APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sebuah Pengabdian

Sebuah Pengabdian

Hamid hampir mewujudkan mimpinya menjadi tentara saat orang tuanya mendesak pernikahan dini yang tak diinginkan. Meski marah karena harus menikahi wanita asing, ia mengalah demi kebahagiaan orang tuanya. Tak disangka, pernikahan ini justru mendewasakan Hamid dan mengajarinya bahwa hidup adalah pengabdian kepada Tuhan. Namun, berbagai ujian berat mulai mengancam komitmennya. Mampukah Hamid dan istrinya bertahan menghadapi cobaan demi menjadi abdi sejati?
Bab
Bagikan

Bab 1

Di depan gerbang sebuah sekolah menengah, nampak beberapa siswa yang nampak sangat gembira. Sambil memegang selembar kertas di tangan kanannya, mereka berteriak kegirangan. Bak telah terlepas dari sebuah bencana yang melanda mereka dan menentukan nasib mereka. Kini mereka hanya tinggal memetik buah dari kerja keras mereka selama ini. Hati mereka telah siap untuk terus belajar di jenjang yang lebih tinggi.

Keempat siswa tersebut bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun mereka nampak tak terburu-buru. Mereka menepuk tangan satu sama lain untuk merayakan hari kelulusan mereka itu.

“Setelah ini kau akan melanjutkan pendidikanmu dimana?” tanya Aji pada teman di sampingnya.

“Aku ingin kuliah di bidang bisnis agar aku dapat menggantikan ayahku untuk mengurus perusahaan. Hamid pasti juga sama sepertiku. Dia kan anak tunggal. Siapa lagi yang akan menggantikan ayahnya mengurus perusahaan selain dia? Iya kan, Hamid?” jawab Marcell.

“Oh tidak, tidak. Aku tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis. Aku lebih suka menjadi tentara saja,” sela Hamid yang berada di samping Marcell.

“Apa? Tentara? Kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan perusahaan ayahmu? Siapa yang akan mengurusnya?” tanya Marcell.

“Iya Hamid. Ayahmu kan sudah tua. Ayahmu pasti membutuhkan seseorang untuk menggantikannya mengurus perusahaan dengan segera. Lagipula kau kan anak satu-satunya,” lanjut Aji.

“Iya Hamid. Sebaiknya kau melanjutkan kuliah di bidang bisnis saja bersama denganku. Lupakan saja impianmu untuk menjadi seorang prajurit demi membahagiakan orang tuamu,” sambung Marcell.

Hamid terdiam mendengar ucapan dari teman-temannya. Ia merasa bimbang tentang mana yang harus ia pilih. Apakah harus mengikuti keinginannya untuk menjadi tentara atau berbakti pada kedua orang tuanya dengan menempuh pendidikan di bidang bisnis?

Rafiq yang berada di samping kiri Hamid dan terdiam sejak awal mulai angkat bicara, “Eh sudah hentikan! Jangan diperpanjang lagi masalahnya! Biarkan Hamid memilih jalannya sendiri! Nanti juga ada cara lain untuk mengurus perusahaan ayahnya. Lebih baik sekarang kita pulang saja. Kita beritahu kabar bahagia ini pada kedua orang tua kita. Mereka pasti akan merasa bahagia dan bangga pada kita.”

“Iya. Ayo Hamid kita pulang saja! Tidak usah difikirkan lagi masalahmu itu! Nanti juga ada jalan keluarnya. Tapi, nanti kalau kau memilih untuk melanjutkan kuliah di bidang bisnis, kau katakan saja padaku! Nanti kita berangkat mendaftar bersama,” sahut Marcell.

Keempat pemuda itu bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, mereka menolehkan wajah ke belakang. Melihat kembali sekolah mereka yang akan mereka tinggalkan itu. Mereka pun mengucapkan selamat tinggal bersama-sama. Kemudian mereka melambaikan tangan mereka ke arah gerbang. Mereka terus melambaikan tangan sambil menatap sekolah yang menjadi tempatereka menimpa diri itu. Rasa bahagia juga sedih bercampur menyatu dalam hati mereka. Mereka memang senang karena telah lulus dari sekolah menengah mereka. Namun di balik itu mereka juga sedih bila harus meninggalkan sebuah sekolah yang selama tiga tahun setia menemani mereka dalam belajar. Sekolah yang selama tiga tahun telah menyimpan kenangan indah di antara mereka, teman-teman, juga antara mereka dengan sang guru.

Setelah merasa cukup lama menatap gerbang sekolah, dengan perlahan, keempat siswa tersebut membalikkan tubuh mereka. Mereka kembali menghiasi wajah mereka dengan senyuman. Halim dan Rafiq yang sempat meneteskan air mata segera menghapusnya dan kembali tersenyum. Kemudian menyalakan motor bersama-sama. Karena arah rumah mereka sama, Marcell mengajak ketiga temannya itu untuk berlomba balap motor. Akan tetapi, sebenarnya ia hanya ingin menantang Hamid yang baru saja menggunakan sepeda motor barunya untuk pergi ke sekolah.

Hamid yang sudah dapat menebak niat Marcell, langsung menjalankan sepeda motornya dengan sangat kencang. Melihat Hamid yang bersemangat dengan sepeda motornya yang merah menyala itu, ketiga temannya yang masih berada di belakangnya tertawa bersama-sama. Kemudian mereka pun mengikutinya.

“Hahaha...Dasar Si Hamid! Sudah ayo kita kejar!” ucap Marcell.

Marcell mulai menjalankan sepeda motornya. Rafiq dan Aji pun mengikutinya. Mereka juga tak ingin ketinggalan dengan Hamid. Marcell berhasil menyusul Hamid. Ketika Marcell menyamai posisinya, Hamid segera menambah kecepatannya. Namun tetap saja, Marcell menjadi pemenang seperti biasanya.

Setelah tiba di rumah, Hamid segera berlari dan memanggil-manggil orang tuanya dengan suara yang keras. Seorang wanita tua keluar dan menemui Hamid setelah mendengar suara yang menggetarkan seisi rumah. Hamid pun langsung mencium tangan wanita tersebut.

“Ada apa? Siang-siang kok malah teriak?” tanya wanita tersebut.

“Ibu lihat! Aku lulus dan mendapat nilai tertinggi,” jawab Hamid dengan nada gembira.

Wanita tersebut terbelalak ketika melihat selembar kertas yang ditunjukkan oleh Hamid kepadanya. Ia pun berkata, ”Waah...Bagus sekali, nak. Anak ibu ini memang yang terbaik. Tapi ayahmu masih di kantor. Nanti malam setelah ayahmu pulang, kamu langsung beritahu saja ya.”

“Yaah!!! Padahal aku sudah tidak sabar untuk memberitahukannya pada ayah,” keluh Hamid.

Hamid terus menunggu kepulangan sang ayah. Agar ia dapat segera memberitahukan kabar bahagianya itu dan memberitahukan tentang rencananya untuk melanjutkan pendidikannya di dunia militer. Sejak setelah solat isya’ Hamid hanya berdiri di depan pintu. Agar ia dapat langsung menyambut ayahnya jika sudah pulang.

Tak lama kemudian, penantiannya pun berakhir ketika ayahnya telah sampai di rumah. Hamid segera menyambut kepulangan sang ayah. Ia mencium tangan ayahnya sambil menunjukkan senyumannya yang lebar. Hingga membuat sang ayah menjadi heran akan sikapnya itu.

Segera setelah itu, Hamid menggandeng tangan sang ayah untuk memasuki rumah. Setelah itu, ia meminta sang ayahnya itu untuk duduk di samping sang ibu yang telah dahulu beristirahat di atas sofa. Saat semua anggota keluarga berkumpul, Hamid langsung menyerahkan surat kelulusannya pada sang ayah.

Sang ayah memperhatikan dengan seksama nilai-nilai yang didapat Hamid dari ujiannya. Setelah melihat semua nilai-nilai Hamid, Yasir merasa sangat bangga pada putra tunggalnya itu. Ia langsung teringat pada masa kecil Hamid yang selalu menjadi anak kebanggan semua orang. Bukan hanya di dalam keluarga,namun juga di lingkungan masyarakat. Hamid adalah anak yang pintar dan cerdas. Ia sering mengikuti berbagai macam perlombaan. Baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar kota. Ia paling sering mengikuti perlombaaan tilawah Qur’an dan dakwah islam. Ia sering mendapatkan juara alam perlombaan-perlombaan tersebut. Ia bahkan sering mendapatkan juara pertama dalam lomba tilawah Qur’an karena keindahan nada dan kemerduan suaranya. Hamid tak pernah gagal dalam mendapat juara. Baik di dalam kelas maupun dalam perlombaan.

Melihat senyuman di wajah sang ayah, tanpa berfikir panjang lagi, Hamid mengutarakan niatnya pada kedua orang tuanya. Hamid yang duduk di samping kanan sang ibu tengah dibelai rambutnya kemudian berkata, ”Ibu, ayah, sekarang aku kan sudah lulus SMA, setelah ini aku ingin melanjutkan pendidikanku di Akademi Angkatan Darat. Boleh kan? Aku ingin menjadi prajurit yang hebat seperti Kak Sa’ad.”

Sejenak Hamid terdiam. Ia menundukkan kepalanya lalu menlanjutkan perkataannya, "Ya,aku tahu ayah. Ayah pasti menginginkan agar aku melanjutkan memimpin perusahaan ayah. Tapi apa salahku ayah, jika aku ingin mewujudkan impianku itu? Apakah aku tidak boleh memiliki cita-cita sendiri?”

Mendengar ucapan Hamid, Yasir meletakkan selembar kertas di tangannya di atas meja. Ia menarik nafas sejenak lalau menjawab, "Iya, ayah mengerti. Kau ingin menjadi tentara seperti Sa’ad. Kau boleh pergi kesana. Ayah tidak akan melarang. Tentang perusahaan nanti ayah yang akan mengaturnya.”

Hamid merasa sangat bahagia mendengar jawaban dari sang ayah. Ia lalu menjawab, "Terima kasih banyak ayah.”

“Iya. Kau pasti akan pergi kesana. Tapi sebelum itu, ibu ingin meminta satu hal darimu. Kau mau mengabulkan keinginan ibu kan, nak?” sela Mona.

Hamid terkejut mendengar ucapan ibunya, sontak ia langsung bangkit dari duduknya. Ia menghadapkan wajahnya pada sang ibu dan dengan penuh semangat ia pun berkata, ”Iya bu. Aku mau mengabulkan semua keinginan bu. Apapun itu. Asalkan aku bisa belajar di sekolah militer. Tapi, apa keinginan ibu itu?”

Mona memandang Yasir sejenak. Ia masih ragu untuk mengatakan keinginannya pada Hamid. Demikian pula dengan Yasir. Ia pun kembali memandang Hamid. Bagaimanapun juga mereka harus mengatakannya pada Hamid.

Melihat wajah kedua orang tuanya yang berbeda dari biasanya membuat Hamid merasa sangat heran. Ia lalu memegang tangan ibunya dan berkata, ”Ada apa ibu? Apa permintaan ibu?”

Pertanyaan Hamid membuat Mona dan Yasir terbangun dari lamunan mereka. Yasir lalu mengedipkan matanya sebagai isyarat agar Mona segera mengatakannya pada Hamid. Mona pun menganggukkan kepalanya.

Mona memandang wajah Hamid dengan lembut. Kemudian ia mendudukkan Hamid kembali. Dengan sangat hati-hati ia mulai berkata, ”Hamid! Dengarkan ibu! Ibu dan ayah kan sudah sangat tua. Dan mungkin usia kami tidak akan lama lagi. Maka dari itu, sebelum ibu dan ayah menutup mata, ibu dan ayah ingin memiliki cucu. Ibu dan ayah ingin melihat cucu kami sebelum menutup mata, walau itu hanya satu. Jadi, ibu dan ayah minta padamu sebelum pergi ke Akademi Angkatan Darat menikahlah terlebih dahulu dengan wanita pilihan ibu dan ayah. Wanitanya baik, cantik, sholehah. Dan kau pasti akan sangat menyukainya hanya dengan bertemu sekali saja. Besok kita akan melamarnya. Kau akan tahu siapa dia. Kau mau kan, nak?”

Jantung Hamid seketika berhenti berdetak setelah mendengar pernyataan dari ibunya.Senyuman di wajahnya langsung menghilang. Ia pun berkata, "Apa? Menikah bu? Apa maksud ibu sebenarnya?Aku kan masih sangat muda. Aku juga belum tahu apa-apa tentang dunia pernikahan. Aku tidak mau bu! Aku belum siap sama sekali.”

“Lagipula aku bisa gagal masuk Akmil jika ketahuan sudah menikah,” lanjut Hamid.

“Nanti kita akan sembunyikan statusmu. Kita akan tutup serapat mungkin rahasia ini," sahut Yasir

“Tidak semudah itu ayah.”

Dengan amarah yang besar, Hamid segera bangun dari tempat duduknya. Kemudian ia berjalan dengan sangat cepat ke kamarnya. Mona dan Yasir sudah menduganya sejak awal bahwa hal ini pasti akan terjadi. Tapi mereka tak mempunyai pilihan lain. Mereka harus melakukannya.

Mona mencoba untuk menyuruh Hamid untuk kembali dari kamarnya. Ia ingin memberikannya pengertian tentang masalah tersebut. Namun Yasir melarangnya. Yasir menyuruhnya untuk membiarkan Hamid menyendiri selama satu malam. Semua itu mereka lakukan agar Hamid menjadi lebih tenang esok hari. Kemudian fikirannya akan kembali jernih. Dan ia akan bersedia untuk memenuhi permintaan mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bad Duda
9.2
Edeline dihantui trauma mendalam yang membuatnya takut bersentuhan dengan pria. Namun, takdir membawanya menjadi dokter magang di rumah sakit milik Elvis Dalton, seorang duda arogan yang dikenal kejam. Meski awalnya saling membenci, benih kebutuhan mulai tumbuh di antara mereka. Keduanya adalah jiwa yang terluka oleh masa lalu dan penyesalan. Akankah pertemuan ini menyatukan kepingan puzzle hidup mereka, ataukah semesta justru memisahkan dua insan yang penuh luka ini?
Sampul Novel Chasing Your Love
9.4
Carissa kabur dari rumah demi menghindari perjodohan paksa dengan duda oleh ayahnya, tanpa tahu itu muslihat ibu dan adik tirinya untuk merebut warisan. Di tengah kemalangan saat pelarian, ia diselamatkan oleh Fabian. Pria itu meminta Carissa berpura-pura menjadi tunangannya guna menghindari perjodohan dari sang ibu. Namun, Fabian terkejut saat tahu calon aslinya adalah mantan kekasihnya. Kini Carissa jatuh hati, sementara ia harus berjuang merebut kembali haknya.
Sampul Novel CINTA TAK MEMILIKI POLA
8.0
Dirgana adalah janda dua anak yang bekerja keras sebagai pengemudi ojek daring demi menyambung hidup. Takdir mempertemukannya dengan Dimas, putra pemilik toko emas yang tengah didera keputusasaan. Tanpa mereka sadari, ibu Dimas telah merancang skenario agar keduanya terikat dalam pernikahan sebagai balas budi atas bantuan Dirgana di masa lalu. Kini, mereka terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga rahasia yang penuh kejutan akibat rencana tersebut.
Sampul Novel Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
8.5
Lima tahun silam, Bettina Rowe menyelamatkan nyawa Asher Lambert hingga ia kehilangan kemampuan untuk mengandung. Karena Asher mengaku enggan memiliki keturunan, Bettina terkejut saat suaminya mendadak ingin menggunakan jasa ibu pengganti. Asher memilih Betsy Sugden, mahasiswi yang berwajah mirip Bettina, demi mendapatkan ahli waris. Tanpa Asher sadari, Bettina sudah membulatkan tekad untuk bercerai tepat saat rencana itu diutarakan padanya.
Sampul Novel Gairah Cinta Senior
8.4
Diana memprioritaskan masa depan di atas asmara, bahkan nekat menolak cinta Arga meski mereka saling suka sejak lama. Namun, keteguhannya diuji saat ia memasuki dunia perkuliahan. Di tengah upaya Arga yang terus mengejarnya dari jauh, Diana justru bertemu Bara, senior galak dengan reputasi bad boy yang mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara kesetiaan pada masa lalu atau menyerah pada gairah baru yang menantang.
Sampul Novel Ibu cantik, Ayah licik
8.7
Akibat jebakan keji dari ibu tiri dan kakaknya, pernikahan yang telah direncanakan dengan matang terpaksa dibatalkan karena sebuah alasan mustahil. Bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya memutuskan kembali ke kota kelahirannya. Dengan tekad yang sangat kuat, ia berjuang keras melalui berbagai rintangan demi merebut kembali segala hal yang pernah menjadi miliknya. Kini, ia siap menghadapi masa lalu untuk memulihkan haknya yang telah dirampas secara tidak adil.