APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perceraian & Kesuksesan Amara

Perceraian & Kesuksesan Amara

Tiga tahun Siska Amara terbelenggu dalam pernikahan penuh kepalsuan bersama Rafael Prabowo. Usai mengorbankan karier dan keluarga demi pria itu, Siska akhirnya memilih bangkit pasca perceraian. Kini, ia bertransformasi menjadi desainer ternama sekaligus investor sukses yang disegani. Saat Rafael muncul kembali membawa penyesalan dan memohon kesempatan kedua di tengah kejayaannya, Siska dengan tenang menegaskan bahwa pria masa lalunya itu kini hanyalah orang asing baginya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Siska Ramadhani menatap pemandangan malam Jakarta dari lantai atas gedung perancangannya, sebuah bangunan modern yang menjulang tinggi, berkilau dengan lampu neon di sekelilingnya. Kota yang dulu terasa sesak dan penuh dengan kenangan buruk itu kini seperti dunia yang sama sekali berbeda baginya. Tapi, seberapa pun jauh langkahnya melangkah, bayang-bayang masa lalu tetap saja mengikuti. Seperti malam itu, ketika angin sepoi-sepoi membelai wajahnya dengan kehangatan yang aneh, seolah-olah mengingatkannya pada segala yang telah dia lewati.

Dia memutar tubuhnya, membelakangi jendela besar itu, dan berjalan kembali ke ruang kerja yang sekarang terasa seperti rumah sejati. Di dinding-dindingnya, terpasang berbagai penghargaan dan foto-foto koleksi yang memantulkan kesuksesan yang telah dia raih. Setiap helai kain yang dipilih, setiap jahitan yang diatur dengan teliti, dan setiap desain yang dicetak di atas kertas sketsa adalah bukti bahwa dia telah meninggalkan semua yang dulu mengikatnya, termasuk Rafael.

Siska duduk di kursi kulit hitam yang empuk, menggenggam secangkir kopi panas yang hampir tak terasa di tangannya. Aroma kopi itu, meskipun menenangkan, mengingatkannya pada malam-malam di rumah yang dulu mereka huni bersama, di mana dia duduk di sisi Rafael yang sedang membaca, tangannya dilingkarkan di pinggang Siska dengan lembut, seolah-olah ada yang bisa menghalangi mereka untuk tetap bersama.

Tapi hidup bukan hanya tentang kenangan yang indah. Hidup, katanya, adalah tentang bagaimana seseorang bertahan dalam badai dan menemukan jalan keluar di sisi lain. Siska tidak hanya bertahan, tetapi dia juga tumbuh. Kegigihannya menuntun pada pencapaian yang luar biasa, di mana kini dia berdiri di atas puncak dunia yang telah dia bangun. Terkadang, di tengah kesuksesan itu, dia ingin berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan memastikan bahwa setiap luka di hati telah sembuh, bahwa setiap rasa takut telah ditaklukkan.

Suara pintu yang terbuka dengan lembut membuatnya menoleh. Seorang asisten muda dengan rambut yang diikat rapi masuk ke ruangan, memegang setumpuk berkas. Wajahnya cerah, dan senyumnya mengisyaratkan energi yang tidak terputus. Siska tidak bisa tidak tersenyum kecil melihatnya.

"Semua sudah siap untuk peluncuran malam ini, Nona Siska," kata asisten itu, sebut saja Rina, dengan semangat yang memancar di setiap kata.

"Terima kasih, Rina. Aku hanya ingin memastikan semuanya sempurna. Ini adalah malam yang penting," jawab Siska, suaranya menegaskan keyakinannya. Dia memindahkan pandangannya ke berkas-berkas di tangan Rina, lalu sejenak kembali berpikir tentang keputusan yang dia buat, tentang langkah-langkah yang membawanya ke titik ini.

Rina mengangguk, lalu berjalan menuju meja di sisi ruangan untuk menempatkan dokumen-dokumen tersebut. Siska berdiri, melangkah mendekat, dan memeriksa selembar undangan eksklusif yang didesain dengan tangan, dihiasi motif bunga dan aksen emas. Peluncuran koleksi terbarunya akan dihadiri oleh para tamu terhormat dari kalangan fashion, selebriti, hingga investor ternama. Malam itu, Siska akan sekali lagi menjadi sorotan, membuktikan bahwa dia mampu membangun dunia yang diimpikannya tanpa bantuan siapa pun.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali membuatnya terjaga. Rina melirik ke arah pintu, kemudian kembali menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ada tamu istimewa yang ingin bertemu denganmu, Nona Siska," katanya, dengan nada yang jauh lebih serius.

Siska mengerutkan kening. Siapa yang begitu penting hingga mengganggu persiapannya? "Tamu? Siapa?"

"Rafael Prabowo."

Siska merasa seolah-olah dinding di sekeliling ruangan itu mendekat, mengepungnya dengan kenyataan yang sama sekali tak terduga. Nama itu meluncur dari bibir Rina seperti sebuah petir yang membelah langit malam, meninggalkan jejak yang membekas di langit-langit pikirannya. Rafael. Pria itu, yang selama ini hanya ada di halaman-halaman kenangan, tiba-tiba muncul kembali di dunia yang telah ia ciptakan. Siska memalingkan pandangannya ke jendela besar, menatap langit malam yang pekat dengan lampu kota yang menyala. Tidak, ini tidak mungkin. Seharusnya Rafael hanya menjadi bayangan yang menghilang seiring waktu.

Rina melanjutkan, "Dia ingin berbicara denganmu. Aku sudah memberitahunya bahwa kau sedang sibuk, tetapi..."

Siska mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Rina sebelum melanjutkan. Matanya bertemu dengan mata asisten itu, yang tampak penuh dengan rasa ingin tahu. "Biarkan dia masuk," Siska berkata, suaranya tidak lebih dari bisikan.

Rina mengangguk, lalu berjalan ke pintu untuk membuka jalan bagi Rafael. Siska menekan gelas kopi di tangannya hingga hampir hancur. Dia berusaha mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Bagaimana mungkin dia begitu cemas hanya dengan nama itu? Rafael hanyalah bagian dari hidupnya yang sudah lama dia kubur. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia akan menghadapi pria itu dan membuatnya tahu bahwa tidak ada yang bisa menghancurkan hidupnya lagi.

Pintu itu terbuka, dan sosok tinggi dengan ekspresi yang sulit dibaca melangkah masuk. Rafael, dengan setelan jas hitam yang sempurna, seolah tak pernah berubah. Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Mata pria itu tampak lelah, seolah membawa beban yang berat. Siska mengingat betul bagaimana matanya dulu selalu penuh semangat dan keberanian. Sekarang, di hadapannya, ada sesuatu yang lebih manusiawi, lebih rapuh.

"Rafael," Siska mengucapkan namanya, lebih seperti sebuah pertanyaan daripada sapaan. Suara itu keluar begitu saja, tidak terencana, tetapi cukup keras untuk mengisi keheningan di antara mereka.

Rafael mengangguk, matanya menatap ke arah Siska dengan rasa rindu yang hampir tak tertahankan. "Siska... aku tahu aku sudah lama menghilang, tapi aku tidak bisa membiarkan diriku terus pergi begitu saja tanpa mencoba memperbaiki semuanya."

Siska menatapnya, menilai setiap kata yang diucapkan pria itu. Ada rasa sakit di suaranya, tapi itu bukan urusannya. Ia tahu, tak ada kata maaf yang cukup untuk menebus semua yang telah terjadi. "Rafael, sudah lama aku berhenti mengenal siapa dirimu."

Kata-kata itu adalah guncangan. Rafael mundur sejenak, seolah terhempas oleh angin kencang yang datang dari arah Siska. Suara itu, nada yang dingin dan tak mengampuni, membuatnya terdiam. Kenangan-kenangan buruk itu seperti menyatu di dalamnya, menciptakan gumpalan rasa sakit yang sulit diungkapkan.

"Kenapa kau kembali?" Siska bertanya, suara kerasnya seolah memecah keheningan. "Kau hanya ingin mengingatkan aku bahwa aku dulu pernah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku? Itu bukan sesuatu yang ingin aku ingat, Rafael. Aku tidak butuh kau di sini untuk mengingatkan aku tentang betapa buruknya aku."

Rafael menatapnya dengan mata yang penuh penyesalan. "Siska, aku tahu aku telah menyakitimu, tetapi aku juga tahu bahwa aku masih bisa menjadi bagian dari hidupmu, jika kau mengizinkannya. Aku ingin memperbaiki semuanya."

Siska menatap pria itu, air mata hampir meluncur di matanya. Kenapa rasanya begitu sulit untuk melawan rasa yang pernah ada? Kenapa dia merasa seperti angin malam itu membawa kembali semua yang dia coba kubur dalam-dalam? Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa takut yang merayap di tubuhnya.

"Rafael, aku sudah berubah. Aku telah menjadi wanita yang berbeda dari dulu. Dan aku tidak ingin kembali ke masa itu. Aku tidak ingin memulai dari awal, tidak denganmu."

Kata-kata itu seperti pisau yang membelah hati Rafael, membuatnya terdiam, mencari kekuatan dalam kesunyian yang menyiksa. Siska melihat sekeliling ruangan, menyadari bahwa ia harus membuat pria itu mengerti bahwa waktunya untuk hadir dalam hidupnya telah lama berlalu.

Tapi hati manusia sering kali keras kepala. Bahkan saat dunia berkata tidak, ia tetap mencari alasan untuk bertahan. Dan Siska tahu, apapun yang akan terjadi, dia harus tetap teguh. Karena kali ini, dia tidak hanya melawan Rafael, tetapi juga dirinya sendiri, dan kenangan-kenangan yang ingin dia lupakan selamanya.

Semoga bab ini mengandung emosi dan alur yang menarik untukmu!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar
9.7
Pernikahan Aura dengan Gavin membawanya masuk ke lingkaran obsesi keluarga Mahendra. Atas desakan ekonomi, Gavin mengajak Aura tinggal di rumah sang kakak, Adrian Mahendra, seorang pengusaha dingin yang berkuasa. Tanpa diduga, Adrian menyimpan hasrat gelap terhadap istri adiknya tersebut. Dengan karisma dan kekuasaannya, Adrian memanipulasi keadaan hingga Aura terjepit antara kesetiaan pada suami dan godaan sang kakak ipar yang terus menjeratnya.
Sampul Novel Bos Posesifku
9.5
Richard Lewis awalnya meremehkan Viola, sekretaris barunya yang cantik namun ternyata sangat cerdas dan tangguh. Terpikat oleh pesonanya, Richard berupaya keras memenangkan hati Viola meski sang wanita masih menutup diri akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Lewat sikap posesif dan aturan ketat, Richard mencoba membuktikan kesungguhannya. Namun, Viola tetap bergeming. Akankah Richard berhasil meluluhkan Viola di tengah persaingan dengan dua pria lainnya?
Sampul Novel Cinta Semalam Dengan Miliarder
9.1
Melinda, gadis desa berusia 21 tahun, terjebak pengkhianatan teman hingga berakhir di pelukan Lukas, CEO ternama. Malam gairah itu membuahkan benih yang mengancam reputasi Lukas. Sang miliarder kini bimbang antara menjaga nama baik atau bertanggung jawab atas bayi tersebut. Di tengah rahasia gelap dan intrik keluarga, mereka harus menghadapi perbedaan status yang tajam. Akankah cinta mengatasi kebencian, ataukah ambisi menghancurkan masa depan yang baru saja dimulai?
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
9.4
Ella terjebak dalam dilema rasa terhadap William, sahabat masa kecilnya yang kini menjadi pewaris tunggal kaya raya. Meski William menganggap Ella sosok terpenting, ia justru jatuh hati pada Camelia. Posisi Ella kian sulit saat ia dituduh sebagai penghambat asmara mereka, sementara William tidak peka atas penderitaan batin sahabatnya itu. Akankah William tetap memprioritaskan Ella, atau justru Camelia akan memutus ikatan lama mereka selamanya?
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Cantika Putri menjalani kehidupan pernikahan yang harmonis bersama Ardi Permana. Hubungan mereka dibangun di atas fondasi cinta yang tulus, di mana Ardi sangat mengagumi pesona fisik dan kesempurnaan sang istri. Sementara itu, narasi lain mengikuti sosok miliarder ternama, Reza Dirgantara. Sang konglomerat tengah menjalin hubungan asmara dengan Luna Amara, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam dirinya.