APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Bayaran

Suami Bayaran

Indra dihadapkan pada tawaran menggiurkan untuk memiliki harta melimpah dan takhta kekuasaan secara gratis. Namun, semua kemewahan itu memiliki syarat yang sangat berat: ia wajib menikahi seorang wanita dan berperan sebagai ayah bagi bayi yang bukan darah dagingnya sendiri. Di tengah gelimang harta dan tanggung jawab besar tersebut, sanggupkah Indra menjalani kehidupan rumah tangga penuh rahasia ini demi imbalan materi yang luar biasa?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Astaga!!"

Dinda terperanjat sembari menutup mulutnya dengan menggunakan sebelah tangan, melihat sebuah benda pipih kecil yang menunjukkan dua garis merah di tangannya. Wanita itu benar-benar dibuat terkejut hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari dalam mulutnya.

Perlahan, kedua matanya berkaca-kaca seakan-akan tak mampu membendungnya lagi.

"A-aku ... hamil???"

Ya! Awalnya ia benar-benar tak menyangka jika gejala yang ia alami akhir-akhir ini ternyata bukan gejala yang biasa. Pusing serta sering merasa lelah yang menyerangnya merupakan salah satu pertanda bahwa ada sesuatu yang tengah bersemayam di dalam perutnya.

Dinda terdiam untuk sesaat, lalu memandangi dirinya di dalam cermin kamar mandi itu.

"Aku hamil anakmu, Kevin?"

Wanita itu terdiam cukup lama, mengingat semua hal manis yang ia lakukan bersama kekasihnya. Ya! Teramat manis hingga ia lupa diri dan terlena sampai akhirnya terhanyut dalam sungai asmara yang menyebabkan dirinya seperti saat ini.

Dinda tak bisa begini sendiri, ia tidak bisa diam saja hingga semuanya terlambat. Lalu dengan satu gerakkan ia berdiri tegap dan kembali menghadap cermin.

"Aku harus bilang pada Kevin! Dia harus tahu kalau aku hamil anaknya."

Tok ... tok ... tok!

Suara ketukkan pintu itu lantas terdengar hingga ke dalam kamar mandi hingga mengejutkannya dan bahkan membuyarkan lamunannya. Dinda lekas mengerjapkan matanya dan berusaha menguasai diri, tak lupa pula menyeka genangan air mata yang hampir mentes.

"Dinda? Kamu sudah bangun? Ini sudah siang, Nak. Kamu gak akan masuk kerja?"

Terdengar suara bariton dari balik pintu tersebut, suara yang mampu membuat Dinda merasa sedih dan rasa bersalahnyapun tiba-tiba muncul begitu saja.

"I-iya, Pah! Dinda bentar lagi turun ... ini baru selesai mandi," teriaknya dari dalam kamar mandi.

"Baiklah, Papa tunggu di bawah, ya! Kita sarapan bareng."

Dind kembali terdiam dan menarik napas panjangnya, memejamkan mata sembari berpangku tangan pada wastafel di depannya.

"Tenang, Dinda. Kamu hanya harus bilang pada Anton agar dia mau tanggung jawab dan semua akan baik-baik saja," gumamnya penuh percaga diri.

***

"Ah! Sudah setengah jam tapi Dinda belum juga turun, apa dia baik-baik saja?" gumam Anggoro yang sejak tadi tak berhenti melihat jam dan bergantian melihat ke arah tangga rumahnya yang masih saja tak menampakkan sosok putri semata wayangnya.

Bagaimana tidak? Pagi ini berjalan tidak seperti biasanya, bahkan Dinda selalu tiba lebih dulu di ruang makan sebelum dirinya. Hal yang terus membuat kecemasan Anggoro bertambah saat ia mengecek langsung ke lantai atas tepat dimana kamar putrinya berada.

"Tadi suaranya memang terdengar sedikit serak," gumamnya lagi dengan terus mengira-ngira, "Haruskah kupastikan lagi?"

Belum sempat lelaki paruh baya itu bangkit dari duduknya, tiba-tiba gerakkannya terhenti saat seseorang mulai turun dari tangga lalu menyapanya.

"Pagi, Papa! Maaf aku bangun kesiangan, jadi-"

"Kamu tidak apa-apa?"

"Hmm?" Dinda mengerutkan keningnya pertanda heran.

Tetapi Anggoro, dengan sedikit terbata-bata kembali bertanya, "Papa sedikit cemas, apa kamu tidak enak badan?"

"Ah! A-aku gak apa-apa, Pa. Cuma bangun kesiangan aja, kok."

Anggoro masih terdiam dengan terus meneliti wajah anaknya yang terlihat sedikit berbeda.

"Kamu yakin? Dengan wajah pucatmu?"

Dinda terkesiap! Apakah ia lupa memakai lipstick? Ah tidak! Apakah lipstick yang ia gunakan kurang mencolok hingga wajahnya terlihat pucat seperti apa yang dikatakan ayahnya?

"Sial! Apa ini karena perutku yang agak mual!?" batinnya menerka-nerka.

Wanita itu berusaha menguasai diri dan lekas mengambil tempat duduk dengan berusaha pula terlihat berseri-seri.

"Masa sih?? Aku baik-baik aja, Pah. Mungkin karena aku dandan buru-buru jadi begini," jelasnya berusaha tetap tenang.

"Baiklah kalau begitu, tapi kalau kamu merasa gak enak badan jangan memaksakan diri ... izin absen saja dan istirahat yang banyak."

Dinda mengangguk cepat dan menjawab, "Siap, Boss!" Sembari menempelkan tangannya ada kening seolah memberi hormat.

Anggoro terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali berkata, "Ya sudah, ayo sarapan dulu!"

Dinda hanya tersenyum seraya mengembuskan napas leganya, "Fyuh ... syukurlah Papa gak curiga," gumamnya dalam hati.

Betapa tidak? Beberapa menit yang ia lewati terasa begitu tegang bagaikan mengikuti interview di perusahaan ternama, namun kali ini jauh ledih besar dari yang ia bayangkan karena jika Dinda salah berucap ... bisa-bisa ayahnya akan mengetahui hal yang sebenarnya.

Keduanya lantas melanjutkan santap sarapan bersama hingga selesai dan berangkat ke Kantor bersama dengan menggunakan mobil pribadi Anggoro.

Akan tetapi, siapa yang akan menyangka jika di tengah-tengah perjalanan tersebut rasa mual di perut Dinda kembali menyerang secara tiba-tiba? Wanita itu kini meboleh ke arah jendela berusaha menyembunyikan dan menahan rasa mual, namun sialnya jalanan pagi ini justru terlihat padat hingga terjadi kemacetan.

"Haduh! Macet lagi ... macet lagi," gerutu Narno, sang sopir pribadi keluarga Anggoro.

Anggoro yang duduk di samping sopir pun ikut geram dan berdecih, "Tidak ada jalan lain, Pak? Kita harus tiba di Kantor segera karena saya ada meeting."

Narno pun terdiam sesaat berusaha mengingat-ngingat jika ada alternatif jalan lain di sekitar tempat itu namun kali ini ia terlihat bingung hingga akhirnya menjawab, "Sepertinya tidak ada, Pak."

Situasipun berubah genting! Terlebih dengan keadaan Dinda yang duduk di jok bagian belakang dan tengah menahan rasa mual yang semakin membesar. Ya! Selain menahan rasa mual itu, Dinda harus tetap bersikp seperti biasa di depan kedua lelaki di depannya meski rasanya begitu sulit.

"Astaga ... mimpi apa aku semalam!? Rasanya aku mau mati!" batinnya.

Setelah terjebak kemacetan beberapa menit, mereka akhirnya keluar dari situasi yang tak mengenakkan itu dan tiba di Perusahaan besar milik Anggoro yang sudah puluhan tahun berdiri.

Dinda yang turun dengan terburu-buru itupun membuat ayahnya heran sembaru mengernyitkan keningnya, "Kamu kenapa lagi, Dinda?"

"A-ah! A-aku kayaknya masuk duluan, Pah. Mau ke Toilet dulu, bye!"

Dengan langkah tertatih-tatih wanita itu berjalan cepat meninggalkan Anggoro yang masih berdiri di samping mobilnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang putri tanpa merasa curiga sedikitpun.

***

Hoek!

Hoek!

Entah berapa kali Dinda terus memuntahkan makanan yang baru saja ia makan di rumah, perutnya benar-benar tak bisa diajak berkompromi lagi hingga wanita itu merasa lemas dan bersandar pada dinding toilet yang untung saja tidak ada orang lain di dalamnya.

Dengan napas terengah-engah Dinda memejamkan matanya merasakan ketidak nyamanan dalam perutnya.

"Aku harus gimana lagi? Masa iya harus absen dari Kantor!? Nanti Papa malah curiga," gumamnya merasa bingung.

Sorot matanya tiba-tiba membulat dan ia pun lekas bangkit dari sandaran dinding itu lalu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.

"Aku harus ketemu Kevin dan ngasih tahu kalo aku lagi hamil!" gumamnya lagi dengan jari-jemari yang sibuk mencari nomor kontak sang kekasih.

Akan tetapi, setelah beberapa detik berlalu sambungan teleponnyapun belum kunjung terhubung, hanya suara bagai klakson kereta api yang ia dengar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel CEO Bucin
9.2
Amanda, gadis panti asuhan yang sederhana, tak menyangka akan terikat pernikahan dengan CEO tampan bernama Antonio. Bukannya bahagia, Amanda justru menderita karena sikap dingin sang suami dalam rumah tangga tanpa cinta itu. Saat Amanda hampir menyerah akibat luka hati yang mendalam, Antonio justru menyadari bahwa kehadiran istrinya telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik. Ia pun berbalik mengejar cinta Amanda. Akankah Amanda memberi kesempatan kedua?
Sampul Novel Dari Cinta ke Benci: Kejatuhannya
8.8
Lima tahun menikah, identitas asliku terungkap sebagai pengganti Clara, kekasih Baskara. Setelah melahirkan pewaris Adhitama, aku justru disiksa dan dikurung. Puncaknya, Baskara membiarkan putra kami, Banyu, tewas demi menyelamatkan Clara yang bersandiwara. Kini, duka itu berubah jadi dendam dingin. Baskara tak sadar telah menandatangani surat kuasa fatal di balik dokumen arsitekturku. Keangkuhannya akan kuhancurkan lewat hak yang dia remehkan.
Sampul Novel Istriku Janda Kaya
8.4
Dicampakkan sang istri karena kemiskinan, Dimas terpuruk dalam kesulitan ekonomi hingga ditinggalkan tanpa belas kasihan. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Luna di kelab malam yang menawarkan pernikahan kontrak dengan tiga syarat khusus. Namun, saat Dimas mulai menata hidup barunya, sang mantan istri mendadak muncul kembali untuk mengusik kebahagiaannya. Akankah kehadiran masa lalu tersebut berhasil menghancurkan rumah tangga barunya bersama Luna?
Sampul Novel Kesalahan Cinta CEO: Balas Dendam Manisnya
8.2
Dunia Dayna runtuh saat Jon, pria yang ia cintai dalam diam, bertunangan dengan wanita lain. Enggan terpuruk, ia bangkit demi kebahagiaan sendiri. Karier Dayna pun melesat hingga menarik banyak pengagum baru. Jon yang menyesal berusaha kembali, namun Dayna hanya melempar senyum penuh teka-teki. Sebagai balasan, ia mengumumkan pencarian istri bagi sang CEO di internet dan menyebar nomor Jon ke berbagai situs kencan untuk mengacaukan hidupnya.
Sampul Novel Luka Cinta Dari Suami Obsesif
8.6
Demi nyawa kakek, aku terpaksa menikahi Simon Adijaya yang telah mengurungku selama sedekade. Namun, aku justru disiksa oleh Virginia hingga wajahku hancur. Bukannya menolong, Simon malah menyebutku sampah dan membuangku ke sungai es. Di ambang maut, aku tahu kakek telah tiada. Simon merampas segalanya dariku: orang tua, kebebasan, dan harapan. Kini, dendam membara dalam sukmaku. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya hingga dia memohon kematian yang takkan pernah kuberikan.