APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SEKRETARIS PENGGODA BOSS

SEKRETARIS PENGGODA BOSS

Kinan sangat antusias menjadi sekretaris CEO di Accor Group meski kekasihnya, Febian, menentang keras. Febian berprasangka buruk bahwa profesi tersebut identik dengan godaan dan skandal. Demi membuktikan profesionalitasnya, Kinan tetap bekerja dengan gigih bersama Erlan, sang atasan. Namun, ketegangan memuncak saat Kinan harus melakukan perjalanan bisnis ke New York berdua dengan Erlan. Kinan memilih mengabaikan amarah Febian demi karier impiannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kinan masuk ke dalam ruangan Erlan, ia menatap pria itu sedang duduk memandang pekerjaanya. Sedetik kemudian Erlan menyadari kehadiran Kinan. Erlan memperhatikan Kinan berada di depan daun pintu, dia sangat cantik mengenakan rok sepan pendek di atas lutut berwarna coklat muda, dan blouse putih tanpa lengan, hingga kulit putihnya terlihat jelas.

“Sudah selesai?” Tanya Erlan.

“Sudah pak,” ucap Kinan, ia lalu duduk di kursi tepat di hadapan Erlan.

Kinan menyerahkan hasil pekerjaanya kepada Erlan dan Erlan tidak lupa menandatanganinya. Selama Kinan bekerja selama dua bulan ini, wanita itu sudah bekerja dengan cukup baik, ia akui bahwa Kinan sangat cekatan dan teliti. Ia merasa terbantu dengan kehadiran Kinan di sini.

“Oiya, Minggu depan kita ke New York.”

Alis Kinan terangkat mendengar kata New York, “Saya ikut pak?”

“Iya, kamu ikut damping saya.”

Kinan tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya bersama Erlan bedua di sana. Ia juga bingung mengatakan kepada Febian kekasihnya, bahwa ia ada perjalanan dinas ke luar negri.

“Kamu ada visa dan paspor kan?”

“Ada, pak.”

“Oke, bagus. Kamu pesan dua tiket kelas bisnis, nanti saya serahin ke saya.”

“Baik pak.”

Erlan menatap jam melingkar di tangannya menunjukan pukul 13.20 menit. Ia perlu istirahat karena sejak pagi ia belum makan.

“Kamu temani saya lunch.”

“Baik pak.”

Erlan menyimpan proposalnya di laci, ia mengambil kunci mobilnya dan lalu beranjak dari duduknyaa. Ia menatap Kinan juga ikut berdiri di sampingnya, menyeimbangi langkahnya. Kinan ke ruangannya mengambil tas nya lagi. Mereka makan siang seperti ini, sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin, hanya sekedar makan siang, tidak lebih.

Kinan tidak lupa mengunci pintu ruangannya, lalu mereka melewati koridor. Kinan menatap karyawan sudah berada di kubikel. Ia melihat Winda melambaikan tangan ke arahnya. Kinan melambaikan tangan balik dan tersenyum kepada sahabatnya itu.

Kinan masuk ke dalam lift bersama Erlan menuju lantai dasar. Kinan melihat tangan kiri Erlan berada di saku celananya. Pintu lift terbuka, Kinan menyeimbangi langkah Erlan menuju basement.

“Kamu ada rekomendasi mau makan di mana?” Tanya Erlan menatap Kinan.

“Di Bistecca aja pak, deket dari sini,” ucap Kinan, ia tahu bahwa selera Erlan memang restoran western, jadi ia selalu merekomendasikan bistro-bistro yang enak untuk Erlan. Ia juga bukan wanita yang selalu mengatakan terserah, ia harus bisa mengemukakan pendapat, kenapa di sana enak, apa menu terbaik.

“Kamu pernah makan di sana?” Tanya Erlan, memandang Kinan.

“Pernah, pak.”

“Sama siapa?”

Kinan menatap Erlan dan Erlan menatapnya balik, ia bingung akan menjawab apa, karena ia makan di sana dulu bersama Febian pacarnya.

“Sama pacar saya.”

Bibir Erlan terangkat, namun tanpa senyum. Ia tahu bahwa Kinan memiliki pacar, pria itu sering menjemput dan mengantar Kinan ke kantor. Ia tidak mempermasalahkan jika Kinan memiliki pacar, dan itu urusan hati Kinan, ia tidak ikut campur.

“Apa makanan di sana enak?” Tanya Erlan lagi.

“Lumayan.”

Mereka menatap pintu lift terbuka, Erlan dan Kinan meneruskan langkahnya menuju mobil Mercedes-Benz milik Erlan. Kinan menyelipkan rambutnya di telinga, ia menatap Erlan masuk ke dalam mobil begitu juga dengan dirinya.

“Letaknya di mana?” Tanya Erlan, ia menstater mobilnya lalu tidak lupa memasang seat belt.

“Tower C, lantai ground di 18 Parc SCBD. Tinggal lurus aja dan langsung belok kiri, gedungnya itu kelihatan,” ucap Kinan.

Erlan memanuver mobilnya, ia mengikuti intruksi Kinan menuju restoran Bistecca pilihan wanita itu. Erlan memperhatikan jarak mobil dan motor di hadapannya. Ia melirik Kinan bersandar di kursi dengan tenang.

“Kamu sudah lama pacaran?” Tanya Erlan penasaran.

Kinan lalu menoleh memandang Erlan, ia tidak menyangka bahwa boss nya ini menanyakan hal pribadi kepadanya. Sebenarnya ia tidak terlalu suka jika Erlan sudah menanyakan hal pribadi seperti ini. Dan ia juga tidak bisa, kalau tidak menjawab pertanyaan itu.

“Sudah setahun, pak.”

“Sudah lama juga,” ucap Erlan, ia masih fokus dengan kemudi setir, ia hanya reflek menanyakan itu kepada Kinan, namun sebenarnya ia ingin tahu juga berapa lama wanita itu berpacaran.

“Kerja di mana pacar kamu?”

“Kerja di bank Central, sekarang posisinya sebagai manager finance.”

“Udah ngapain aja sama pacar kamu?” Tanya Erlan lagi.

Kinan mengerutkan dahi, sepertinya pertanyaan Erlan terlalu berlebihan jika menanyakan tentang apa yang ia lakukan dengan kekasihnya.

“Apa saya harus menjawab pertaanyaan itu, ke bapak?”

Erlan menarik nafas, ia melirik Kinan, “Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa Kinan. Saya enggak memaksa.”

“Sepertinya pertanyaan itu terlalu pribadi untuk bapak tanyakan kepada saya.”

“Oke, skip saja pertanyaan itu.”

“Oke.”

Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Erlan juga tidak bertanya lagi hubungan Kinan dan kekasihnya. Erlan akui bahwa ia sudah lancang menanyakan hal yang kurang pantas ia pertanyakan. Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di Bistecca.

***

Erlan dan Kinan masuk ke dalam restoran, ia akui bahwa selera Kinan dalam memilih restoran selalu baik. Restoran ini bergaya classic dan mewah. Mereka duduk di salah satu kursi kosong di dekat jendela. Tempat ini lebih cocok untuk dinner romantic dari pada makan siang seperti ini.

Erlan menatap server menyambutnya dengan hangat, dan memberi mereka buku menu berbahan kulit itu. Erlan memesan Florentine butter chicken, bistecca burger, dan signature baked Alaska.

“Kamu bisa minum kan?” Tanya Erlan kepada Kinan.

“Apa nggak terlalu siang untuk minum?” Tanya Kinan.

“Saya ingin minum.”

“Oke, asal jangan mabuk,” sahut Kinan.

Erlan lalu tertawa, “Apa yang terjadi jika saya mabuk.”

“Saya sudah membayangkan bagaimana merepotkan kamu jika mabuk, harus membopong kamu.”

“Kamu pernah mabuk?” Tanya Erlan, menatap Kinan.

Kinan tersenyum, “Pernah, hasilnya saya nggak bisa berdiri muntah sambil memeluk closet, rasanya mau mati. Saya juga pernah muntah di tepi jalan.”

Erlan lalu tertawa, “Di mana kamu mabuk?”

“Di Lounge, Kemang. Sama teman-teman saya dulu.”

Untuk minumanya Erlan memesan satu botol Martini Bianco, tidak lengkap rasanya jika makan steak tidak minum. Setelah server mencatat pesanan mereka, serverpun meninggalkan table. Erlan menatap Kinan, wanita itu bergerak secara natural. Erlan melihat Kinan merogoh ponsel di dalam tasnya.

Kinan menatap ke arah layar ponsel, “Febian Calling.” Kinan memasukan lagi ponsel itu ke dalam tasnya.

“Kenapa nggak di angkat, Kin?” Tanya Erlan memandang Kinan.

“Biarin aja …,” ucap Kinan ragu, karena yang menelfonnya adalah Febian kekasihnya.

“Angkat aja, enggak apa-apa kok, siapa tau penting,” ucap Erlan menatap Kinan.

Kinan menarik nafas, ia mengambil ponselnya lagi, ia menggeser tombol hijau pada layar, ia letakan di telinganya. Ia melirik Erlan yang menatapnya intens.

“Iya, Bian,” ucap Kinan pelan.

“Kamu lagi apa, sayang?” Tanya Bian.

“Aku lagi lunch.”

“Di mana?” Tanya Bian lagi.

“Di Bistecca.”

“Sama siapa?”

Kinan menatap Erlan, ia menelan ludah, ia tahu jika ia mengatakan makan dengan boss nya, pasti Bian akan ngambek dan mendiaminya hingga beberapa hari.

“Sama temen-temen kantor, karena Winda ulang tahun hari ini. Kamu lagi apa?” Tanya Kinan, memelankan volume suaranya.

“Aku lagi di kantor, kerjaan aku banyak banget, kemukinan aku lembur malam ini,” ucap Bian.

“Kamu nanti pulang naik taxi aja ya. Aku beneran sibuk malam ini.”

“Iya, enggak apa-apa kok.”

“Yaudah kalau gitu. Aku lanjut kerja lagi.”

“Iya.”

Kinan mematikan sambungan telfonnya, ia melirik Erlan yang tengah menatapnya intens. Kinan menarik nafas, ia memasukan lagi ponselnya ke dalam tas.

“Kenapa kamu nggak jujur, kalau kamu sama saya,” ucap Erlan.

Kinan menatap Erlan, sebenarnya ia bingung akan menjawab apa, namun ia tetap berpikir, “Kalau saya jawab sama kamu, pacar saya akan marah kepada saya dan mendiami saya berhari-hari.”

“Bukannya dia tahu kamu seorang sekretaris, yang kerjaanya selalu sama saya.”

“I know, saya tidak suka jika pacar saya tahu, jika saya terus-terusan sama kamu. Saya tidak akan mengambil resiko lebih jika saya ketahuan.”

“Jadi kamu sering berbohong dengannya.”

“Demi kebaikan, hubungan saya dan dia.”

Erlan melipat tangannya di dada, ia memandang Kinan cukup serius, memperhatikan wajah cantik itu.

“Jika seperti ini, berarti saya bisa jadi selingkuh dengan kamu.”

Kinan otomatis menatap Erlan, pria itu mengatakan ingin berselingkuh dengannya, “What?”

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Sampul Novel Cinta Semalam Sang CEO
8.8
Terjebak tantangan teman saat mabuk, Prakas menghabiskan malam bersama Miona, gadis yang terpaksa menjual diri demi utang ibunya. Setelah mengusir Miona, Prakas terkejut mendapati gadis itu adalah putri Pak Imam, sosok OB yang ia anggap ayah sendiri. Berniat menebus kesalahan, Prakas melunasi utang keluarga Miona dan memintanya berhenti dari dunia hitam. Namun, Miona yang terluka justru menolak belas kasihan itu dan bertekad membayar balik semuanya.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang CEO
9.3
Danendra Danu Atmaja, pengusaha sukses, tiba-tiba menawarkan untuk melunasi biaya pengobatan ibu Arana Salingga. Namun, bantuan tersebut datang dengan syarat yang mengejutkan: Arana harus menikahinya. Meski Arana sudah memiliki kekasih dan merasa asing dengan Danendra, pria itu tetap bersikeras. Arana terjebak dalam dilema besar karena perbedaan status sosial mereka yang sangat jauh. Mengapa sosok CEO ternama tersebut memilih gadis biasa sepertinya?
Sampul Novel Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya
9.5
Kebingungan melanda Arumi saat tak sengaja membaca pesan mertuanya di ponsel Akram. Elina, sang ibu mertua, memberikan ucapan selamat yang hangat atas kelahiran cucu pertama yang dianggapnya sangat cantik. Arumi merasa ada yang janggal karena anak mereka, Ayumi, seharusnya adalah cucu pertama di keluarga itu. Rahasia besar apa yang disembunyikan Akram darinya? Pesan misterius tersebut kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka yang semula tenang.
Sampul Novel Janda Dua Anak Untuk Arjuna
9.6
Diceraikan Ricky saat hamil, Raisa berjuang membesarkan anak kembarnya hingga menjadi sekretaris Samuel Tirta. Meski awalnya ditolak, kepolosan Raisa meluluhkan hati Samuel sebelum pria itu kembali ke pelukan Lidya, wanita yang menghancurkan rumah tangga Raisa. Takdir membawanya menjadi sekretaris Arjuna, adik Samuel. Saat Arjuna melamarnya, Raisa bimbang karena harus berhadapan lagi dengan Lidya. Akhirnya, ia memilih menikah dengan Arjuna Desta Mahendra Tirta.
Sampul Novel Sang Perempuan Duplikasi
9.2
Anne terjebak dalam kebingungan saat gejala aneh dan ingatan asing mulai menghantui kesehariannya. Di tengah krisis identitas ini, ia harus menghadapi Henry, suaminya yang merupakan CEO perhiasan arogan dengan perangai kasar serta obsesi gelap. Anne pun merasa terasing dalam rumah tangganya sendiri. Satu-satunya pelipur lara hanyalah Ben, asisten pribadi yang menawarkan kehangatan. Akankah Anne menemukan jati dirinya di antara kekejaman Henry dan kenyamanan dari Ben?