APKDock Logo
Sampul Novel Rumah Nenek

Rumah Nenek

8.1 / 10.0
Nenek pindah ke rumah murah yang nyaman, namun bangunan itu menyimpan rahasia kelam. Ruang bawah tanahnya menjadi saksi bisu aksi jagal dan mutilasi sadis. Kini, arwah korban yang penasaran menuntut balas dan merasuki setiap sudut rumah. Teror mencekam bangkit setiap malam, menjebak penghuninya dalam bangunan yang seolah terkunci rapat. Mereka harus berjuang bertahan hidup melawan gangguan gaib mematikan yang telah merenggut nyawa pemilik sebelumnya.

Rumah Nenek Bab 1

Bismillah

                   Rumah Nenek

#part 1

#by: R.D.Lestari.

Pagi itu ku lihat Mama begitu semangat, pakaiannya rapi dan sangat rapi.

"Mau ke mana, Ma? pagi-pagi udah seger banget," tanyaku penasaran.

Mama hanya tersenyum simpul dan membelai rambutku.

"Nenek minta diantarin lihat rumah. Kata Nenek tinggal di kota sumpek. Pengen tinggal di daerah pelosok. Bertani dan pelihara ayam," jawab Mama lembut.

Alisku terpaut. 'Nenek mau pindah rumah? rumah segede itu mau dikemanain, dijual? kan sayang!'

"Sayang dong, Ma. Rumah Nenek itu termasuk elit, loh. Kok malah mau pindah," protesku.

Mama menatapku dalam, tapi senyum tak pernah hilang dari wajahnya.

"Kalau sudah banyak makan asam garam kehidupan, terkadang harta tak menjadi kunci kebahagiaan ,"

"Kenyamanan dan hati yang tentram itu tujuan utama,"

Aku menatap Mama heran, cuma bisa manggut-manggut. Entahlah, orang dewasa memang aneh. Sudah enak tinggal di rumah yang lumayan mewah, di tengah kota pula. Di mana semua serba ada dan gampang di dapat. Kok malah mau pindah ke pelosok.

"Gas, Mama titip adikmu, Ghandy. Mama mungkin lama baru pulang,"

"Nanti makan disiapin Bi Jumi. Kak Ajeng pulang malam katanya, lembut," cerocos Mama sebelum menghilang di balik pintu setelah mengucap salam.

Aku menjawab dengan pelan dan mendoakan supaya Mama berada dalam keadaan baik-baik saja.

Kembali meraih gadget dan memainkan game yang kusuka. Ya, aku Bagas. Umurku lima belas tahun. Kelas sembilan di SMP swasta di kotaku, Surabaya.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Adikku Ghandy. Umurnya sepuluh tahun, masih kelas lima SD.

Sedangkan kakakku, Ajeng, bekerja di sebuah Restoran elit dan menjabat sebagai manager. Lumayan untuk seorang cewek, dia termasuk orang yang mandiri dan wanita karir yang diincar banyak lelaki.

Mamaku namanya Rina Astuti, seorang single parent setelah bercerai dari Papa yang sekarang entah berada di mana.

Profesi Mama adalah seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMA negeri yang cukup populer di Kota di mana kami tinggal saat ini, yaitu Surabaya.

Sedangkan Nenek, selama ini hidup hanya berdua dengan Bulek Desi, anak bungsunya.

Rumah yang Nenek tempati memang termasuk elit, karena Nenek kaya, mobilpun ada dua.

Nenek punya lima anak. Mamaku anak keempat diatas bungsu dan paling dekat dengan Nenek karena rumah kami yang paling dekat. Bude-bude yang lain semua tinggal di kota berbeda.

Umur Nenek sudah delapan puluh lima tahun, tapi Nenek masih terlihat energik dan tak bisa diam. Kata orang Nenek awet muda, dan nampak tiga puluh tahun lebih muda dari umur yang sebenarnya.

Bulek Desi yang masih melajang menjadi salah satu alasan Nenek untuk tetap tinggal di rumah besar dan mewah itu, dan ketika Bulek Desi di lamar orang beberapa waktu lalu, barulah pagi ini kudengar Nenek mau menjualnya. Mungkin hanya Bulek Desi yang jadi alasan utama, menurutku, sih.

Memang bukan urusanku, tapi entah kenapa rasanya sayang, rumah bagus, besar dan mewah itu harus dijual. Apalagi letaknya di pusat kota. Sekarang mencari rumah di pelosok? mendengarnya saja aku enggan. Apalagi untuk tinggal di sana. Ogah.

***

Hari ini aku memang tak sekolah, santai di rumah dan bermain game, karena semenjak pandemi, sekolah daring, tapi tidak dengan sekolah Ghandy, ia tetap bersekolah meski hanya beberapa jam saja.

Menjelang tengah hari, Ghandy pulang sekolah dan langsung menanyai soal Mama.

"Ma, Mama belum pulang?"

Aku hanya melirik sekilas dan kembali menatap layar ponsel.

"Mama hari ini pergi sama Nenek, katanya mau lihat rumah," jawabku sekenanya.

"Oh ...,"

"Pesan Mama, kalau mau makan minta sama Bi Jumi, tidur siang dan jangan lupa ngaji," ucapku menirukan gaya Mama.

"Gaya banget sih, Mas. Dianya sendiri ga ngaji," cibir Ghandy, lidahnya terjulur padaku dan terkekeh mengejek.

"Heh, bocah, enak aja. Mas juga ngaji, tau!" sungutku. Bantal kursi melayang tepat mengenai jidat Ghandy. Ia meringis sembari tersungut-sungut menuju kamarnya.

***

Menjelang makan malam, Kak Ajeng pulang diantar pacarnya, Mas Sadawira.

Aku membuka pintu dan melihatnya kesal, di mana tepat saat menuju ruang tengah kulihat siluet bayangan Kak Ajeng sedang berciuman dengan pacarnya. Iuhh, menjijikkan!

Dengan wajah dingin aku menatapnya, meski Mas Sadawira tadi sempat menyapa dan tersenyum ke arahku, aku tak membalasnya, hingga ia hilang dari pandangan aku tetap berwajah masam.

"Kamu kenapa, Dek? di sapa sama Mas Sada kok diem aja," protes Kak Ajeng saat kami melangkah masuk secara beriringan.

"Kakak itu kenapa, sih. Jadi cewek kok mau dicium cowok. Kan bukan muhrim. Kata Pak Ustad, cewek sama cowok yang belum menikah di larang bersentuhan, bukan muhrim. Apalagi ciuman, itu dosa!" omelku panjang lebar.

Kak Ajeng menghentikan langkah dan menoleh ke arahku.

"Kamu tadi ngintip, ya? dosa, tau!"

"Bukan ngintip, Kak. Cuma ga sengaja lihat,"

Kak Ajeng berkacak pinggang dan menatapku garang.

"Ini urusan orang dewasa, kamu masih bocil jangan banyak tanya! ngerti?"

Aku hanya mengangguk. Takut mau bicara melihat mata Kakak yang hampir mau keluar. Wajah cantiknya jadi serupa kuntilanak, seram.

Tanpa menghiraukanku, Kak Ajeng berlalu begitu saja. Aku masih mematung ditempat dan tersadar saat suara mobil Mama terdengar di luar.

Derap langkah kaki Mama terdengar mendekat. Ia tersenyum manis dan mengangkat tentengan di kedua tangannya.

"Apaan tuh, Ma?" tanyaku girang.

"Nih, Pizza sama martabak, juga ada sate untuk kita makan malam,"

"Wah... makan enak!" seru Ghandy yang tiba-tiba datang entah dari mana.

"Kok tumben, Ma?" tanyaku.

"Nanti, Mama ceritain. Sekarang kita makan dulu," janjinya

Kami akhirnya menuju meja makan.

Tak lama Kakak keluar dengan rambut yang terlilit handuk dan pakaian yang sudah berganti. Wangi sabun mandi menguat dari tubuhnya.

"Wah, makan enak, nih, Mah," serunya, ia lalu duduk berhadapan denganku. Aku yang masih takut melihatnya, memilih mengangkat piring berisi sate dan membawanya ke ruang keluarga.

"Eh, mau ke mana, Gas? yok, makan sama-sama," ajak Mama. Aku hanya menoleh dan menggeleng, sempat melirik ke arah Kak Ajeng yang masih melempar tatapan sinis padaku.

Saat makan, kudengar Mama berbincang dengan Kak Ajeng dan Ghandy.

"Jadi, Ma... kita ikut Nenek? trus rumah kita gimana?" Kak Ajeng terdengar gusar.

"Ma, jangan pindah, dong," selaku.

"Ga, bisa. Kasihan Nenek, soalnya bulek Desi kalau sudah nikah mau ikut suaminya ke Manado, tugas," terang Mama.

"Lagian, ga gitu jauh, kok. Cuma agak masuk kampung aja, gitu,"

"Rumah ini rencana mau Mama sewain. Jadi, kalian mau ga mau harus ikut,"

"Kalau sampai ga mau ikut, kalian Mama pecat jadi anak!"

"Mama???"

****

Lanjut Membaca

Daftar Isi Rumah Nenek

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan