APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Selingkuh CEO

Suami Selingkuh CEO

Menikah karena perjodohan orang tua dengan seorang dokter, aku berharap cinta akan tumbuh. Namun, malam pertama kami terasa hambar tanpa kelembutan. Luka muncul saat aku melihat foto wanita lain di ponselnya. Meski ia kejam dan mengabaikanku demi selingkuhannya, hatiku bodoh karena tetap mencintainya. Kini aku terjebak dalam dilema antara terus memaafkan pengkhianatannya atau menyerah dan menuntut perceraian demi harga diriku yang kian hancur.
Bab
Bagikan

Bab 2

Seharusnya hujan turun hari itu, tepat di hari itu, ketika aku hanya beberapa menit dari gereja. Sebastian tak mungkin menikahinya jika ia mencintaiku. Aku menyetir sekencang mungkin hingga terjebak di antrean mobil. Tak ada jalan keluar, tak ada jalan mundur atau maju. Bahkan jika aku mengambil pintu keluar terdekat, itu akan memakan waktu lama. Aku hendak meninggalkan mobil di tengah jalan dan berlari; pada saat itu, sebuah mobil bergerak, dan aku memanfaatkannya untuk menepi. Meninggalkan mobil tak terkunci, aku berlari sekuat tenaga. Sebuah sepeda motor mengerem ketika aku tiba-tiba menyeberang, dan aku berhasil mencapai trotoar, tetapi tak lama setelah itu aku menjejakkan kaki di genangan air yang berjajar di sepanjang jalan.

Air mata mengaburkan pandanganku. Tanganku gemetar, jari-jariku kaku karena mencengkeram setir. Amarah, rasa sakit, dan kekosongan menggerogotiku dari dalam.

Mendesak ke dalam kerumunan, aku mencarinya... putus asa.

Dan kemudian kenangan itu membanjiri kembali: Aku melihatnya lagi, seperti pertama kali. Sebastian. Seorang residen bedah, sama sepertiku. Gaunnya yang sempurna, kepercayaan dirinya saat ia berjalan di koridor rumah sakit, dan senyum tipisnya yang seolah menjadi rahasia bersama.

"Camila, aku butuh bantuanmu," tanyanya suatu hari, dengan suara berat dan percaya diri yang membuatku tergila-gila, sambil menyerahkan sebuah map. Bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakannya. Seolah ia sudah mengenalku, padahal kami jarang bertukar sapa sebelumnya, seolah, tiba-tiba, aku tak lagi terlihat di tengah hiruk pikuk UGD.

Seiring waktu, kata-kata yang seharusnya tak pernah kudengar pun datang: janji setengah hati, jalan-jalan curi-curi, bisikan-bisikan di sela-sela shift yang tak berujung, tatapan yang membakar lebih panas daripada sentuhan apa pun. Hingga suatu hari, di saat lemah, ia mengatakannya.

"Aku mencintaimu."

Aku mendengarnya, tentu saja, tanpa ragu. Aku juga mencintainya, diam-diam, tanpa harapan. Dan kupikir itu sudah cukup. Saat itu, saat aku berlari menaiki tangga, menyusuri lorong-lorong, tersandung bangku gereja, berusaha tiba tepat waktu untuk membatalkan pernikahan, cinta itulah yang menjadi kekuatan pendorongku.

Aku telah meninggalkan rumah sakit dengan tekad bulat, dan karena gugup, aku telah membuat kesalahan besar. Seharusnya aku langsung pergi ke rumahnya, bukan ke alamat yang tertera di kartu undangan yang sengaja ditinggalkan seseorang di lokerku. Jika bukan karena waktu yang terbuang sia-sia di tengah kemacetan... Aku bersumpah akan membujuknya untuk mundur. Saat itu, dia hampir membatalkan, dan yang dibutuhkan hanyalah dorongan untuk mundur. Tapi ternyata tidak demikian. Señora Isabel, yang membenciku sejak pertama kali bertemu, telah mengambil keputusan untuk merebutnya dariku demi menikahkannya dengan wanita yang disukainya.

"Kau wanita tua pengkhianat! Kau wanita pengkhianat! Kau merenggutnya dariku dan hakku untuk menjadi istrinya." Yang tak kau tahu adalah dia mencintaiku, dia mencintai diriku apa adanya, dan kau tak bisa menghindarinya, sekalipun kau menginginkannya...

Hampir, sangat dekat, sebelum aku membawanya dari rumahmu ke rumahku...

***

Sebastián, saat itu juga, mengunci diri di kamar dan duduk di tepi tempat tidur, menatap tuksedo hitam yang terhampar di hadapannya. Sebuah kenangan indah berkelebat di benaknya: hari ketika ia memberikan cincin kepada Camila dan memintanya menjadi istrinya. Ia bisa merasakan ciuman-ciuman manis yang diberikan Camila saat Camila mendekapnya dengan gembira, berseru, "Aku bersedia!"

Kebingungannya bertambah karena tekanan pertunangan itu, dan ia mulai berbicara pada dirinya sendiri.

"Aku tak ingin menikahi Valentina. Aku mencintai Camila, aku sudah berjanji padanya. Aku tak bisa mengecewakannya."

Air mata Sebastián membasahi kemejanya, sementara tatapannya jatuh pada simpul dasinya yang tergantung di kait yang sama dengan selempangnya. Bayangan itu membuatnya kehilangan fokus, dan ia gemetar, tak tahu harus berbuat apa.

"Aku harus lepas dari komitmen sialan ini. Mereka tak bisa memaksaku. Aku bukan anak kecil!"

Ia sempat berpikir untuk melakukan sesuatu yang gila, berpikir cepat, bahkan mencoba memanjat keluar jendela, tetapi di lantai bawah ada ayah dan saudara perempuannya, berpakaian rapi dan menunggu dengan tak sabar.

Ia merasa menyesal, hanya memikirkan telah membuat mereka begitu menderita.

"Apa yang harus kulakukan?"

Dengan tangan yang gelisah, ia meraih ponselnya, menyalakannya, dan menelepon Camila.

"Angkat!"

Ia mencoba dua kali lagi, tetapi tak ada jawaban.

"Ini tak mungkin terjadi padaku..."

Pintu bergetar karena gedoran ibunya, yang terus-menerus memanggil, sementara ia tak sanggup membukanya.

"Sebastian, cepatlah. Kami semua menunggumu. Keluarga Rivas sudah di gereja! Mereka sudah meneleponku beberapa kali."

Suara Doña Isabel terdengar lebih seperti perintah daripada permohonan. Sebuah retakan dalam suaranya mengkhianatinya: ia gugup, gemetar karena penolakan putranya.

Putranya tidak menjawab. Ia menatap ke cermin, mengamati seorang pria terperangkap yang tak dikenalnya. Terpaksa menikahi wanita yang tak dicintainya.

Ia memejamkan mata, dan dalam kegelapan, ia muncul: Camila. Tawanya yang lembut, matanya yang berbinar-binar di bawah cahaya putih rumah sakit, cara ia mendengarkannya seolah setiap kata berarti. Dan suaranya, yang berulang kali mengatakan bahwa ia mencintainya.

"Bagaimana kita bisa sampai di sini?" pikirnya, rasa sakit menyesakkan dadanya. Tak ada jawaban. Hanya takdir yang dipaksakan.

Akhirnya, ia membuka pintu. Seolah menerima takdir itu adalah satu-satunya jalan keluar. Di sanalah ibunya, matanya berkaca-kaca, siap mengantarnya ke upacara. Ia memeluknya erat, memintanya berganti pakaian karena semua orang menunggunya. Dan ia, pasrah, setuju.

***

Di bagian lain kota, Valentina sedang merapikan detail terakhir gaunnya. Ia dikelilingi oleh keluarganya, yang tersenyum bangga, merayakan pernikahan itu sebagai sebuah kemenangan.

Sang pengantin wanita bercermin. Ia tampak sempurna: riasan tipis, rambutnya diikat rapi, kain putih memeluk siluetnya bagai simbol kesempurnaan. Tak ada keraguan di wajahnya, hanya ketenangan dan keyakinan.

Bagi Valentina, hari itu adalah perwujudan dari apa yang ia harapkan. Sebuah konsolidasi nama, sebuah kehidupan yang dirancang untuk tak pernah gagal. Ia bahagia. Tak ada yang mengganggu kebahagiaannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku bukan wanita penggoda
9.1
Anindya terpisah dari teman masa kecilnya, Yeja, setelah orang tuanya berdamai. Sembilan belas tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi rumit. Yeja kini menjadi calon suami Anindira, saudara kembar Anindya. Masalah muncul saat terungkap bahwa Yeja bersedia menikah hanya karena salah mengira Dira adalah teman kecilnya. Kini Anindya terjebak dilema: bungkam atau mengungkap kebenaran meski harus dibenci oleh kembarannya sendiri.
Sampul Novel CINTA ATAU BENCI
8.5
Akibat fitnah keji, Ella harus merasakan kekejaman Evan, pria yang sangat ia cintai. Ketidakpercayaan Evan dan penolakan keras dari keluarganya membuat hidup Ella hancur hingga berujung di penjara. Setelah bebas, takdir justru menyeretnya kembali ke pelukan Evan. Meski diselimuti ketakutan luar biasa, Ella seolah tak bisa menjauh dari pria itu. Di tengah siksaan yang terus berlanjut, Ella tidak menyadari bahwa Evan sebenarnya juga menyimpan rasa cinta.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Diuber Janda
8.8
Amin adalah seorang montir yang memiliki obsesi besar untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis perawan. Namun, kenyataan hidup justru membawa dirinya ke dalam situasi yang sangat tak terduga dan penuh komedi. Alih-alih berhasil mendekati gadis belia impiannya, Amin malah menjadi incaran para janda di sekitarnya. Mereka saling bersaing ketat demi menarik perhatiannya, membuat perjuangan asmara sang montir menjadi sangat rumit dan penuh rintangan.
Sampul Novel Enam Tahun Tanpa Malam Pertama
9.1
Terinspirasi dari kisah nyata, sebuah pernikahan yang telah berjalan selama enam tahun menyisakan sebuah tanda tanya besar. Meski status sudah bersuami, nyatanya sang istri masih tetap perawan hingga saat ini. Bagaimana mungkin hal tersebut terjadi dalam rumah tangga yang cukup lama? Jawabannya ada pada sang suami yang ternyata tidak mampu menyentuh istrinya. Ketidakmampuan ini membuat malam pertama yang seharusnya indah tak kunjung datang bagi mereka berdua.
Sampul Novel Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya
9.5
Kebingungan melanda Arumi saat tak sengaja membaca pesan mertuanya di ponsel Akram. Elina, sang ibu mertua, memberikan ucapan selamat yang hangat atas kelahiran cucu pertama yang dianggapnya sangat cantik. Arumi merasa ada yang janggal karena anak mereka, Ayumi, seharusnya adalah cucu pertama di keluarga itu. Rahasia besar apa yang disembunyikan Akram darinya? Pesan misterius tersebut kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka yang semula tenang.