APKDock Logo
Sampul Novel Teman Dalam Taqwa

Teman Dalam Taqwa

9.0 / 10.0
Menjadi gambaran nyata tentang kekuatan hati, seorang wanita membuktikan bahwa kesabaran dan keikhlasan tiada batas adalah kunci menghadapi ujian hidup. Ia dengan lapang dada menerima takdir untuk menjalani biduk rumah tangga dalam ikatan poligami. Pengorbanan tulus yang ia tanam akhirnya membuahkan hasil yang indah, di mana ia menemukan manisnya kebahagiaan sejati yang tak terbayangkan sebelumnya sebagai balasan atas keteguhan jiwanya selama ini.

Teman Dalam Taqwa Bab 1

“Ummi,  boleh abi menikah lagi?” tanya Abi Fauzan sore itu.

Aku yang kala itu tengah bermain bersama buah hatiku, Aisyah sangat terkejut mendengar permintaan  suamiku. Kupejamkan mata seraya menarik nafas panjang, meredam gemuruh yang ada di hati saat ini. Aku menatap lembut  kepada Aisyah, Aisyah yang baru berusia 4 tahun, lalu membawanya ke dalam kamar dan memberikan beberapa mainan kesukaannya. 

“Aisyah main di dalam kamar dulu ya.  Ummi ingin menemui Abi sebentar, tidak apa-apa ' kan Sayang?” tanyaku menatap bola mata bulat milik putriku. 

Aisyah lalu mengangguk,  dan tersenyum begitu manis ke arahku, “Silakan, Ummi.”

Tak membuang waktu,  aku segera beranjak keluar dari dalam kamar Aisyah, lalu menutup pintu kamarnya. Langkah kaki ini terasa berat, tetapi kupaksakan menemui kekasih halal sekaligus imamku. Dari jarak beberapa meter, dapat kulihat jika lelaki yang sudah mengucap janji suci lima tahun yang silam, tampak diam menunduk seraya memainkan jari jemarinya. Aku tahu  apa yang saat ini dirasakan oleh suamiku Abi Fauzan. Ia begitu gelisa dan cemas terhadap permintaannya yang belum juga ada jawaban dariku. 

Aku melanjutkan langkah menemui lelaki  yang begitu kucintai, senyuman kebahagiaan selama lima tahun bersamanya tak pernah lenyap dari bibir ini.  

“Maafkan ummi,  Abi. Jika ummi meninggalkan Abi seorang diri tanpa pamit.  Tentu Abi tahu sebabnya!” ucapku dengan senyuman manis yang tersungging di bibir. 

“Abi mengerti, Ummi!” Sorot mata yang teduh lagi-lagi mampu meredam gemuruh dalam dada. 

 Abi Fauzan melangkah menghampiri dan berlutut di hadapanku, seraya memegang jari jemari ini dengan lembut,  mengangkat dagu yang tertunduk, dan menatap mata ini penuh cinta dan kasih sayang. 

“Ummi … abi tahu permintaan abi kali ini sangat sulit,  abi tahu permintaan abi akan menyakiti hati Ummi. Akan tetapi,  abi tidak bisa melakukan apa pun selain mengatakan semua ini kepada, Ummi. Tolong izinkan abi menikah lagi.” 

Deg ….

Jantungku berdetak begitu kencang,  pertanyaan yang sama telah dilontarkan oleh imamku. Aku menatap lekat wajahnya yang rupawan, terpancar senyuman yang begitu teduh di sana. Senyuman yang membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya. 

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya,  seraya membalas senyuman teduh itu. Aku mengusap jari jemari Abi Fauzan, “Boleh ummi tahu alasan Abi ingin menikah lagi?" tanyaku seraya menatap bola matanya yang indah. 

“Abi jatuh cinta kepada seorang gadis,  Ummi!” jawab suamiku dengan jujur. Ada yang retak tetapi bukan kaca melainkan hatiku yang hancur. Bagai tersayat pisau, perih dan pedih itulah yang kurasakan saat ini. 

Aku tetap mempertahankan senyuman yang tersungging di bibir, permintaan suamiku kali ini memang sangat berat dan cenderung sulit untuk di iyakan. Terlepas dari semua itu,  aku tetap harus berpikir positif dalam menyikapi setiap permasalahan rumah tanggaku.

“Tolong jelaskan apa yang membuat Abi jatuh cinta dengan gadis itu?  Apakah Abi mencintai gadis itu hanya karena wajahnya?” tanyaku.

“Tidak Ummi,  abi jatuh cinta kepada gadis itu bukan karena rupa atau karena kemolekan tubuhnya. Akan tetapi,  abi mencintai, sebab akhlaknya yang mulia, serta perangainya yang sangat lemah lembut!” ungkap Abi Fauzan.

“Lalu bagaimana dengan penampilannya?” tanyaku kembali. Aku kembali menatap lekat ke arah Abi Fauzan. 

“Alhamdulillah,  dia wanita yang menutup auratnya,”  jawab Abi Fauzan kembali. 

“Baiklah jika seperti itu, Abi. Izinkan ummi bertemu dan mengenalnya dulu sebelum memutuskan permintaan Abi.” 

“Baiklah … abi akan berbicara dan meminta izin ayahnya agar bisa membawa Humairah bertemu dengan Ummi.” 

“Tidak,  Abi! Bawa ummi bertemu dengannya beserta keluarga besarnya, di kediaman mereka.  Ummi ingin berbicara dan menanyakan beberapa hal kepada Humaira di depan semua orang,  tak terkecuali seluruh keluarga besarnya. Bagaimana Abi? Apakah Abi setuju?” tanyaku kepada Abi Fauzan. Abi Fauzan tampak cemas mendengar permintaanku untuk menemui gadis yang bernama Humairah, di depan keluarga besarnya. 

“Apakah Ummi tidak akan melakukan hal-hal di luar batas?”  Sebuah pertanyaan mengandung kecemasan.

Aku tersenyum mendengar ucapan Abi Fauzan,  lalu mengusap lembut bahu kokoh suamiku.

“Abi tidak perlu cemas, jangan khawatir mengenai sikapku saat bertemu dengan keluarga Humairah. Ummi akan menjaga sikap di hadapan keluarga besar Humairah,  Abi. Ummi bukan wanita yang mudah terpancing emosi, meski saat ini ummi tidak bisa memungkiri, jika permintaan Abi sungguh menyakiti hati Ummi. Namun, bukan itu poin pentingnya,  sebagai seorang wanita … tentu saja ummi sakit hati. Akan tetapi, ummi juga perlu tahu dan mengenal bagaimana perangai wanita yang akan menjadi calon maduku, sebelum ummi benar -benar setuju,” ujarku  pada lelakiku itu. 

“Maafkan abi, Ummi. Abi tahu  hati Ummi saat ini tengah sakit dan kecewa!”  Abi Fauzan tertunduk dengan bahu bergetar.

Aku yang melihat suamiku menangis dalam keadaan tertunduk, hanya bisa mengusap punggungnya dengan lembut. Aku tahu suamiku saat ini pasti sangat menyesal telah meminta izin untuk menikah lagi. Namun, aku tidak menyalahkan sebab keadaan ini terjadi, suamiku Abi Fauzan adalah seorang lelaki yang sholeh menurut versiku, karena lima tahun aku hidup menjalani biduk rumah tangga bersamanya, tak sekalipun aku melihat lelakiku itu, menatap kagum ke arah wanita yang bukan mahramnya. Ia selalu menundukkan pandangan terhadap lawan jenisnya. 

Entah mengapa kali ini,  ia bisa jatuh cinta kepada seorang gadis, aku tak tahu apa  sebabnya itu terjadi, karena sejauh yang kutahu, Abi Fauzan bukanlah lelaki yang mudah mencintai  orang lain. 

Dari perihal inilah, aku mulai menata hati dan pikiran, mungkin ada hal yang istimewa dari gadis itu, sehingga membuat lelaki bisa jatuh hati padanya. Hingga aku mengambil keputusan untuk mengenal wanita itu lebih dulu,  sebelum mengambil langkah poligami. 

Meski pada akhirnya aku akan setuju dengan poligami yang akan Abi Fauzan lakukan, tetapi sebelum itu terjadi aku harus lebih dulu menyelami perangai wanita kedua suamiku.  Baik buruknya aku harus memahami semuanya. Bagiku poligami jauh lebih baik, dari pada harus terus menerus melihat suamiku berzina hati. Aku senang! Sebab Abi Fauzan mau mengatakan semua yang terjadi dengannya, karena sebagian lelaki, pasti akan menutupi semua rasa itu, jika ia mencintai seorang wanita tanpa ingin diketahui. Meski aku tak bisa mengelak, kejujurannya membuatku teramat sakit. 

“Abi tak perlu meminta maaf sebab permintaan itu, ummi cukup paham mengapa Abi mengatakan dan meminta izin ummi terlebih dulu. Mencintai seseorang adalah hal yang lumrah. Meski tak bisa ummi pungkiri jika  ummi senang sekaligus sedih, sebab kejujuran yang ada pada diri Abi. Ajaklah ummi bertemu dengan wanita itu, Abi. Jangan takut! Ummi tidak akan melakukan hal yang membuat Abi malu!” Aku menatap lekat sorot mata yang selalu memancarkan cinta di sana. Tak ada yang berubah dari sorot mata itu, semuanya masih sama. Hanya satu doaku dalam hati saat ini, semoga cinta itu masih sama besarnya walau nantinya akan hadir bidadari lain di hati suamiku.

“Terima kasih, Ummi. Terima kasih telah menjadi penyejuk di saat hati ini tengah gunda gulana. Jika Ummi menyetujui pernikahan abi, insya Allah abi akan berlaku adil!” Lelaki itu memeluk erat diriku yang sempat menitikan air mata pedih. Namun, aku harus tetap tegar menerima semua qodarullah yang Allah tetapkan untuk pernikahanku. 

Meski hatiku saat ini tengah sakit, aku mencoba berpikir husnudzon terhadap Allah SWT, mungkin iman dan islamku tengah diuji saat ini dengan adanya permintaan poligami ini. 

“Ayo kita sholat magrib dulu, Abi. Ummi ingin mengadu kepada Sang Pencipta dan meminta petunjuk atas keputusan apa yang akan ummi berikan pada Abi!” Aku menarik mesra tangan kekasih halalku, menuju mushola yang ada di dalam rumah kami. Tempat sederhana. Namun, sangat nyaman. 

Tempat inilah menjadi tempat terbaikku, saat hati dan pikiranku dalam keadaan yang benar-benar down. Aku menggantungkan semua harapan  pada Sang Maha Kuasa, berharap apa yang terbaik menjadi kisah hidupku. 

Tak menunggu lama, aku dan Abi Fauzan beranjak lalu melangkah ke arah mushola yang ada di dalam rumah, kami berdua salat berjamaah dengan khusyu melupakan sejenak urusan dunia yang tengah membelit saat ini. 

Dalam doa, kutumpahkan semua rasa sesak yang ada di hati. Aku menangis di atas sajadah yang menemaniku setiap aku melaksanakan kewajiban. Setelah puas menangis di atas sajadah ini, tepukan halus di pundak mengakhiri semua tangis ini. Aku memeluk erat lelaki yang telah membersamaiku selama lima tahun, tangisku tumpah seketika aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. 

Permintaan maaf kembali terlontar dari bibir Abi Fauzan.  Ia semakin membalas pelukanku pada tubuhnya, hal itulah yang membuatku merasa tenang dikala hati dalam keadaan tidak baik-baik  saja. Meski sakit, aku tetap akan tegar menghadapi cobaan ini. 

“Maafkan abi.”

Perkenalkan aku adalah Khadijah, seorang perempuan yang tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan islami. Aku dibesarkan oleh seorang lelaki yang sangat hebat, lelaki yang merupakan tempatku untuk mengadu setelah Allah SWT. 

Lelaki yang merupakan cinta pertamaku  sebelum suamiku. Dialah Abi Arsyad seorang guru mengaji yang selalu mengajarkan nilai-nilai agamis padaku saat masih kecil hingga dewasa seperti saat ini. Saat ini, aku sudah berusia 28 tahun, aku ibu dari seorang gadis cantik yang berusia empat tahun. Gadis yang merupakan anugerah terindah, setelah pernikahan kami baru berjalan lima tahun. 

Mungkin sebagian besar wanita menentang adanya poligami, jujur hati kecilku pun seperti itu. Namun,  aku mencoba tetap bertahan sebab masih banyak hal yang patut dipertahankan. Masih banyak hal yang bisa diperbaiki. 

Pada akhirnya, aku kembali teringat  sepenggal perkataan Ayah yang tiba-tiba terlintas di benakku. Poligami diperbolehkan, asal suami yang ingin berpoligami sanggup dan adil dalam segala hal tidak berat sebelah,  yang terpenting ilmu dalam poligami sudah sangat dikuasai. 

Hal itulah yang membuatku meredam kembali rasa amarah yang sempat bersarang di dalam hatiku, aku ingin menyerahkan semua hal ini pada Sang Pencipta, karena kepada Allah-lah tempatku mengadu segala beban yang ada di hati ini, tempat curhat terbaik tanpa ada rasa cemas akan diketahui oleh orang lain. 

Lanjut Membaca

Daftar Isi Teman Dalam Taqwa

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Pasca lama menjanda, Mira melakukan kekeliruan fatal akibat pengaruh alkohol saat merayakan ulang tahun. Ia menghabiskan malam yang penuh gairah dengan Rendi, lalu pergi begitu saja tanpa melihat wajah pria tersebut. Mira berupaya melupakan momen intim itu, namun segalanya berubah saat ia bertemu calon besannya. Ternyata, ayah dari calon menantunya adalah Rendi. Kini mereka terjebak antara menghapus memori tersebut atau justru lanjut berselingkuh di belakang anak mereka.
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza terjebak dalam pernikahan toksik dengan Karan, pria yang hanya memanfaatkannya demi pemuasan nafsu. Malam pertama yang seharusnya indah berubah menjadi trauma mendalam hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Keadaan kian memburuk saat Karan berselingkuh dengan banyak wanita lain. Di tengah penderitaan itu, Eliza bertemu Sean, dokter tampan sekaligus teman baiknya. Kehadiran Sean tidak hanya memulihkan luka batinnya, tapi juga menjadi sosok sandaran hati yang baru.
Sampul Novel SEPENGGAL KISAH TANPA JUDUL
8.9
Jeany, gadis Minang yang pendiam, terjebak dalam pusaran luka mendalam. Setelah diselingkuhi kekasihnya, ia harus menyaksikan kehancuran keluarganya. Sang papa pergi demi wanita lain, bahkan selingkuhannya tega mengirimkan video asusila yang membuat mama Jeany depresi berat. Trauma pernikahan kini menghantui Jeany. Bersama Jeje, saudara perempuannya, ia berjuang menghadapi teror pelakor dan cobaan hidup yang seolah tak kunjung usai. Sanggupkah Jeany bertahan?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan