APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suara Desahan Di Kamar Maduku

Suara Desahan Di Kamar Maduku

Kecurigaan menghantui Laras saat mendengar desahan mencurigakan dari kamar Maya, madu yang tidak ia percayai. Meski Maya memiliki segudang alasan, Laras yakin ada rahasia gelap yang disembunyikan rapat-rapat. Demi melindungi suami tercinta dari pengkhianatan dan tipu daya licik sang pelakor, Laras bertekad mengungkap kebenaran sendiri. Akankah ia berhasil membongkar perselingkuhan tersebut? Simak ketegangan konflik cinta segitiga penuh misteri ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

BAB 3

"Malam juga Maya," jawabku sembari melihat ke arah Maya. Namun, dahiku mengerut seketika saat aku melihat tanda tidak asing yang berada di leher Maya.

"Maya, itu leher kamu kenapa? Kok merah-merah kayak bekas cupangan?"

"Uhuk, uhuk." Tiba-tiba saja Maya terbatuk saat meminum air putih hingga ia menyemburkan air tersebut dari dalam mulutnya.

Tentu saja aku semakin merasa curiga dengan kelakuan nya ini. Bukankah hal ini menandakan kalau Maya tengah salah tingkah akibat ucapanku?

"Kamu tidak apa-apa, Maya?" tanyaku pada Maya mencoba masih berpikiran positif.

"Ah, e-enggak apa-apa kok, Mbak. I-ini tadi aku kerokan makanya merah-merah begini," ucap Maya lagi yang membuatku memicingkan mata menatap ke arahnya. Akan tetapi, Maya terlihat mencoba bersikap biasa saja seperti tidak ada sesuatu yang ia sembunyikan. Meskipun begitu tetap saja aku melihat jika memang ia tengah menyembunyikan sesuatu padaku.

Baiklah, kalau sudah begini lebih cepat lebih baik aku akan mencari tahu masalah yang ia sembunyikan dariku. Aku yakin cepat atau lambat pasti akan ketahuan semuanya.

Aku pun melanjutkan makanku yang tertunda sementara itu Maya sudah sibuk dengan ponselnya. Justru makanan yang ada di depannya belum ia sentuh sama sekali.

Aku memperhatikan Maya yang senyum-senyum sendiri saat berkutat dengan ponselnya.

"Maya, dimakan dulu itu nanti nasinya mekar karena sudah kecelup kuah sop," tegurku pada Maya.

"Ya, Mbak, tunggu sebentar, ini lagi chat an sama Mas Satria," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya padaku.

Baru saja aku akan menjawab ucapan Maya tiba-tiba saja ponselku di atas meja bergetar. Aku melihat ke layar ponsel ternyata terpampang nomor mas Satria yang tengah menghubungiku.

Aku kembali menatap Maya yang masih sibuk dengan ponselnya dan senyum-senyum sendiri hingga tanpa kusadari telepon dari mas Satria sudah berakhir.

Kalau dia bilang sedang berchat an dengan mas Satria lantas kenapa mas Satria malah menghubungiku? Tidak mungkin kan mas Satria yang menelponku juga berchat an dengannya? Ah, kepalaku semakin pusing memikirkan Maya yang seolah-olah menunjukkan siapa dirinya terhadapku secara terang-terangan.

Ponselku kembali berdering dan untungnya makananku pun sudah habis. Aku segera beranjak dari tempat dudukku, sedikit menjauh dari meja makan dan mengangkat telepon dari mas Satria.

"Halo, Mas," ucapku saat ponsel sudah tersambung.

"Halo Sayang, kamu sedang apa? Kamu baik-baik saja kan di sana? Jangan lupa makan karena kamu punya lambung akut. Mas gak mau kamu jatuh sakit kayak yang sudah-sudah." Beginilah suamiku kalau sedang menelponku. Maka ia akan memberondonku dengan banyak pertanyaan juga akan memberikan nasehatnya sebagai bentuk perhatian kepadaku. Mas Satria memang lebih sering menghubungiku daripada Maya. Bukan aku yang memintanya tapi mas Satria sendiri yang menginginkannya

Aku mengulas senyum meski aku tahu mas Satria tidak akan bisa melihatnya.

"Iya Mas, Sayang, ini aku baru saja selesai makan kok. Kamu sendiri sudah makan belum?" tanyaku pada mas Satria.

"Alhamdulillah sudah barusan juga. Oh iya, kalaj Maya apakah sudah makan atau belum? Kalian di sana baik-baik saja kan?" tanya mas Satria lagi.

"Lho, bukannya Mas tadi habis chat an sama Maya? Kok masih tanya sama aku?" tanyaku degan kening yang berlipat karena kan tadi meman si Maya bilang sedang berkomunikasi sama mas Satria.

"Enggak ah, dari tadi Mas belum ada pegang ponsel. Kan kamu tahu kebiasaan Mas kalau makan enggak pernah pegang ponsel. Ini saja Mas baru menghubungi lewat kamu makanya Mas tanya si Maya sudah makan atau belum." Aku bungkam sejenak hingga suara mas Satria kembali terdengar.

"Memangnya kenapa Sayang? Kok kamu bisa bilang Mas sama Maha habis berchat an?" tanya mas Satria lagi.

"Ah, enggak, Mas, mungkin aku yang tadi salah dengar. Ini kami baru saja selesai makan kok, Mas. Mas Satria kapan pulang? Aku rindu."

"Baru juga satu minggu sudah rindu. Biasanya kan satu bulan Mas baru pulang."

"Hehehe, iya sih, tapi yang namanya rindu kan gak bisa diprediksi dan ditahan, Mas, memangnya aku gak bolehkah rindu sama suamiku sendiri?" tanyaku lagi.

"Hahahaha, boleh saja dong Sayang, masa iya merindukan suami sendiri mau Mas larang? Mas juga rindu padamu tapi, gimana lagi Mas posisi jauh tidak bisa setiap minggu pulang kayak biasanya."

"Iya, Mas, aku ngerti kok. Ini kan hanya ungkapan perasaanku saja agar Mas tahu kalau di sini selalu ada istri yang merindukan dan menantikan kepulanganmu."

"Iya, Mas tahu, terima kasih ya Sayang, hingga detik ini perasaanmu tidak berubah sedikit pun sama Mas. Mas minta maaf ya sama kamu." Keningku berkerut mendengar mas Satria berkata seperti itu.

"Kenapa minta maaf, Mas?"

"Yah, karena menghadirkan orang ketiga di pernikahan kita. Ini semua kan atas permintaan Mami. Kamu tahu lah Mami bagaimana."

"Aku tahu kok, Mas. Aku tahu kalau kamu sebenarnya terpaksa. Yah mau bagaimana lagi pernikahan kita sudah delapan tahun tapi aku belum bisa memberikanmu seorang anak. Aku tahu dan sadar diri dengan kekuranganku jadi aku enggak berhak melarangmu menikah lagi. Toh perlakuanmu terhadapku tidak pernah berubah dari dulu sampai detik ini."

"Tentu saja, mana mungkin Mas bisa merubah hati Mas terhadapmu. Karena kamulah ratu satu-satunya di hati Mas. Kalau bukan karena Mami, Mas tidak akan pernah menikah lagi. Hidup berdua dan menua bersamamu saja sudah membuat Mas merasa sangat bahagia. Anak adalah bonus bagi Mas jadi sebenarnya Mas tidak terlalu memikirkan hal itu."

"Ya mungkin memang harus begini jalan takdir rumah tangga kita, Mas. Aku pribadi sih tidak terlalu memikirkannya toh pada kenyataannya rasamu terhadapku yang aku rasakan tidak pernah berubah walau setitik."

"Sayang," panggil mas Satria seolah-olah ragu ingin mengatakan suatu hal padaku.

"Ya, Mas? Ada apa?"

"Mas ingin mengalihkan semua harta atas namamu." Aku membelalak mendengar ucapan mas Satria meskipun keinginanku ada terbesit seperti ini tapi tetap saja aku terkejut karena ini keluar dari bibir mas Satria meski aku belum mengungkapkannya.

"Ehm, Mas jangan bercanda deh. Ini gak lucu tau."

"Mas sedang tidak bercanda Sayang, Mas tidak tahu sampai kapan usia Mas. Mas hanya ingin memberikan hakmu karena kamu lah yang menemani Mas dari awal Mas tidak punya apa-apa. Mas rasa kamu berhak atas apa yang kita miliki.

Kalau Maya? Maya baru datang di saat kita sudah menjadi besar dan memiliki segalanya. Rumah yang Mas belikan dan jugs motor yang Mas belikan untuknya itu sudah cukup Mas rasa. Mas hanya takut jika kelak usia Mas tidak sampai atau Mas berpaling hati. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa perjalanan hidup kita kedepannya jadi sebelum semua itu terjadi lebih baik Mas melakukannya sekarang. Kamu setuju kan?"

"I-ini serius, Mas? Akan membalik nama semua yng kita miliki atas namaku?"

"Iya Sayang, Mas serius."

"Tapi kan kita akan terus bersama, Mas, kok ucapan Mas kayak orang mau pergi jauh aja sih? Aku takut ah."

"Hahaha, kenapa mesti takut Sayang. Ini kan hanya ucapan saja. Bukannya setiap manusia pasti akan menemui ajalnya masing-masing?"

"Iya sih tapi kan …."

"Tapi kenapa Sayang? Ini semua sudah Mas pikirkan matang-matang smenjak aku menikah dengan Maya. Aku tidak mau nanti harta ini akan menjadi perebutan antara kamu dengan Maya. Mas kalau bukan karena Mami yang meminta tidak akan pernah mau menikahi Maya. Mas ini bukannya orang bodoh yang tidak paham dengan tujuan Maya dan orang tuanya menikahkan dengan Mas. Jadi, Mas hanya ingin mempertahankan dan melindungi apa yang seharusnya menjadi milikmu."

Aku menghela napas karena akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan mas Satria. Feeling mas Satria denganku ternyata sama. Kami sudah menduga jika Maya mau menerima laki-laki yang usianya cukup jauh di atasnya juga kedua orang tuanya terutama ibunya Maya yang menginginkan Maya menikah dengan mas Satria lantaran harta yang kami miliki.

Selama delapan tahun kami sudah mempunyai beberapa bidang tanah. Satu rumah besar yang aku tempati. Dua rumah kontrakan bulatan yang setiap tahunnya dengan harga sewa dua puluh juta per tahun. Ditambah kontrakan berbentuk rumah petak yang ada sekitar delapan belas pintu dengan harga sewa per bulannya lima ratus ribu rupiah.

Belum lagi rumah makan aneka ikan bakar dan seafood yang juga kami miliki yang setiap bulannya memberikan pemasukan bersih ke rekeningku sekitar dua puluh juta per bulan.

Sudah bisa dibayangkan bukan? Berapa nominal uang di dalam rekeningku? Ditambah lagi uang bulanan dari mas Satria yang cukup besar yakni, dua puluh lima juta setiap bulannya karena mas Satria adalah kontraktor atau pemborong besar yang bisa menghasilkan ratusan juta rupiah bahkan milyaran dalam proyeknya itu. Itulah sebabnya aset yang kami miliki cukup banyak.

Tuhan begitu maha baik karena sudah memberikan limpahan materi pada rumah tangga kami. Akan tetapi, tetap saja rumah tangga kami masih diuji dengan belum dihadirkannya anak dalam pernikahanku dan mas Satria.

"Bagaimana, Laras? Kamu setuju kan?"

"Lalu kalau Mami nanti marah gimana Sayang?"

"Soal Mami itu biar jadi urusanku. Ini tidak ada sangkutpautnya dengan Mami. Yang terpenting jatah Mami tidak pernah aku kurangi karena aku juga tahu dengan kewajibanku sebagai seorang anak. Gimana? Mau kan?"

"Yaudah, terserah Mas saja kalau memang begitu baiknya," ucapku pada akhirnya.

Aku sedikit menyungingkan senyum karena ternyata secinta itu mas Satria mencintaiku sampai berpikiran hingga sejauh ini.

Terima kasih, suamiku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak salah telah melabuhkan dan menyerahkan hati ini seutuhnya untukmu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CATATAN SENJA
8.9
Senja Abhinaya menganggap Langit Ananta sebagai sosok yang selalu ada namun pasti akan pergi. Sebaliknya, Langit melihat Senja bak keindahan sesaat yang akan kembali pada waktu yang tepat. Meski memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang, semesta justru mempertemukan mereka secara tidak sengaja. Inilah kisah perjalanan takdir antara Langit dan Senja, sebuah romansa masa muda yang disaksikan oleh semesta dalam jalinan rencana Tuhan yang tak terduga.
Sampul Novel Di Bawah Langit London
9.7
Karina, manajer hotel asal Indonesia, harus berangkat ke London demi memimpin renovasi properti keluarga. Di sana, ia berhadapan dengan Henry, arsitek Inggris berwatak keras kepala. Hubungan mereka kian rumit setelah terungkap bahwa Henry adalah pria yang dijodohkan dengannya. Meski awalnya bersikap dingin, benih cinta perlahan tumbuh di bawah langit London. Kini, mereka harus memilih antara mengikuti perasaan atau tunduk pada tuntutan besar keluarga.
Sampul Novel Eleanor
8.0
Elena, seorang desainer busana, mendapatkan peluang besar dalam karier serta asmaranya secara bersamaan. Ia setuju menempati apartemen milik bosnya, Alva, karena mengira sang pemilik tidak akan ada di sana. Namun, tanpa Elena sadari, Alva terus mengawasi gerak-geriknya dari jauh. Ketentraman Elena terusik saat Alva tiba-tiba memutuskan pulang dan tinggal bersamanya. Kini, Elena harus menghadapi kehadiran sang bos dalam ruang pribadinya yang sangat intim.
Sampul Novel Ibu cantik, Ayah licik
8.7
Akibat jebakan keji dari ibu tiri dan kakaknya, pernikahan yang telah direncanakan dengan matang terpaksa dibatalkan karena sebuah alasan mustahil. Bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya memutuskan kembali ke kota kelahirannya. Dengan tekad yang sangat kuat, ia berjuang keras melalui berbagai rintangan demi merebut kembali segala hal yang pernah menjadi miliknya. Kini, ia siap menghadapi masa lalu untuk memulihkan haknya yang telah dirampas secara tidak adil.
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Pasca memergoki perselingkuhan sang suami, seorang wanita menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Alih-alih menyerah, ia menyusun rencana balas dendam yang kejam demi memberikan rasa sakit yang setimpal kepada para pengkhianat. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria misterius masuk ke hidupnya secara tiba-tiba. Siapa sangka, sosok tersebut adalah psikopat berdarah dingin yang terobsesi dan jatuh cinta padanya. Akankah ini membantu atau menghancurkan tujuannya?
Sampul Novel Kau Pilih Dia Saat Aku Mengandung Anakmu
9.4
Hati Sarah hancur ketika Dimas, suaminya, justru lebih peduli pada Citra daripada dirinya yang tengah mengandung. Di tengah masa sulit itu, sang sahabat mulai menunjukkan ambisi licik untuk merebut posisi Sarah. Kini, Sarah berdiri di persimpangan jalan yang menyakitkan. Haruskah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang retak demi calon bayinya, atau memilih pergi demi menjaga harga diri serta kedamaian hidupnya? Inilah perjuangan batin seorang istri.