APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TAK MAU DIMADU

TAK MAU DIMADU

Lima tahun membina rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta, kebahagiaan itu seketika hancur berkeping-keping. Kehadiran sosok wanita dari masa lalu Ilham mengubah segalanya, melenyapkan gairah hidup serta merusak pernikahan yang telah lama dijaga. Impian untuk menua bersama hingga maut memisahkan kini terancam sirna akibat pengkhianatan orang ketiga. Sanggupkah hubungan ini bertahan saat bayang masa lalu datang memporak-porandakan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mas, bangun. Mas Ilham." Badanku berguncang hebat, apa ada gempa? Dan, kenapa wajah ini terasa basah? Apakah di luar hujan lebat dan atapku bocor? Ah, itu tidak mungkin.

Aku membuka mata perlahan, lalu berkedip beberapa kali, cahaya lampu kamar cukup terang bagai jarum yang menusuk-nusuk netra, perih dan terasa berat. Enggan rasanya membuka walau hanya sebentar saja. Kantuk masih bergelayut manja di pelupuk mata. Lelah pun menyelimuti sehabis bergumul dini hari tadi bersama istri.

Ah, mengingatnya sudah membuat senyumku terkembang. Namun, aku tak bisa mengabaikan panggilan dan percikan air di wajahku. Akhirnya, kupaksakan netra untuk membuka sempurna.

"Astaghfirullah, Dek, begini caramu membangunkan suamimu?" Kulihat Ina --istriku-- tengah menggoyang-goyangkan tubuhku dan membiarkan rambut basahnya sehabis keramas menjuntai di atas muka. Membiarkan bulir airnya menetes bebas menimpa wajahku.

Segar. Akan tetapi, kenapa istriku se-absurd ini kelakuannya? Tidak bisakah dia keringkan dulu rambutnya yang tergerai bebas itu?

"Maaf, Mas. Habisnya susah banget banguninnya, kaya kebo." Tawa renyahnya terdengar, menggelitik untuk ikutan melengkungkan bibir lebar-lebar. Begitulah istriku, caranya mengekspresikan bahagia selalu saja menular padaku.

Sebutan itu hadir setelah kami menghabiskan malam bersama setelah menikah. Karena aku, jika sudah terlelap susah sekali untuk dibangunkan. Apalagi didukung kondisi tubuh yang lelah, teriakan kebakaran pun tidak akan mampu membangunkanku.

"Suami sendiri dibilang kebo." Aku merengut. Namun, aku tak pernah benar-benar marah padanya. Malahan menikmatinya, ekspresinya saat menjahiliku sungguh menggemaskan. Sakit hati tidak pernah bercokol dalam dada, dan menegurnya pun hanya sebatas gurauan saja.

Aku benar-benar tidak menyangka cinta yang kupersembahkan akan sebesar ini untuk dirinya.

"Jam berapa, Dek?" tanyaku mencoba duduk.

"Jam empat, Mas. Sebentar lagi subuh." Wanita itu sudah beranjak dari sampingku, memakai mukena terusan berwarna putih gading di depan meja riasnya.

"Tunggu, Dek, mas mandi dulu." Seketika aku turun dari ranjang, berlari menuju kamar mandi.

"Nggak salat di masjid, Mas?" Meskipun sudah di dalam ruangan lembab ini, aku masih bisa mendengar teriakannya.

"Lagi pengen jadi imam kamu, Dek," pekikku dari dalam kamar mandi.

***

Setelah mimpi istriku semalam, aku kira dia akan terus-terusan kepikiran. Sepertinya tidak. Alhamdulillah, aku bersyukur wanitaku tidak terlalu larut dalam mimpi buruknya itu.

Netraku bergerak-gerak memperhatikan Ina --istriku-- yang tengah memasak di dapur. Dia dengan daster khasnya yang kedodoran. Entah kenapa dia menyebut baju yang dikenakannya itu sebagai baju kebangsaan ibu-ibu.

Di komplek perumahan ini, memang tak jarang aku menemukan para wanita yang memakai baju kedodoran seperti dia. Yang tak kumengerti, kenapa dia suka sekali memakainya padahal kulihat bagian leher sudah sobek-sobek dan warnanya sudah pudar karena cuci kering pakai.

"Adek, nggak suka daster yang mas belikan ya? ya sudah, besok kalau mas libur kita ke pasar malam ujung komplek sana, nyari daster yang kamu mau," ucapku, dan langsung mendapat senyuman manis darinya.

"Nggak usah, Mas, aku suka kok yang kemarin," tolaknya membuat keningku berkerut.

"Kok gak dipakai?" Aku memiringkan kepala. Katanya suka, tapi masih tersimpan rapi di lemari. Bahkan, gantungan mereknya masih ada, tandanya sama sekali belum dicuci.

"Yang ini saja masih bisa dipakai, kok." Dia meringis. Lalu kembali berucap, "Mas malu ya aku pakai baju sobek-sobek begini? Tenang saja, Mas, aku pakainya di dalam rumah aja, kok, kalau keluar aku ganti gamis. Aku juga tahu harus menjaga nama baik suami di kalangan ibu-ibu komplek yang suka ghibah itu," rengesnya menunjukkan deretan rapih gigi putihnya.

"Iya, mas tahu, makasih ya, Dek." Aku berdiri mencoba mengecup keningnya, tapi dia menghindar membuat hati mulai berdesir dan diliputi banyak tanya dalam benak. Bulu kuduk pun mendadak meremang. Ada apa dengan istriku? Jangan-jangan ucapanku menyakiti hatinya.

"Kok disitu, Mas? Sini lah," katanya menunjuk bibir. Astaga, minta lebih ternyata. Aku kira kenapa, bikin jantung berdebar-debar aja kamu dek.

"Nggak mau, nanti mas nggak jadi kerja." Aku mengedipkan sebelah mata, lalu menjawil hidungnya.

Biarlah dia jadi dirinya sendiri saat di rumah. Ketika kamu bersamaku, lakukanlah apapun yang kamu inginkan, asal masih batas wajar dan mentaati norma yang ada, tahu batasan, mampu membedakan hak dan kewajiban yang harus kamu terima dan kamu berikan.

Biarlah dia pakai daster itu, asal dia merasa nyaman, aku pun tak akan keberatan dengan itu. Yang penting, saat di kamar bersamaku dia memakai baju kebangsaan istri yang nampak indah dipandang suami. Jadi ingat yang semalam dek. Duh, jadi kayak pengantin baru saja aku.

***

"Mas, ini bekalnya jangan lupa," kata istriku menenteng rantang dua susun merek tupperware, lalu menyerahkannya padaku.

"Astaghfirullah, hampir aja ketinggalan, Dek." Aku menepuk kening.

"Rantangnya jangan sampai ketinggalan loh, Mas. Ingat ya." Dia mewanti-wanti.

"Siap, Bu Bos." Dia memang selalu protektif dengan peralatan makan merek ini, mungkin karena mahal harganya. Bayangkan saja satu set ada yang harganya lima ratus ribu sampai jutaan. Waduh, jika hilang bakal kepikiran terus pastinya dia.

Akan tetapi, istriku itu pintar menyisihkan uang untuk membeli keperluannya sendiri. Dia aktif mengikuti arisan bersama ibu-ibu satu komplek, katanya 'Itung-itung nabung, Mas', terserah lah asal jangan ikut arisan sosialita, mas belum sanggup, dek.

"Assalamualaikum, Dek," pamitku sambil memutar gas tipis-tipis motor matik yang baru kubeli dua bulan lalu, melewati pagar rumah.

"Wa'alaikumsallam, Mas. Jangan ngebut, Mas," pesannya yang kubalas dengan lambaian tangan.

****

Sesampainya di kantor, aku disambut dengan senyuman aneh dari Bu Retno --atasanku-- di pintu masuk ruanganku bekerja. Senyuman yang membuatku merasa tak pernah nyaman bekerja. Dia, cukup genit dan gencar merayu lawan jenisnya. Sebagai bawahan aku hanya bisa menghindar perlahan, tanpa bisa berterus terang.

Beruntungnya, beliau hanya bermain dengan mata.

Hingga waktu makan siang tiba. Bu Retno, tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu ruangannya.

"Ilham, tolong keruangan saya," panggilnya. Aku yang sengaja menunduk seketika mengangkat wajah. Wanita dengan kemeja putih itu sudah berbalik, masuk ke dalam ruangannya.

'Kenapa juga aku harus makan di kantin?' rutukku dalam hati. Biasanya, aku memakan bekal dari istri di taman belakang, dekat tempat parkir. Gara-gara rekan kerjaku mengajak makan bersama, jadilah kami melewati ruangan angker ini. Dari ruanganku bekerja satu-satunya jalur menuju kantin hanyalah lewat ruangan Bu Retno.

"Lah, baru juga mau makan siang. Ada apa sih sama manager itu? Akhir-akhir ini kaya sering manggil kamu, Ham," gerutu Anton, si biang kerok.

Entahlah, aku juga nggak ngerti. Beberapa hari ini beliau memang sering memintaku datang ke ruangannya, tidak seperti biasa. Hanya untuk membahas hal-hal yang tidak penting.

"Nggak tahu, Ton." Aku menghendikkan bahu. "kamu makan duluan aja, aku keruangan Bu Retno dulu." Anton pun menyetujuinya, gegas pergi menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu ke tempat makan.

"Assalamualaikum, Bu," panggilku setelah mengetuk pintu kayu bercat coklat.

"Wa'alaikumsallam, masuk Ilham."

Setelah dipersilakan, aku pun memasuki ruangan yang entah mengapa terasa begitu mencekam siang ini.

"Ada apa ya, Bu?" Aku menarik kursi di depan meja Bu Retno, lalu mendudukinya.

Dia berdehem, lalu menarik napas panjang. Sedangkan aku, menunggu dengan debar tak biasa menanti omongannya.

"Dua hari lagi devisi kita ada dinas ke Bandung."

Aku manggut-manggut, masih menyimak.

"Aku harap, kamu nggak bawa istri kamu, ya, 'kan sudah ada aku," kata Bu Retno membuatku hampir tersedak ludah sendiri. Dengan berani tangannya menggenggam kedua tanganku yang berada di meja kerjanya.

Astaghfirullah, cobaan apa ini? Apakah ini petunjuk mimpi istriku semalam? Ya Allah, kuatkan lah iman dalam diriku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Whore Mate
9.1
Layla, Alana, dan Zeline adalah mahasiswi Universitas Pembangunan yang berbagi rumah. Sejak awal, gerak-gerik Zeline yang sering keluar malam memicu kecurigaan Layla. Meski jarang kuliah, nilai Zeline secara misterius melampaui Alana. Rahasia mulai terkuak saat Zeline membiayai pengobatan ayah Layla. Ketegangan memuncak ketika Roger, kekasih Alana, ternyata mengenal Zeline sebagai penyedia jasa pemuas nafsu. Ternyata, selama ini mereka tinggal bersama seorang pelacur.
Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Benalu di Rumahku Ketika Suamiku Terkena PHK
8.5
Pasca Fajar kehilangan pekerjaan, Alisya berjuang sendirian demi menopang ekonomi keluarga besarnya. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan pahit. Di atas ranjangnya sendiri, ia memergoki suaminya sedang memadu kasih dengan Desy, sosok benalu yang selama ini menumpang di rumah mereka. Hancur melihat pemandangan keji itu, Alisya kini berada di persimpangan jalan. Haruskah ia pergi begitu saja, atau tetap bertahan demi merancang pembalasan bagi mereka?
Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi kehormatan keluarga, Aisyah terpaksa menikahi pria asing yang ternyata sudah memiliki putra bernama Haidar. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh, namun Aisyah justru menemukan sisi gelap sang suami yang tersembunyi rapat. Saat rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap bertahan, menghadapi masa lalunya, atau memilih untuk hidup sendiri? Sebuah kisah penuh rahasia dan pilihan hati.
Sampul Novel Cinta Palsumu Menghancurkan Hidupku
9.4
Bagi Pratama, Dewi hanyalah persinggahan sementara sebelum ia kembali ke pelukan kekasih masa lalunya. Setelah mencampakkan Dewi, ia membiarkan wanita itu hancur dalam hinaan keluarganya. Di tengah kegelapan masa depan yang penuh luka akibat janji palsu, Dewi bertemu Reza. Pria ini menawarkan ketulusan yang sangat berbeda dari pengkhianatan sebelumnya. Kini, Dewi harus memilih antara menutup diri atau kembali membuka hati di bawah bayang-bayang trauma masa lalu.
Sampul Novel DESTINY OF LOVE
9.7
Setiap wanita memimpikan pernikahan abadi, namun Reyna justru terjebak dalam takdir kelam. Gadis desa yang polos ini harus mengalami dua kali kegagalan rumah tangga dari total tiga kali pernikahannya. Penderitaannya bermula saat ia salah mencintai Riko sewaktu kuliah hingga hamil di luar nikah. Meski dipaksa menggugurkan kandungan, Reyna bertahan demi buah hatinya. Walau akhirnya menikah sah, hubungan itu hancur dan menyisakan trauma mendalam bagi Reyna terhadap laki-laki.