APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel PRIA BERKEKUATAN MONSTER DI DALAM DINDING YANG TIDAK AKAN MUDAH DI HANCURKAN

PRIA BERKEKUATAN MONSTER DI DALAM DINDING YANG TIDAK AKAN MUDAH DI HANCURKAN

Shin, pria dari kalangan bawah, memiliki kekuatan monster akibat eksperimen kejam. Di dunia yang dikuasai Maou selama berabad-abad, kepemimpinan manusia kini mulai diragukan. Bersama rekan-rekannya, Shin bertekad menggulingkan pemerintahan yang tidak adil dan mengungkap rahasia besar yang tersembunyi. Akankah mereka berhasil memulihkan dunia, ataukah ini bencana akibat dosa masa lalu yang mustahil diperbaiki? Siapa yang akan punah lebih dulu?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Bagi setiap warga desa segera ke tempat evakuasi.”

Gadis dan lelaki itu masih melayangkan langkah di jalanan desa, melewati pohon-pohon juga beberapa rumah yang telah hancur.

Tampak wajah Maki semakin sendu sambil terus-menerus menghapus air mata yang hendak mengalir.

Shin tetap tak dapat berkata apa-apa, sekarang dia hanya mengekor kemana Maki pergi. Shin memandang rumah tempat terbangunnya tadi, lalu melewatinya, pintu rumah itu masih terbuka karena dia lupa menutupnya.

“Tujuan kita ke sana.” Maki menunjuk memberi isyarat.

Tatapan Shin tepat pada semacam tembok besar yang persis dengan benteng perbatasan desa. Itu adalah dinding kedua yang berada di pertengahan desa, biasanya disebut pusat desa yang dijadikan sebagai tempat evakuasi warga setempat, jika sewaktu-waktu ada serangan dari Maou ataupun bandit. Namun, kini ketakutan itu terjadi, benteng tebal yang sudah mereka bangun menyelubungi desa, kini dapat ditembus dengan begitu mudah.

Kini mereka sampai di depan gerbang yang tingginya mencapai delapan meter. Gerbang langsung terbuka karena penjaga tahu siapa yang akan masuk. Ada beberapa orang penjaga bersenjata di atas dinding tengah desa itu, juga beberapa penjaga yang memakai Nah elemen mereka untuk memperkokoh pondasi.

Gadis yang masih berjas dokter dan bercelana jeans itu bergegas lari ke bangunan besar yang di depannya tertulis “Balai Desa Gin”. Benar saja setelah Maki ke dalam, matanya mendapati banyak orang terluka.

Kaki Shin berhenti membuntuti, tetap menunggu di luar. Dia tidak mau menemui orang-orang yang terluka karena masih merasa trauma dengan mimpinya yang menghancurkan kota.

Pikiran Shin mulai menerka, kota mana yang sempat dia hancurkan? Karena ada beberapa nama kota yang dia ingat, contohnya Kota Daiyamondo, itu adalah kota peringkat kedua. Di sana banyak warga kaya yang hanya mementingkan harta sampai rela melakukan apa saja demi harta. Diperingkat pertama ada Kota Rubin yang di dalamnya terdapat panglima-panglima Monster Hunter yang kuat dan orang-orang yang kekayaannya di atas rata-rata serta terdapat tempat eksperimen di dalamnya, kota itu juga didirikan sebagai benteng Raja. Yang paling atas ada Pemerintahan Pusat yang ditempati oleh Pemerintahan serta sebagian besarnya terdapat orang-orang yang juga licik, dari sana mereka mengatur semua kota sampai ke pelosok-pelosok desa.

Shin dari tadi bolak-balik mendekati pintu seperti orang kebingungan. Maki sudah satu jam belum muncul dari Balai Desa. Kini lelaki berbaju lengan panjang itu semakin ragu untuk masuk atau tidak, tapi kali ini dia ingin memaksakan ke dalam meski harus merasakan trauma. Saat tangannya sejengkal lagi akan menyentuh gagang pintu dia terkejut karena pintu telah dibuka dari dalam.

“Shin, kenapa? Ayo masuk, aku perlu bantuanmu.” Maki menyodorkan kepala dari balik pintu tanpa mengeluarkan badannya.

Raut muka Shin semakin bingung. Dia langsung menundukan kepala.

“Ayolah jangan malu-malu.” Maki muncul, segera menarik tangan lelaki itu.

Shin tak akan mungkin melawan.

Sekarang mereka di dalam. Shin menatap banyak yang terluka, tapi semuanya tidak ada yang sampai parah. Ada yang berbaring di kasur mereka, ada juga orang yang sedang diobati oleh perawat. Trauma Shin tak muncul.

Maki terus menarik Shin hingga tiba di sebuah ruangan, di sana banyak sekali tabung-tabung kaca yang berisi cairan berwarna-warni. Shin juga melihat banyak benda aneh di dalam beberapa tabung. Dia penasaran, kemudian mendekati salah satu, tangannya hendak menyentuh benda bulat itu.

“Kalau jadi kau, aku tak akan memegangnya,” seorang pria tua bicara dari balik tabung.

Tangan Shin mengurungkan niatnya.

“Prof, perkenalkan dia, Shin.” Maki menunjuk.

“Shin, perkenalkan ini, Prof. Yamato.” Maki sudah berada di samping pria tua itu.

Shin dan Profesor segera berjabat tangan.

“Ada yang ingin kuperlihatkan kepada kalian.” Prof. Yamato memberi isyarat untuk membuntutinya.

Ketiganya masuk ke Ruang Penelitian yang masih berada di satu ruangan yang sama. Di dalamnya terdapat lebih banyak benda-benda aneh, tapi tersimpan di dalam lemari es yang pintunya dari kaca, membuat udara di sekeliling terasa dingin.

“Coba kalian lihat.” Prof. Yamato ingin menunjukan sesuatu di balik mikroskop.

Maki mendekatkan mata ke alat tersebut, lalu menerawang ke dalamnya. Setelah itu dia hanya mengangguk pada Profesor.

Jiwa penasaran Shin berkobar, dia juga langsung melihatnya, lalu setelah selesai wajahnya malah kebingungan. Dia tidak tahu itu apa, yang tertangkap hanya bulatan-bulatan kecil bergerak. Dia tidak tahu apa-apa tentang itu karena sebelumnya tak pernah belajar penelitian.

“Aku sudah tahu siapa yang menyerang desa. Bandit itu pasti suruhan dari Pemerintah Pusat.” Maki mengepalkan tangan, memanas.

Dari tadi Shin sudah tahu, tapi dia hanya ikut mengangguk. Dia memandang Maki tampak sangat marah, terlihat dari wajahnya menjadi masam.

“Prof, sebenarnya itu apa?” Shin berniat mengalihkan suasana.

“Itu adalah sel-sel yang aku ambil dari sisa serangan tadi,” jawab profesor jelas.

Maki mendekati Profesor, kemudian membisikan sesuatu padanya. Prof. Yamato menatap Shin serius.

Telinga Shin tak dapat menangkap apa yang mereka bicarakan. Begitu Maki selesai berbisik-bisik dengan professor, pria tua itu langsung menghampirinya.

“Kau ikutlah denganku.” Prof. Yamato melangkah. Shin segara mengikuti.

“Aku tidak ikut dengan kalian, masih banyak orang yang harus diobati.” Maki bergegas ke arah sebaliknya.

Shin masih membuntuti Prof. Yamato ke sebuah lorong. Dia menatap pria tua di depannya itu melambaikan tangan menyapa orang-orang yang dilewati. Shin melontarkan senyum pada mereka berniat sama, tapi mereka malah memandangnya sinis. Muka Shin tidak peduli karena merasa bahwa masih baru di sana. Jadi, orang-orang belum mengenalnya.

Pria berpakaian putih itu berhenti di sebuah ruangan bertuliskan “laboratorium 2”. Profesor masuk, juga diikuti Shin. Mereka melewati benda-benda aneh persis dengan yang tadi. Mereka segera ke raungan lain. Profesor bergegas menghampiri lemari besar..

“Lihatlah ini.” Prof. Yamato menarik salah satu laci besar lemari tersebut.

Ada mayat seorang laki-laki dengan perawakan tinggi. Kini Shin merasa heran sembari mendekat pada Profesor yang sudah berada di sebelah mayat.

“Coba kau lihat ini, apa ada yang aneh?” Profesor menunjuk mayat tersebut dengan sorot matanya.

“Menurutku tidak ada yang aneh,” jawab Shin sambil menelaah mayat itu.

“Coba kau sentuh.”

Shin mulai menggerakan tangan, lalu menyentuh bagian dada mayat tersebut. Seketika muncul sedikit sinar dari bagian kulit yang bersentuhan, seperti ada aliran listrik yang menyetrum. Shin pun mengerjap, dan kebingungan dengan apa yang terjadi barusan.

“Dugaanku selama ini benar. Manusia dengan kekuatan dari sebab yang sama, bila bersentuhan akan terjadi reaksi,” ujar Profesor gembira, tidak memperdulikan perasaan yang dirasakan lelaki di depannya.

“Maaf, Shin, aku terlalu bersemangat.” Prof. Yamato merasa tak enak.

“Tidak apa-apa, Prof itu memang benar.” Shin tak ingin mematahkan kegembiraan Profesor.

“Apa sebelum melihat mayat ini kau merasa ada yang aneh dengan perasaanmu?” Profesor langsung bertanya.

“Iya,” jawab Shin singkat.

“Aku harus membicarakannya dengan tim.” Profesor menutup kembali laci besar tersebut dan berjalan ke ambang pintu.

Sementara Prof. Yamato telah meninggalkan ruangan itu, Shin masih berdiri disana memikirkan yang terjadi tadi. Dia belum dapat menyimpulkan semuanya. Juga, apa yang akan Profesor bicarakan dengan timnya?

-Bersambung-

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Broken Vessel
7.9
Di dunia di mana setiap orang memiliki kekuatan spesial bernama Arte, Trystan yang berusia 21 tahun justru terjebak dalam bahaya besar. Kekuatan langka miliknya memicu perburuan mematikan; banyak pihak ingin menghabisinya atau memanfaatkan kemampuannya. Hidup Trystan kini dipenuhi pengkhianatan, dendam, dan rasa kehilangan yang mendalam. Di tengah paksaan serta tanggung jawab besar, ia harus berjuang melindungi hal berharga sambil menghadapi musuh yang terus mengincar.
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Nyawa Alexa, pewaris dinasti politik, terancam bahaya. Ayahnya menugaskan Rafael, mantan pasukan khusus yang kaku dan disiplin, sebagai pengawal pribadi. Meski Rafael berusaha menjaga batas profesional, pesona Alexa perlahan meruntuhkan pertahanannya. Di tengah intaian musuh, sebuah godaan muncul. Bagi Rafael, melindunginya dari pembunuh adalah tugas rutin, namun tantangan terberatnya justru menahan perasaan agar Alexa tidak jatuh hati padanya.
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila
9.4
Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.