APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salahkah Aku Mendua

Salahkah Aku Mendua

Astrid terjebak dalam pernikahan hambar akibat perjodohan. Sikap dingin Tristan yang terus mengabaikan kehadirannya sebagai istri memicu luka mendalam. Kecewa karena tak dianggap, Astrid memutuskan kembali ke pelukan mantan kekasihnya, Deon. Tak sekadar mencari kenyamanan, ia menyusun rencana balas dendam demi memberi pelajaran pada suaminya. Astrid bahkan mengancam akan mencari pria lain jika Deon menolak. Ikuti lika-liku pengkhianatan ini sekarang.
Bab
Bagikan

Bab 2

Beberapa saat sebelumnya.

Seorang wanita menggunakan dress dengan pundak terbuka tampak berjalan dengan anggunnya menyusuri koridor sebuah perusahaan. Ia menatap seorang karyawan yang sedang duduk mengecek dokumen.

"Apa Tristan ada?" tanya Wanita yang memakai lipstik berwarna merah menyala.

"Anda sudah buat janji?" tanya sekretaris Tristan.

Wanita itu mencebik kesal, hingga menggunakan kedua telapak tangan untuk bertumpu di meja dan menatap gadis yang ada di belakang meja.

"Jika mau dipecat, usir saja aku. Kamu tahu siapa aku, 'kan! Apa masih perlu aku membuat janji?" tanya wanita bernama Viviana dengan angkuhnya.

Sekretaris Tristan menelan ludah, merasa takut dan akhirnya mengatakan kalau Tristan ada di dalam. Gadis itu tahu kalau Viviana adalah selingkuhan Tristan karena itu tidak berani membantah.

Viviana tersenyum miring tanda mengejek, lantas masuk ke ruangan Tristan begitu saja.

"Sayang, aku sangat merindukanmu." Viviana langsung berjalan cepat menuju meja kerja Tristan, bahkan tanpa ragu duduk di pangkuan Tristan dan merangkulkan kedua lengan ke leher pria itu.

"Kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang?" tanya Tristan dengan kedua tangan merengkuh pinggang Viviana.

"Mau menemui kekasih sendiri apa harus minta izin, hah?" Viviana dengan centilnya mengedipkan satu mata, bahkan menempelkan kening mereka.

"Baiklah, kamu benar," ujar Tristan dengan senyum kecil.

"Tris, kapan kamu akan menceraikan wanita itu?" tanya Viviana seraya memainkan dasi Tristan.

"Inginku secepatnya, tapi Astrid sangat keras kepala," jawab Tristan yang kesal karena tidak berhasil membuat Astrid menandatangani surat perceraian mereka.

"Memangnya tidak bisa apa paksa dia?" tanya Viviana yang seakan tidak sabar membuat Tristan bercerai.

"Tidak bisa, aku sudah coba. Mungkin ada satu hal yang bisa kita lakukan agar dia mau menandatangani surat cerai itu," kata Tristan menarik satu sudut bibir.

"Apa?" tanya Viviana

Tristan mendengar suara Astrid yang sedang bicara dengan sekretarisnya, hingga Tristan memiliki ide gila agar Astrid merasa kesal dan akhirnya mau bercerai dengannya.

"Mari menggila," jawab Tristan seraya merangkum pipi Vivian.

**

Astrid berjalan ke arah pintu ruang kerja Tristan, menatap daun pintu yang mungkin saja sedang menutup pandangan dari sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.

Sufiana takut untuk mencegah, hanya serba bingung karena satu atasannya, sedangkan satu lagi istri atasan yang sangat baik dan ramah.

Astrid menarik napas dalam-dalam, sebelum memutar gagang pintu. Hatinya seakan sedang bersiap untuk mengetahui fakta yang mungkin tidak seharusnya diketahui. Membuka pintu itu perlahan, Astrid harus menelan kenyataan pahit ketika melihat apa yang ada di hadapan mata.

"Ya Tuhan." Astrid memejam sekilas ketika melihat adegan ciuman panas yang sedang dilakukan Tristan dan selingkuhan yang bernama Viviana.

Tepat di saat Astrid masuk, Tristan dengan sengaja mencium bibir Viviana begitu ganas, bahkan tangannya meraba punggung Viviana dan mengusap secara konstan.

"Sudah selesai?" tanya Astrid yang mencoba bersikap santai dan tidak terkejut meski rasanya ada sebuah jarum tak kasat mata yang menusuk jantungnya.

Tristan menghentikan ciumannya, tak langsung menatap Astrid tapi memilih tersenyum pada Viviana.

"Jadi ini maksudmu menggila?" tanya Viviana setengah berbisik, akhirnya tahu maksud Tristan, mereka akan berselingkuh terang-terangan di hadapan Astrid.

"Tentu saja, sayang." Tristan dengan sengaja mencium pipi Viviana.

Astrid memutar bola mata, seakan malas dan bersikap kuat dihadapan Tristan.

Viviana bangkit dari pangkuan Tristan, lantas berjalan ke arah Astrid dengan telunjuk yang menyentuh bibir, seakan sedang memperlihatkan kalau bibir itu baru dimanjakan. Viviana melirik penampilan Astrid yang sangat formal, tersenyum miring seakan menghina gadis itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Tristan.

"Kenapa kamu ke sini?" tanya Tristan yang langsung memasang wajah malas.

"Aku mencoba menghubungi tapi tidak kamu angkat," jawab Astrid seraya berjalan ke arah meja Tristan tapi tidak duduk.

Astrid memastikan selingkuhan suaminya itu benar-benar keluar ruangan. Hingga kemudian melirik bibir Tristan yang terdapat bekas lipstik Viviana. Ia mengulurkan tangan untuk menghapus jejak di bibir, tapi langsung ditepis Tristan.

"Jangan menyentuhku!" Tepis Tristan kasar. Menatap kesal karena tak suka pada Astrid.

"Hmm ... baiklah, hanya mau mengatakan kalau ada bekas lipstik merah terang di bibirmu. Jangan sampai karyawanmu mengetahui apa yang kamu lakukan," ucap Astrid yang tentu saja mengandung nada sindiran. Gadis itu terlihat begitu santai, tak memperlihatkan jika dirinya marah atau cemburu.

Tristan semakin kesal dengan yang dilakukan dan diucapkan Astrid, hingga mengusap permukaan bibir menggunakan jempol tanpa melihat istri sahnya itu.

Astrid menghela napas kasar, sadar kalau kedatangannya pasti tak diharapkan, tapi demi ibunya dia harus mengajak Tristan.

"Ada apa ke sini?" tanya Tristan sekali lagi. Pria itu masih saja enggan menatap Astrid.

"Mama menghubungi, dia minta kita makan siang bersamanya sekarang," jawab Astrid yang tak ingin berlama di ruangan itu.

"Ck, apa mau ibumu? Kenapa kamu tidak mau bercerai saja?" Lagi-lagi Tristan membahas masalah perceraian. Dalam pikirannya sekarang adalah memikirkan bagaimana memutus hubungan dengan Astrid.

"Aku tidak mau membahasnya sekarang, aku hanya mau meminta kamu datang untuk melegakan hati Mama, atau kamu mau kalau Mama mengadu pada Papamu?" tanya Astrid yang tentu saja mengandung sebuah ancaman.

Tristan mencebik kesal, posisi dirinya di perusahaan masihlah seorang direktur utama di bawah pengawasan ayahnya. Tentu saja Tristan masih harus merasa takut jika posisinya tergeser kalau sampai orangtua Astrid mengadu, jika hubungan Tristan dan Astrid tidak baik.

"Baiklah, tunggu di luar! Aku akan segera menyusul!" perintah Tristan yang kesal.

Astrid hanya mengangguk, lantas keluar dari ruangan. Tristan benar-benar kesal karena masih saja berada dibawah kendali sang ayah. Andai saja perusahaan itu menjadi miliknya, serta memiliki separuh saham perusahaan itu, pastinya Tristan akan memiliki posisi yang kuat dan tak perlu mengikuti keinginan Astrid atau orangtua gadis itu.

Astrid keluar ruangan dan melihat Viviana yang ternyata duduk di kursi depan meja sekretaris Tristan seraya menyilangkan kaki.

"Kenapa? Diusir, ya?" Viviana mengejek Astrid yang keluar dengan ekspresi wajah datar.

Astrid tidak menanggapi perkataan Viviana, memilih langsung berjalan meninggalkan tempat itu untuk menunggu Tristan di lobi.

Beberapa saat kemudian, Tristan keluar dari ruangan, tentu saja hal itu membuat Viviana merasa senang.

"Mau makan siang?" tanya Viviana langsung merangkul lengan Tristan. Wanita itu tersenyum manis untuk menunjukkan pesonanya.

Tristan menggaruk kepala tidak gatal, kemudian dengan berat hati menjawab, "Maaf, aku ada perlu dengan Astrid. Kita makan siang bersama lain kali, ya!"

Viviana langsung mencebik, menghentakkan dua kaki bergantian karena kesal.

"Kenapa? Sekarang kamu cinta sama dia!" tuduh Viviana yang langsung melepas lengan Tristan. Ia kemudian bersedekap dan memalingkan wajah.

"Bukan, tapi ini karena orangtuanya ingin bertemu kami. Kamu tahu aku hanya mencintaimu, bagaimana bisa kamu menuduhku mencintainya, hmm?" Tristan mencoba merayu Viviana. Meyakinkan hati kekasihnya itu untuk percaya padanya.

Viviana tetap saja kesal, tidak rela jika Tristan tiba-tiba menyukai Astrid. Meski tidak suka, tapi Viviana tetap cemburu jika Tristan pergi dengan Astrid.

"Yakin hanya karena ingin menemui orangtuanya?" tanya Viviana memastikan.

Tristan mengangguk tanda mengiakan, hingga akhirnya Viviana memperbolehkan Tristan pergi.

Sekretaris Tristan mengelus dada, merasa heran dengan sikap atasannya.

"Bu Astrid itu baik, ramah, cantik. Kenapa Pak Tristan malah selingkuh dengan siluman rubah? Kenapa pula Bu Astrid sangat baik dan penyabar, coba kalau aku. Sudah aku ajak duel tuh si rubah," gumam Sufiana dalam hati karena tahu kelakuan atasannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan
8.1
William terpaksa menikahi Fransiska tiga tahun lalu akibat tekanan keluarga, meski hatinya milik wanita lain. Kebencian mewarnai pernikahan mereka hingga Fransiska pergi studi ke luar negeri. Saat kembali, William justru menuntut cerai demi kekasihnya yang sekarat. Fransiska yang terluka setuju untuk pergi, namun sikap William mendadak berubah dan sengaja menunda perpisahan mereka. Di tengah keraguan sang suami, mampukah Fransiska lepas dari ikatan rumit ini?
Sampul Novel Godaan Cinta Sejati
8.6
Yulia terpaksa menikah ke keluarga Jayendra hanya untuk mendapati Billy, suaminya, dalam kondisi koma. Keajaiban terjadi saat Billy terbangun pasca pernikahan, namun ia justru bersikap dingin dan berniat menceraikan Yulia karena tak mengenalnya. Saat Yulia hamil dan berencana pergi diam-diam, Billy yang semula membencinya justru berubah posesif. Ia menolak perceraian dan mendekap Yulia erat, menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya selamanya.
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas
8.9
Queena Bulan Latief terjebak dalam pernikahan hasil perjodohan klasik yang menyakitkan. Usai ijab kabul, ia mendapati fakta pahit bahwa suaminya telah memiliki istri lain. Meski secara hukum Bulan merupakan istri sah yang pertama, realitanya ia hanyalah sosok kedua di hati suaminya. Harapan Bulan untuk menjadi satu-satunya pun hancur seketika. Kini, ia harus berjuang menghadapi takdir rumit dan bertahan dalam dilema berbagi kasih dengan madunya.
Sampul Novel JENUH
8.0
Kehidupan pernikahan Lisa dan Toni tampak sempurna dengan kekayaan dan ketenangan tanpa konflik. Namun, kedamaian itu justru memicu rasa jenuh yang mendalam bagi Lisa. Meski Toni adalah suami idaman yang tampan dan royal, Lisa merasa hambar. Kehadiran seorang pria lajang baru kemudian menggoda kesetiaannya hingga ia terjerumus dalam perselingkuhan. Akankah pengkhianatan ini menghancurkan rumah tangga mereka atau menjadi akhir dari kejenuhan yang ia rasakan?
Sampul Novel Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu
9.1
Betapa hancurnya hatiku saat mengetahui Arza, suamiku sendiri, berselingkuh dengan Zorah. Padahal, selama ini aku yang membiayai hidup janda dari mendiang kakakku itu. Sungguh kejam cara Zorah membalas segala kebaikanku. Namun, aku tidak akan tinggal diam meratapi pengkhianatan ini. Aku telah menyiapkan serangkaian kejutan menyakitkan yang akan menghancurkan hidup mereka berdua. Kini saatnya para pengkhianat itu merasakan pembalasanku yang tak terduga.
Sampul Novel Mr. Ergan Obsession
8.5
Ergan Tirta Alviano, CEO kaya raya sekaligus pewaris tunggal di Jakarta, terjebak dalam obsesi mendalam terhadap gadis biasa bernama Andira. Meski memiliki segalanya, cinta Ergan ditolak karena Andira setia pada kekasihnya selama dua tahun. Perbedaan materi tak menyurutkan langkah Ergan yang berkepribadian keras. Ia nekat menempuh berbagai cara, dari taktik halus hingga paksaan, demi memenangkan hati Andira. Akankah ambisi penuh emosi ini berujung pada cinta sejati?