APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TEROR ASOKA

TEROR ASOKA

Meski hanya anak angkat, Asoka Lavanya Ekadanta tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang keluarga Dirandra. Namun, hidupnya dihantui serangkaian teror misterius sejak kecil yang kian membahayakan. Demi melindungi orang-orang terkasih, Asoka memilih menjauh dan berjuang sendirian. Mampukah ia mengungkap dalang di balik ancaman maut ini sembari merebut kembali hati wanita yang tulus mencintainya? Sebuah perjalanan penuh aksi demi mengakhiri dendam masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tujuh tahun sebelumnya.

“Dua minggu lagi acara wisuda kita. Masa iya kamu mau di rumah terus. Ayolah sekali-sekali clubbing,” bujuk Hans Emanuel yang masih dalam posisi jongkok seraya menikmati rokok.

Asoka Ekadanta terkekeh, “Percuma juga aku datang, hanya akan menjadi bahan tontonan. Apalagi Eriska nggak ada. Bisa diomelin aku, kalau sampai ketahuan clubbing.”

Fano Yuwono tergelak mendengar alasan Asoka. Dia yang awalnya bersandar pada mobil sedan hitamnya segera beranjak dan ikut berjongkok agar bisa berhadapan dengan Asoka langsung yang duduk di jok belakang mobil dengan pintu terbuka. “Jadi kamu teh, lebih takut sama Eriska daripada Ambu?”

Asoka menghela napas panjang. “Bukan takut, tapi aku menghargai mereka.”

“Dengar Asoka, Eriska itu bukan istrimu nggak usah takut. Lagian apa yang akan terjadi coba?” ujar Hans.

“Iya atuh, kamu nggak minum juga nanti. Kami akan pesankan moktail yang non alkohol. Kamu pikir, kami berani macam-macam sama si Kembar. Duh … bisa keok aku kalau sampai Janu ngamuk,” tukas Fano seraya begidik dan menunjukkan bulu halus di tangan yang berdiri karena teringat bagaimana dulu Janu menghajar habis orang-orang yang berani menyakiti Asoka.

Asoka mengulum senyum memahami hal itu. Kedua saudara lelakinya yang lain tidak akan membiarkan dirinya tanpa pengawasan. Meski dirinya sudah dewasa tetapi sikap protektif keduanya bukannya berkurang tapi semakin menjadi.

“Apa kamu tidak merasa terkekang, selalu diawasi begitu? Sampai sewa bodyguard segala?” tanya Hans yang sangat penasaran padahal kedua orang tua Asoka bukan orang politik dan jelas bukan salah satu orang terkaya di negeri ini. Meski dirinya pun tahu, Asoka yang berada di hadapannya adalah orang yang sama sering mendapatkan terror dari orang-orang sinting yang sangat licin dan susah ditangkap.

“Kamu ini bego atau gimana? Gitu aja ditanyain, seperti baru kemarin aja kenal Asoka,” tegur Fano seraya memberikan tatapan sebal dan merebut bungkus rokok di tangan Hans.

Asoka tersenyum kecut, dia menyadari memang rasa penasaran Hans ada benarnya. Semua jika dilihat dengan kacamata orang awan akan sangat berlebihan. Memang siapa dia, sampai harus dijaga beberapa orang berbadan besar dengan tato sangar dan tampang tidak ramah meski mereka terlihat tak kalah tampan dari orang yang dijaga.

Itu sebab, Asoka dianggap lemah. Tidak bisa menjaga diri sendiri seperti saudara-saudaranya yang lain. Meski dirinya kadang ingin hidup seperti pemuda lainnya yang bebas ke mana saja sendirian. Belanja sendirian dengan uangnya sendiri, tidak harus dibuntuti banyak orang. Namun rasanya tidak memiliki privasi, apalagi saat ini dirinya sudah memiliki kekasih. Eriska Mahadewi, wanita yang lebih tua dua tahun darinya tapi bisa menerimanya dengan baik.

“Ayolah Ka, besok hari ulang tahunmu juga. Masa kamu mau merayakan di rumah saja?” Hans masih gigih membujuk sahabat karibnya sejak dulu.

“Eh … iya ya. Ayolah ultah ke dua dua gitu loh, masa iya mau di rumah, bae,” cetus Fano yang baru teringat.

Asoka menggeleng. “Aku akan merayakan nanti, bersama Eriska saat dia sudah kembali,” katanya.

Asoka lalu menoleh ke kiri, menyadari dari ekor matanya melihat Erni Elawati yang seperti berjalan cepat cenderung tergesa-gesa, tanpa menoleh ke arah mereka yang masih berada di halaman parkir mahasiswa. Asoka yakin Erni tahu, tapi sepertinya perempuan itu sengaja menjauh dan tak ingin berhubungan lagi.

Hans dan Fano mengikuti arah pandang Asoka dan keduanya lalu saling melempar pandang. Mereka berdua tahu, sejak Asoka memiliki kekasih. Satu-satunya sahabat perempuan mereka kini semakin menjauh. Tidak hanya dengan Asoka tetapi dengan ketiganya sekaligus. Erni seperti sengaja membuat jarak dan berlaku seperti orang asing.

Asoka mengikuti arah perempuan itu berjalan menuju parkiran sepeda motor seraya mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Rasa sakit bukan sebab fisik tetapi karena kelakuan Erni. Kini matanya membulat begitu melihat Erni ternyata tidak membawa motor butut merah 4 tak miliknya tetapi gadis itu dibonceng oleh seorang pria dengan motor sport.

Hans lantas bersiul melihat bagaimana Erni yang memeluk perut pria yang entah siapa itu sebab wajahnya tertutup helm full face hitam mengkilap seperti warna motornya. “Wah … pantas saja, Erni nggak mau dekat-dekat kita lagi. Seleranya anak balap motor.”

Asoka kesal karena tidak mengenali pengendara motor itu. Apalagi dia baru kali ini melihat motor itu ada. Suara knalpot mahalnya memecah keheningan parkiran pada siang ini—hanya tersisa dua mobil milik Fano itu saja dan mobil milik pengawal Asoka yang berjarak cukup jauh tapi masih dalam jangkauan penglihatan jika ada sesuatu kejadian yang tidak mengenakkan terjadi. Namun perkataan dari Hans membuat Asoka memusatkan perhatian pada temannya, yang seperti kereta batubara zaman dulu itu—dari tadi tak berhenti merokok sambil mengoceh.

“Memangnya kamu tahu, siapa orang itu?” tanya Asoka.

“Orang siapa?” Hans malah bertanya balik seraya melongo.

“Yang boncengin, Erni lah,” tukas Fano seraya geleng-geleng tak habis pikir dengan Hans yang tampak bolot hari ini. “Kamu kenapa sih? Pasti kebanyakan makan brutu deh … atau mabok jengki?”

“Sembarangan. Mana ada semur brutu bikin lupa ingatan!” protes Hans.

Asoka menghela napas panjang menyaksikan kedua temannya yang mulai berdebat tidak jelas dan keluar dari pokok pembicaraan mereka saat ini. Asoka sangat penasaran dengan pria pembawa motor sport itu. Jelas terlihat seperti orang kaya, motor yang dimiliki pria itu sama dengan milik Janu yang baru saja tiba minggu lalu.

“Guys … stop. Siapa dia?” tanya Asoka lagi seraya menepuk bahu Hans supaya kembali fokus kepadanya.

Hans menghela napas dan kemudian mematikan rokoknya. “Aku nggak tahu, tapi waktu Erni wisuda minggu lalu, orang itu ada. Dia sepertinya mewakili keluarga Erni.”

“Bukannya Erni anak yatim piatu, ya? Dia sudah lama tinggal di panti asuhan setahuku,” sanggah Fano.

“Mungkin cowok itu kakak angkat di panti,” balas Hans.

Masuk akal, tapi Asoka tidak percaya begitu saja dengan argument itu. Apalagi hatinya yang merasa jengkel. Ingin mengejar tapi sadar diri ,jangankan naik motor sport bawa motor saja dia tidak bisa. Ke mana-mana selalu diantar sopir atau merepotkan kedua temannya ini dan saudaranya yang lain tentu saja.

“Menurutmu siapa, Ka?” tanya Fano menghentikan lamunan Asoka.

“Emmh?! Oh … itu. Entahlah, saat wisuda kemarin saja aku tidak diundangnya. Apa kalian datang?”

Hans dan Fano pun menggeleng.

“Kami juga tidak diundang,” ujar Hans.

“Iya, betul,” kata Fano seraya manggut-manggut.

“Ada apa dengannya? Aku pikir dia marah karena aku sudah punya pacar,” celetuk Asoka yang kemudian mendapat hadiah timpukan bungkus rokok yang sudah kosong.

“Ge’er sekali … mana mungkin dia marah sama kamu. Mungkin dia lagi menikmati pacaran dengan orang kaya saat ini. Kasihan juga, paling nggak dia bisa naik derajat karena menikahi orang kaya,” kata Hans.

“Mulutmu ya, nggak mungkin Erni begitu. Sejak dulu dia nggak pernah mata duitan,” balas Fano.

“Bisa jadi. Segalanya mungkin saja. Apalagi zaman sekarang, ya kali mau dapat yang modal napas doang tanpa punya karir bagus dan keuangan yang oke. Aku salut sama Erni, paling tidak dia punya kekasih yang bisa menaikkan derajatnya. Logika paling masuk akalnya ya … itu, selain mungkin memang cowok itu kakak angkatnya di panti yang sukses,” terang Hans.

“Bagaimana menurutmu, Ka?” tanya Fano dan kemudian menambahkan, “Tapi memang masuk akal juga kalau dia pacaran dengan orang lain. Nggak mungkin juga dia memilih salah satu dari kita yang—”

“Kenapa tidak?” tanya Asoka memutus ucapan Fano.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit dari Kematian Palsuku
8.7
Sepuluh tahun pernikahan dikhianati saat Mahendra berselingkuh dengan Kiana. Setelah disiksa hingga cacat permanen akibat ulah mereka, aku dibiarkan sekarat dalam kecelakaan tragis. Dibantu Prakoso, aku memalsukan kematian di sebuah kebakaran demi memulai hidup baru sebagai pelatih balap legendaris di luar negeri. Tiga tahun berlalu, aku telah sukses dan berada di puncak karier. Tiba-tiba, Mahendra muncul dengan penuh penyesalan dan memohon kesempatan kedua.
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris Lumpuh
8.6
Erios Danbert, pria kaya yang lumpuh, harus mencari istri meski hatinya tertutup rapat. Takdir mempertemukannya dengan Emery Olivia La Carlistee, putri keluarga pembunuh bayaran yang mengincar kekuasaan Erios. Awalnya Emery hanya memanfaatkan situasi, namun ia justru terjebak dalam pusaran bahaya yang mengintai sang pewaris. Meski saling curiga dan mengejar ambisi pribadi, benarkah ada cinta tulus saat topeng dan motif asli Emery akhirnya terungkap?
Sampul Novel Hasrat Luar Nona Muda
8.4
Kecewa karena dikhianati kekasihnya, Floretta Shopia Copper yang sedang mabuk nekat menyerahkan kehormatannya kepada pengawal pribadinya, Jeff Nickolas Edmund. Meski Nick telah memperingatkan konsekuensinya, Shopia tetap teguh pada keputusannya demi mencari pengalaman pertama yang tak terlupakan. Namun, di balik kepatuhan sang bodyguard, tersimpan niat tersembunyi yang mengincar Shopia dan orang tuanya tanpa disadari oleh sang nona muda tersebut.
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez adalah agen rahasia Rusia menawan yang selalu menjaga jarak dari wanita meski dikagumi banyak orang. Namun, pertemuannya dengan Claudia Rodriguez, teman masa kecilnya, membangkitkan perasaan mendalam. Carlo mencoba mematikan rasa itu, tetapi cinta mereka justru kian tumbuh. Kini ia terjebak dilema besar saat ditugaskan mengusut kasus kriminal Samuel Rodriguez, ayah Claudia. Haruskah ia setia pada tugas intelijennya atau memilih cintanya?
Sampul Novel Occidens
9.7
Tumbuh dalam kebencian akibat keserakahan orang tuanya, Edgar yang berdarah campuran harus memikul kutukan berat. Namun, kehadiran Selena, si gadis pencari kayu yang ceria, mulai meluluhkan hatinya yang beku. Saat cinta mulai bersemi, takdir kejam menghalangi. Edgar terpilih menjadi pemimpin kaum immortal dan penguasa klan demon. Sebagai raja, ia dilarang memiliki pendamping atau ratu. Mampukah cinta mereka bertahan melawan hukum dunia immortal yang mutlak?
Sampul Novel Pandora
9.6
Aaron Elang Cyane kembali setelah tiga tahun berlatih demi melindungi para sahabatnya. Namun, ia mendapati Guinevere Abigail belum pulang dan Aurora Bernett diculik oleh organisasi Twilight Fantasy yang memburu daemon darah murni. Di tengah konflik, Elang harus menghadapi perasaan rumitnya pada Aleasha Brunella Aoi serta ancaman musuh dalam selimut. Takdirnya kini terikat pada rencana gelap layaknya kotak Pandora, memaksanya mengambil keputusan sulit demi masa depan.