APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suara Bayi di Ponsel Suamiku

Suara Bayi di Ponsel Suamiku

Kehidupan rumah tangga Suci mulai terusik sejak ia mendengar suara tangisan bayi yang misterius saat sedang menelepon suaminya. Meski awalnya mencoba untuk tetap berpikir positif dan menepis segala kecurigaan, Suci justru mulai menemukan berbagai kejanggalan lain yang semakin memperkuat keraguannya. Satu per satu rahasia yang tersembunyi mulai terkuak, membawanya pada kenyataan pahit yang tak terduga di balik sikap tenang sang suami selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ta-tapi, Mas. Kenapa pakai sertifikatku?"

"Ya terus sertifikat siapa lagi? Aku? Mana punya. Kamu, kan tahu sendiri aku sudah pensiun dari kantor," jawabnya. Lengkungan yang tadi terbit sudah menghilang kembali.

"Bukan gitu maksudku. Mas, kan selama ini kerja. Uangnya ju-."

"Ah, sudahlah. Bilang saja kalau tidak boleh. Menyesal aku biayain kuliahmu dulu," ujarnya sambil berdiri berjalan ke kamar mandi.

Aku melongo dibuatnya. Tak mengira ia akan mengungkit biaya yang ia keluarkan untuk kuliahku dahulu.

Memang dahulu, waktu golongan PNS ku masih rendah ia yang bersemangat mendorong agar aku kuliah lagi.

"Supaya golongan kamu naik dan gaji kamu bisa lebih besar," katanya waktu itu.

Awalnya aku ragu, lagi pula meski gajiku belum seberapa. Namun, gaji Mas Haris terbilang besar. Kami pun hidup dengan mapan dan nyaman berkat gajinya. Aku tak berpikir akan kuliah lagi dan meningkatkan golongan. Karena, walaupun sudah kuliah kenaikan pangkat tetap akan mengikuti prosedur yang ada.

Tapi Mas Haris bersikeras mendukungku. Akhirnya melihatnya gigih mendukung agar aku lanjut kuliah, aku pun menurut saja. Apalagi ia rela mengasuh Rian, putra pertama kami, sepulang kerja agar aku bisa kuliah di malam hari.

Tapi, tak kusangka ia akan mengungkit hal yang sudah lalu itu.

"Mas, maaf. Maksudku bukan begitu," ucapku menyusulnya.

Brakkk!

Pintu kamar mandi ditutup dengan keras.

"Mas, ini air hangatnya belum aku tuang," ucapku sambil menggedor pintu kamar mandi.

Tak hanya sekali. Berulangkali, aku menggedor pintu itu. Namun, tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.

Tak berapa lama kemudian terdengar suara guyuran air di dalam sana. Aku menghela napas, beranjak dari depan pintu kamar mandi.

Di kamar tidur, aku terus memikirkan permintaan Mas Haris. Aku merasa bersalah jika tak memenuhi permintaannya. Terlebih, ia telah mengungkit jasanya di masa lalu. Apa aku turuti saja maunya?

Tapi ... jika begitu gajiku akan dipotong banyak. Jika nanti ada kekurangan, siapa yang akan membantu. Tak mungkin juga aku akan merepotkan orang tua. Mereka sudah sepuh.

"Jadi bagaimana?" tanyanya saat masuk ke kamar.

"Nanti juga mas bantu cicilannya, Dek," ucapnya lagi.

Aku bergeming, tak menanggapi ucapannya. Aku takut jika salah ucap, ia akan marah seperti tadi.

"Lagipula Rian dan Ardi sudah punya pekerjaan. Kita tak butuh banyak biaya lagu seperti dulu. Kalau Farid butuh biaya banyak bisa minta tolong sama kakaknya," lanjutnya enteng sambil memilih baju di lemari.

Aku tak habis pikir. Ia bisa berpikir sampai seperti itu. Mana yang katanya tak akan merepotkan anak jika kami tua. Waktu membuka usaha rental itu, aku dukung seratus persen karena ia mengungkapkan alasan seperti itu. Namun, bukannya sadar karena telah kehilangan banyak ia malah semakin menjadi.

Awalnya pinjam untuk perbaikan mobil. Namun, sekarang mulai meminta menggadaikan sertifikatku. Nanti apalagi?

"Apa gak ada jalan lain, Mas?" tanyaku lirih.

Ia menengok ke arahku. Sambil memakai bajunya.

"Ya, paling sertifikat rumah ini jalan terakhirnya."

"Lho, rumah ini, kan atas namaku, Mas. Masa mau digadaikan juga, cuma demi mobil?" protesku.

"Ya memang atas namamu. Tapi tanah, uang untuk bangun, segala renovasi? Dulu pakai uangku semua."

"Kamu sekarang gitu, Mas. Aneh," ucapku ketus. Jujur saja aku mulai tersulut emosi karena hal ini.

"Aneh kenapa? Aku cuma minta kamu gadaikan sertifikat kamu menolak. Itu uang gak seberapa. Nanti aku ganti," omelnya.

"Mas. Mungkin dulu uang segitu gak seberapa. Tapi sekarang? Dengan kamu gak bekerja, gajiku sangat-sangat mencukupi kebutuhan kita. Aku pun harus menabung untuk masa depan Farid."

"Halah, Farid lagi jadi alasan. Bilang saja kamu takut uangmu habis. Heh, inget, ya. Dulu, aku gak pernah perhitungan sama kamu! Uang gajimu aku gak peduli mau dipakai apa. Semua kebutuhan kalian aku penuhi. Bayangkan, berapa puluh tahun aku begitu? Sekarang baru juga diminta segitu susahnya minta ampun."

Ia mulai kesal sepertinya. Aku mengakui, memang dahulu ia sangat memanjakan kami. Salahku juga uang gaji selama puluhan tahun ini tak pernah kutabung. Berbagai pakaian, sepatu, dan tas branded aku miliki. Gaya hidupku memang tinggi. Sering aku mentraktir teman-teman di kantor.

Sehingga, sekarang ketika ia pensiun. Memenuhi semua kebutuhan rumah tangga membuatku kelimpungan. Meski cukup, tapi aku tak bisa seperti dahulu. Aku pikir usaha rental kami akan membuahkan hasil. Namun, ternyata zonk.

"Gimana?" Ternyata ia masih berharap. Ia terus mendesakku.

"Tapi bagaimana dengan cicilannya, Mas? Aku gak mungkin sanggup kalau aku juga yang bayar cicilannya," ucapku lirih.

"Aku janji, aku bantu bayar cicilannya. Untuk urusan itu kamu gak usah khawatir." Lembut ia mengatakan itu.

Aku menghela napas. Sepertinya tak apa jika aku membantunya kali ini. Toh selama dua puluh delapan tahun pernikahan kami, ia selalu memanjakan ku. Tak ada salahnya aku membantunya. Mungkin, saat ini memang aku harus berkorban seperti yang ia lakukan dahulu.

"Baiklah, Mas. Kapan kita ke bank?" tanyaku.

"Wah, kamu setuju, Dek?" tanyanya.

Aku mengangguk. Meski ragu, aku kuatkan hati. Tak apa membahagiakan suami. Setidaknya aku berguna di masa tua kami dan bisa membalas jasanya.

"Besok kita langsung saja ke bank. Nanti mas langsung beli mobil cash. Biar gak dobel-dobel cicilan. Kayaknya tiga ratus juta cukup," ucapnya sumringah.

"Tiga ratus juta, Mas?" tanyaku terkejut. Tak habis pikir nominal yang ia ajukan besar sekali. Aku pikir untuk sebuah mobil tak akan lebih dari dua ratus juta.

Mas Haris mengangguk.

"Sekalian beli yang bagus biar gak rewel," ucapnya enteng.

"Tapi, Mas. Cicilannya pasti besar sekali," ucapku pelan.

"Nanti mas bantu, tenang aja," jawabnya.

"Mas kalau segitu, aku khawatir gajiku gak akan cukup. Mas tahu, kan. Berapa gajiku. Gak lebih dari lima juta perbulan. Sedangkan untuk menyicil tiga ratus juta seenggaknya butuh uang sepuluh juta per bulan untuk jangka waktu lima tahun."

"Ya kita minta panjangkan waktunya saja tujuh sampai delapan tahun. Biasanya mereka kasih. Lagian kamu kan ada uang sertifikasi. Itu 'kan besarnya sama dengan gajimu. Tuh udah bisa nutupi. Apalagi nanti aku bantu nyicil. Udahlah gak usah mikir yang aneh. Tenang aja," ucapnya lugas.

"Iya, tapi-."

"Kamu gak percaya sama mas? Masih belum cukup pengorbanan mas selama ini sama kamu?" tanyanya.

"Bukan begitu, Mas. Aku hanya takut gak mampu," ucapku memelas. Aku ingin ia dapat mengerti posisi rumah tangga kami saat ini.

"Ya, sudah terserahlah!" Ia merebahkan badan di ranjang dan tidur membalikkan badan membelakangiku.

Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran dari napasnya. Bersamaan dengan itu, kulihat layar ponselnya berkedip-kedip.

Sebuah nama terpampang di sana. Mami Zyan. Berarti seorang wanita. Apa harus kuangkat? Bagaimana kalau Mas Haris marah?

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dilahirkan Sebagai Ancaman
9.3
Zaira Callista Ramadhani tumbuh dalam kebencian ibunya sendiri. Meski sang kakek memberi nama 'Kliwon' sebagai pelindung, Zee tetap menjadi sasaran amarah dan hukuman tanpa alasan di rumahnya. Kontras dengan kakaknya, Ayla, yang dimanja, Zee justru dianggap aib masa lalu. Kelelahan batin mengubah Zee menjadi gadis dingin yang mulai memberontak. Saat sebuah rahasia besar tentang kelahirannya terungkap, ia akhirnya berani melawan takdir yang selama ini menindasnya.
Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kisah ini menyoroti dinamika cinta kaum urban dan fenomena penulis bayangan. Cassandra adalah penulis berbakat yang kemampuannya dieksploitasi oleh Ayu, klien setianya yang tidak memiliki talenta menulis. Di sisi lain, seorang editor sekaligus sahabat Cassandra menyadari potensi besar tersebut. Ia berjuang keras mendorong Cassandra agar berani meraih kesuksesan dengan karyanya sendiri tanpa harus terus bersembunyi di balik nama kliennya.
Sampul Novel Kau Sakiti Orang Yang Salah
9.0
Dendam atas kematian kakek dan neneknya membuat Reza Adyatama nekat menghancurkan hidup Luna Daniel. Luna yang tak bersalah menjadi sasaran kemarahan Reza hingga mereka berpisah. Empat tahun kemudian, Reza terkejut menemukan bocah tiga tahun yang sangat mirip dengannya. Menyadari itu anak kandungnya, penyesalan mendalam menghantui Reza. Kini ia bertekad mengejar Luna kembali. Akankah Luna memaafkan masa lalu kelam demi masa depan sang buah hati?
Sampul Novel Ketika Pernikahan Palsu Menjadi Nyata
8.1
Kapten Leon Hartmann terjebak dalam pernikahan paksa dengan Aveline Laurent akibat salah paham warga desa saat ia menolongnya di hutan. Padahal, Aveline segera menikah dengan tunangannya, sementara Leon menjalin hubungan serius dengan seorang dokter. Namun, formalitas ini justru membongkar rahasia gelap pasangan masing-masing yang selama ini tersembunyi. Di tengah pengkhianatan dan misteri, perasaan baru mulai tumbuh di antara mereka meski hati masih terikat masa lalu.
Sampul Novel MENIKAHI CEO LUMPUH
9.1
Demi kesembuhan sang ayah, Sofia yang baru berusia 19 tahun terpaksa menikahi Yesaya, seorang CEO lumpuh berumur 33 tahun. Awalnya penuh tekanan, perasaan Sofia berubah menjadi cinta tulus saat menemukan surat wasiat bunuh diri suaminya. Namun, cinta itu justru dibalas penolakan. Yesaya sengaja menjauhkan diri dan melakukan tindakan ekstrem demi melindungi rahasia serta kebahagiaan Sofia, meski hal tersebut malah menghancurkan hidup istrinya.
Sampul Novel Pacar Kedua dan Istri Rahasia
8.5
Pasca insiden maut, Rafka menyembunyikan Adiva di London tanpa sepengetahuan siapa pun. Meski menyadari hati istrinya milik pria lain, Rafka tetap setia melindungi. Namun, Adiva justru merencanakan pelarian demi membalas dendam pada masa lalunya. Ia menjebak saudara kembarnya, Agatha, untuk bertukar posisi agar bisa mengecoh pengawal Rafka. Saat Agatha terjebak di London, Adiva mencuri identitas saudarinya untuk kembali menemui sang ayah dan memulai aksi balas dendam.