oh iya Zero, aku minta padamu untuk merahasiakan tentang kitab ini. Apakah kau mengerti?" ujar Kioda dengan tatapan serius.

"Em..., baik Guru. Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang hal ini, aku berjanji padamu," jawab Zero.

***

Keesokan harinya Zero kembali berlatih seperti biasa di aula latihan. Zero juga terkenal sebagai anak yang rajin dan giat berlatih. Namun perkembangan kemampuan berpedangnya terbilang sangat lambat dibanding murid lainnya.

"Kakak lihat, itu adalah Zero." Saniji berbisik pada Yuji.

"Iya, aku tahu. Aku merasa ada yang aneh dengan pecundang itu kemarin," jawab Yuji yang juga berbisik.

"Kakak, bukankah semalam ia terlihat seperti orang yang sangat kuat? Jangan-jangan ia menjalani pelatihan terlarang?" tanya Erji berbisik pula.

"Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi sudahlah, kita diam saja dulu. Nanti jika ada yang mendengar, kita bisa jadi bahan ejekan dan merasa malu karna kejadian kemarin." Yuji menyuruh diam kedua adiknya kemudian mengajak kedua adiknya itu pergi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pelatih yang berteriak.

"Semuanya, ayo segera berkumpul...!"

Semua murid pun berkumpul, termasuk Zero. Dan setelah itu mereka mulai menjalani pelatihan rutin.

Setelah selesai latihan rutin, pada sore harinya Zero kebetulan mendapat giliran pergi ke pasar untuk membeli bahan dapur. Namun Zero dicegat oleh segerombolan anak nakal dari perguruan lain.

"Hey, kau! Kau dari Perguruan Aslah kan? Cepat kemari! Serahkan semua koin yang kau miliki!" Salah satu anak berteriak pada Zero, namanya adalah Beiji.

"Eh? Ada apa ini? Kalian berniat merampas koinku?" tanya Zero.

"Apa kau tuli?! Tentu saja! Cepat berikanlah koin perak yang kau miliki!" teriak Beiji kesal.

Namun Zero tidak mau memberikan koin perak yang ia miliki. Sebab koin perak itu diberikan padanya untuk digunakan berbelanja ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur di perguruannya.

"Ternyata kau keras kepala! Baiklah, hajar saja dia!" Beiji menyuruh teman-temannya maju.

Sring, sring, sring!

Kedua mata Zero terbelalak ketika melihat pedang yang digunakan orang-orang itu adalah pedang sungguhan. Di Perguruan Aslah anak seusia mereka hanya diperbolehkan memiliki pedang yang terbuat dari kayu saja.

"Hentikan!" Terdengar ada suara seorang anak perempuan yang seusia dengan mereka dari belakang, namanya adalah Vivi. Semua mata sontak tertuju ke arah Vivi.

"Kau lagi ternyata. Cih! Apa kau berniat menghalangi kami lagi?! Jangan ikut campur!" ujar Beiji.

"Kalau iya, memangnya kenapa? Apa kau tidak ingat terakhir kali aku menghajarmu?" Dengan santainya Vivi berjalan mendekati Zero.

"Em..., itu..., sebaiknya kau pergi saja. Biarkan aku saja yang menghadapi mereka," ujar Zero.

"Tidak! Aku memang sengaja mencari mereka. Mereka ini sekumpulan anak nakal. Biarkan aku yang memberi pelajaran pada mereka. Kau hanya perlu diam dan lihat saja," jawab Vivi.

Zero melihat bahwa pedang yang dipegang oleh Vivi adalah pedang kayu yang sama seperti miliknya. Zero tidak yakin kalau Vivi akan mengalahkan anak-anak dari Perguruan Pedang Pendek itu hanya dengan menggunakan pedang kayu.

"I-ini...," Zero sempat bingung ingin berbuat apa.

"Ayo kita hajar saja mereka berdua!" teriak Beiji semakin kesal. Beiji yakin kali ini tidak akan kalah dengan Vivi karena ia telah giat berlatih.

"Baik, ayo kita hajar!" Teman-teman Beiji setuju dengan perintah Beiji.

Slash..., slash, slash!

Pedang Pendek ditebaskan ke arah Vivi.

Namun Vivi bergerak dengan sangat lincah ke sana kemari menghindari tebasan itu.

"Hebat!" Zero merasa kagum melihat Vivi yang mampu menghadapi orang-orang itu.

Dan Zero semakin kagum lagi dengan Vivi karena melihat Vivi yang dengan mudahnya menghajar semua anak nakal itu.

"Kalian ini kenapa?! Ayo, bangun! Cepat hajar lagi!" Beiji kembali berteriak meneriaki teman-temannya yang kalah oleh Vivi.

Namun tetap saja, Vivi kembali mengalahkan mereka hingga akhirnya orang-orang itu banyak yang kabur dan meninggalkan Beiji seorang diri.

"Kalian sekumpulan orang bodoh! Cih!" Beiji akhirnya terpaksa maju dan langsung menyerang Vivi.

Slash!

Pedang sungguhan milik Beiji menebas ke sana kemari namun tidak berhasil mengenai Vivi yang menjadi targetnya.

Yang tak disangka oleh Vivi, ternyata Zero ikut maju dan memukulkan pedang kayunya ke punggung Beiji dari belakang.

"Aku juga bisa berpedang," ucap Zero dengan sangat percaya diri.

"Hem..., kalau begitu kau lawan saja dia. Dia hanya seorang diri. Aku akan melihat seberapa hebat kemampuanmu berpedang," ujar Vivi kesal.

"Eh? Tu-tunggu...," Zero terkejut mendengar ucapan Vivi.

Zero mengira Vivi akan mau bersama-sama untuk menghadapi Beiji. Namun Zero tidak menyangka ternyata Vivi malah membiarkannya menghadapi Beiji seorang diri. Zero merasa sedikit gentar karena musuhnya menggunakan pedang sungguhan. Ini adalah pengalaman pertamanya melawan orang yang menggunakan pedang sungguhan.

"Sialan! Jangan remehkan aku!" Beiji pun akhirnya semakin marah dan berbalik menyerang Zero.

Zero mencoba menghindari serangan Beiji. Zero benar-benar tersudut karena ia hanya bisa menghindar dan terus menghindar. Zero tidak mau mengadu pedang kayunya dengan pedang sungguhan milik Beiji. Karena tentu saja pedang kayu itu pasti akan patah jika menahan tebasan dari pedang sungguhan.

'Sial! Kenapa malah jadi begini?!' Dalam hatinya Zero terus mengumpat kesal dengan Vivi.

"Bukankah tadi kau berkata kau bisa berpedang? Mengapa hanya terus menghindar? Ayo serang dia, cepat...!" ujar Vivi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Bertahan Hidup di Sebuah Pertunjukan
9.0
Jack Harper, pakar survival ternama, terjebak dalam mimpi buruk saat acara realitasnya berakhir tragis akibat ledakan misterius. Teruntai di pulau terpencil penuh reruntuhan kuno dan suku berbahaya, Jack harus memimpin sekelompok selebritas untuk bertahan hidup. Namun, ancaman terbesar muncul dari Mei Ling, kontestan yang ternyata pembunuh bayaran dengan dendam pribadi padanya. Di tengah konspirasi pulau dan pengkhianatan, Jack harus bertarung demi nyawa dan kebenaran.
Sampul Novel Gadis Rahasia Kapten
8.7
Kapten Anatoly tak pernah menduga bahwa cinta pertamanya adalah Helen, turis Jerman yang ia sembunyikan di rumahnya saat Rusia menyatakan perang. Di tengah ketegangan konflik, hati sang kapten yang dingin perlahan mencair. Namun, kebahagiaan itu hancur saat identitas asli Helen terungkap sebagai putri dari musuh negaranya. Kini, Anatoly terjepit dalam dilema besar antara kesetiaan pada negara atau menyelamatkan wanita yang ia cintai. Pilihan manakah yang akan ia ambil?
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Hidup Dion berubah drastis usai menyelamatkan Kayla dari bahaya bersama Nenek Melati. Terpikat oleh ketangguhan Kayla, sang nenek ingin mereka bersatu. Namun, Bu Ratna menentang karena ia telah menjodohkan Dion dengan Amara yang ambisius. Amara yang haus status pun mulai menyusun taktik licik untuk menyingkirkan Kayla dengan mengorek rahasia kelam masa lalunya. Di tengah tekanan keluarga dan intrik jahat, Dion harus berjuang melindungi cintanya dari kehancuran.
Sampul Novel Menuntut Balas
8.4
Xavier terpaksa menyaksikan momen mengerikan saat nyawa ayahnya direnggut secara keji oleh kelompok mafia. Tragedi berdarah tersebut menyisakan luka mendalam dan amarah yang membara di hatinya. Enggan membiarkan para pelaku bebas begitu saja, ia bertekad menuntut balas. Xavier pun mulai mengasah kemampuan bela diri dengan keras demi mempersiapkan diri menghadapi organisasi kriminal yang telah menghancurkan hidupnya serta menuntaskan dendamnya.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.