APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sindiran Pedas Istri Kedua

Sindiran Pedas Istri Kedua

Keputusan Tiara mengizinkan suaminya berpoligami membawa penderitaan mendalam. Meski sudah mencoba bersabar dan mengalah, hidupnya tak kunjung damai akibat ulah istri kedua. Tiara terus menjadi sasaran sindiran tajam nan menyakitkan, baik melalui interaksi langsung maupun unggahan di media sosial. Kini, ia berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah Tiara tetap bertahan dalam pernikahan penuh luka ini, atau ia berani mengambil langkah untuk pergi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku segera masuk. Takut kalau tiba-tiba Syira terbangun. Ternyata bungsuku yang belum genap berusia dua bulan itu masih tertidur pulas. Aku pun melanjutkan aktivitas beberes rumah yang tadi masih terbengkalai. Kemudian menyiapkan perlengkapan untuk mandi Syira.

Setelah semua beres aku kembali ke kamar. Syira masih pulas tidurnya. Tentu saja, semalam dia sering terbangun. Kupandangi wajah mungil Syira. Persis wajah papanya. Hidung, mata, bibir, serta garis wajah seakan dia adalah papanya versi mini. Sayang, walaupun ia terlahir sebagai fotocopian papanya tetapi dia tidak akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sempurna dari orang tua laki-lakinya itu.

Aku tersenyum pilu memandang wajah tanpa dosa itu. Sedih? Pasti! Apakah aku menangis? Tidak akan lagi! Air mataku sudah kering. Kalau pun masih ada, hanya ibarat sumur dangkal kala musim kemarau. Menyisakan kerak-kerak air di dasarnya.

Aku sudah pernah ada pada titik terendah. Di mana hari-hariku selalu ditemani oleh air mata, menyesali takdir, dan menyalahkan diri sendiri. Itu pernah kulalui.

Desas-desus hubungan terlarang Hendi dan Nadia sudah pernah kudengar. Awalnya aku tetap berprasangka baik, bahwa hubungan itu hanyalah sebatas pertemanan karena memang kami sudah saling mengenal sejak masa sekolah dulu. Karena kabar burung itu tidak juga hilang, aku pun meminta penjelasan dari suamiku, lelaki yang sudah bertahun-tahun mengarungi jatuh bangun perjalanan hidup bersama.

Jawabannya persis seperti harapan naifku. Mereka hanya sebatas melanjutkan pertemanan yang sudah terjalin sejak dahulu. Walaupun demikian, aku tak begitu saja menerima jawaban dari Hendi. Aku pun mengajak Nadia untuk bertemu. Aku ingin berbicara dengannya dari hati ke hati. Jawaban Nadia pun tidak jauh berbeda.

"Hendi kalau diajak ngobrol, seru orangnya. Topik apa aja dia nyambung."

Begitu Nadia memberi penjelasan kala itu. Naif memang, aku pun mengaminkan hal itu dulu. Tidak mungkin Nadia akan menjadi orang ketiga di antara kami. Apalagi suami Nadia sebelumnya adalah orang penting di salah satu instansi di pemerintahan daerah. Mustahil kalau dia akan turun level dengan menjalin hubungan dengan orang biasa. Apalagi gaya hidup keluarga Nadia yang glamor. Tidak selevel dengan kami yang menjalani kehidupan secara sederhana.

Aku mencoba berpikir positif dan berharap bisa bernapas lega. Namun terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan, bagai petir di siang bolong. Tanpa angin atau pun hujan, Hendi berkata padaku bahwa dia akan menikahi Nadia.

Aku benar-benar shock. Tak ingin percaya tetapi Hendi mengucapkannya dengan serius. Untuk percaya aku pun takut. Takut menerima kenyataan.

Saat itu aku tidak mampu berkata apa-apa. Menangis dan menangis hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan selama berhari-hari.

Seminggu setelah itu, Hendi kembali mengemukakan hal yang sama. Kali ini aku sudah agak bisa mengontrol emosi. Aku tanya alasannya. Jawabannya sederhana dan terdengar amat klise.

"Aku nyaman bersama Nadia. Dan kami tak ingin jatuh ke lembah dosa."

Aku berdecak. Kali ini aku mencoba untuk berdebat dengan Hendi. Tidak ada alasan yang kuat untuk dia ingin menikah lagi. Aku masih bisa melaksanakan kewajibanku sebagai istri. Aku pun tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama atau pun yang merusak nama baik keluarga.

Aku menolak dan menentang keinginannya itu. Akan tetapi, dia tetap bersikeras. Lagi, kutemui Nadia. Aku minta padanya untuk tidak melanjutkan rencana mereka itu. Namun, dia menanggapi dengan dingin dan santai.

"Kami sudah sama-sama nyaman dan saling cinta. Kalau kamu keberatan, aku nggak masalah. Kamu bisa 'kan ngajuin gugatan," jawabnya tanpa ada rasa bersalah.

"Nad, kamu itu cantik, punya pergaulan yang luas dan juga berasal dari keluarga terpandang. Kamu bisa mendapatkan suami dari kalangan apa saja. Bisa saja pejabat, pengusaha atau pun orang-orang terkenal. Kenapa harus Hendi, Nad? Suami aku, lelaki yang sudah keluarga, udah punya anak?"

Sengaja aku memujinya, walaupun hanya di bibir. Berharap pendiriannya bisa tergoyahkan. Dia hanya tersenyum tipis lalu berkata, "Takdir sudah menjodohkan kami, tidak ada yang bisa membantah takdir. Apa lagi kamu yang bukanlah siapa-siapa."

Aku benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya dia sok agamis dan beretorika berlindung di balik takdir. Apa yang dia pahami dengan takdir? Apakah membangun rumah dengan menghancurkan rumah orang lain adalah takdir?

Bukan! Itu keegoisan. Itu kejahatan perasaan.

Tekad Hendi sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Keluarganya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana dengan aku? Siapkah aku berbagi suami? Sangat tidak siap dan tidak pernah terpikir olehku sama sekali. Namun kejadian ini benar-benar mengajarkanku bahwa jalan tidak akan pernah selalu lurus dan mulus. Tidak semua hal harus berjalan seperti keinginan.

Setelah berpikir matang-matang dan aku mengambil sikap. Aku memilih mundur. Walaupun orang tuaku agak keberatan dengan keputusan itu, pada akhirnya mereka tetap menyerahkan sepenuhnya padaku.

Hendi tidak bereaksi apa-apa atas sikapku itu. Dia meninggalkan rumah begitu saja. Entah ke mana dia pergi.

Rara yang selama ini sangat lengket dengan papanya, mendadak sakit. Dia selalu mengigau memanggil papanya. Selang beberapa hari, saat Rara masih belum membaik, karena kelelahan dan banyak pikiran aku pun jatuh sakit.

Dokter menyatakan kalau aku tengah hamil delapan minggu. Aku tidak tahu harus bahagia atau bagaimana atas kehamilan kali ini, mengingat kondisi rumah tanggaku yang sedang di ujung tanduk.

Atas pertimbangan kedekatan Rara dengan papanya dan juga kehamilanku, akhirnya aku batal mengajukan gugatan cerai. Mau tidak mau aku harus menandatangani surat pernyataan mengizinkan suamiku menikah lagi.

Jangan ditanya bagaimana rasanya. Sakit yang sudah tidak bisa digambarkan. Namun, kucoba untuk tetap melihat dari sisi positifnya. Paling tidak, dengan bertahan anak-anak masih akan bertemu papanya dan mendapat nafkah serta perhatian walaupun sudah takkan seperti sebelumnya.

Jika nekad berpisah, aku sangsi Hendi masih akan bertanggung jawab pada anak-anak. Sudah banyak contoh nyata. Begitu terjadi perpisahan orang tua dan hak asuh jatuh ke ibu maka lelaki yang bergelar ayah akan mendadak hilang ingatan. Lupa, abai akan kewajiban pada anak. Apalagi sudah ada keluarga baru. Selesailah sudah.

Sementara biarlah begini dulu sampai kondisi memungkinkan untuk aku bisa hidup mandiri tanpa tergantung pada Hendi lagi.

Terdengar getaran yang berasal dari HP yang kutaruh dilipatan popok Syira. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Aku curiga, jangan-jangan ada yang heboh lagi di dunia maya.

Segera kuambil benda pipih itu dan menyalakannya. Beberapa notifikasi tertera di layar. Aku jadi deg-degan. Ada apa lagi gerangan yang terjadi di dunia maya?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta, Dusta, dan Vasektomi
8.1
Hamil delapan bulan, duniaku runtuh saat menemukan bukti vasektomi Bima setahun lalu. Di kantornya, aku mendengar ia dan Erlan menertawakan kehamilanku sebagai bagian dari taruhan kejam demi Elsa, adik angkatnya. Pernikahan kami hanyalah permainan demi uang, bahkan mereka bertaruh soal siapa ayah bayi ini. Merasa dikhianati dan dijadikan piala dalam kontes menjijikkan, hatiku membeku. Dengan tenang, aku menelepon klinik untuk mengakhiri segalanya.
Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama mempermalukanku di hari pernikahan kami dengan menyebutku milik kakaknya demi kembali pada mantan kekasihnya, Saskia. Dia sengaja menunda kesembuhan Saskia demi menikmati hubungan mereka, yakin aku akan setia menunggu. Namun, Baskara salah besar. Aku tidak akan diam saja saat dia berencana memiliki kami berdua. Aku mendatangi penguasa sejati keluarga mereka, Dananjaya Aditama, dan memintanya menikahiku untuk menghancurkan Baskara.
Sampul Novel ISTRI YANG KUCAMPAKAN TERNYATA WANITA SUKSES
9.6
Dira harus menelan kenyataan pahit saat mendapati suaminya berselingkuh. Namun, pengkhianatan itu terasa jauh lebih menyakitkan karena sang suami menjalin hubungan gelap dengan adik kandungnya sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan dan mahligai rumah tangga, mampukah Dira bangkit untuk bertahan? Simaklah perjuangan Dira dalam menghadapi babak baru kehidupannya yang penuh tantangan demi meraih kesuksesan setelah dicampakkan begitu saja.
Sampul Novel Mengasuh CEO amnesia
9.7
Hidup Aurora berubah sejak menyelamatkan pria misterius di malam Valentine. Tak disangka, pria amnesia itu adalah Roberto, CEO kaya raya. Meski sempat terpisah paksa selama lima tahun, takdir mempertemukan mereka kembali di Gemini Group. Namun, Roberto yang sekarang sangat dingin dan tak mengenalinya. Aurora pun hancur saat menyadari cinta pertamanya telah melupakan janji mereka, bahkan kini ia telah memiliki tunangan yang siap bersanding di sisinya.
Sampul Novel Menjadi Istri Musuhku
9.8
Selena Grant, putri bangsawan Kota Seaview yang ambisius, tiba-tiba terbangun tanpa ingatan tentang tiga tahun terakhir hidupnya. Ia terkejut mendapati dirinya telah menikah dan rela merendahkan martabat demi mengejar cinta pria yang justru membencinya. Meski bukti pesan putus asa memenuhi ponselnya, Selena yang asli takkan membiarkan siapa pun menghinanya. Kini, ia bertekad membalas perlakuan buruk suaminya dan merebut kembali harga dirinya yang sempat hilang.
Sampul Novel Siapa Yang Menghamili Istriku?
8.4
Sebuah narasi mendalam yang penuh dengan misteri dan gejolak emosi dalam kehidupan pernikahan. Cerita khusus dewasa ini akan membawa pembaca menelusuri pengkhianatan dan rahasia kelam yang menghancurkan kepercayaan. Siapkan diri Anda untuk sebuah perjalanan yang menguras air mata saat setiap kepingan teka-teki mulai terungkap, memaksa karakter utamanya menghadapi kenyataan pahit yang tak terduga di tengah konflik romansa modern yang sangat pelik.