APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Duke's Daughter

The Duke's Daughter

Nivea Del Castano dikenal sebagai putri pemberontak yang selalu menjunjung tinggi kejujuran, meski harus bersikap dingin. Keteguhan hatinya diuji saat ia menyadari identitas aslinya sebagai reinkarnasi gadis dari masa lalu. Meski takdir kuno terus membayangi langkahnya, kehadiran Matias Vander Lawrence membawa warna baru yang tak terduga. Di tengah jeratan garis hidup yang tak terelakkan, Nivea kini bimbang antara terus melarikan diri atau menetap demi cintanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Nivea, kenapa kau buru-buru bangun? Aku belum selesai bicara padamu.”

“Ah, itu.. Apa maksudmu Kakek? Kau ingin aku tidur lebih lama? Bagaimana kalau aku tidak bisa membuka mataku lagi?”

“Bukan itu maksudku bodoh!” jemari sang Kakek menyentil dahi Nivea.

“Aduh! Sakit Kakek.. Baiklah! Kau bisa katakan sekarang apa yang ingin kau sampaikan padaku?”

“Kau... cucuku yang malang.”

“Malang bagaimana? Bisakah kau bicara lebih jelas, Kakek?”

“Kau terlahir sebagai reinkarnasi dari pelayan kerajaan dalam lukisan usang itu. Dia mati membunuh dirinya sendiri, karena terlalu mencintai lelaki yang tidak pernah mau memikirkan dirinya.”

“Jadi, apa maksud Kakek... kelak aku akan mengalami nasib yang sama dengannya?”

“Entahlah! Hanya saja... aku pernah mendengar bahwa Ibu dari pelayan kerajaan itu begitu mengutuk lelaki yang dicintai anaknya. Wanita renta yang bermulut tajam itu bersumpah, jika di kehidupan mendatang lelaki itu terlahir kembali, kejadiannya akan terbalik.”

“Terbalik?”

“Ya, wanita renta itu bersumpah kelak di masa mendatang... lelaki itulah yang akan tergila-gila pada anak gadisnya.”

“Lalu Kakek, menurutmu... apa yang akan terjadi pada hidupku nanti?”

Tubuh sang Kakek perlahan tampak menipis, lenyap menyisakan kepulan asap tipis yang perlahan pun terbang mengikuti arah angin.

“Kakek.. Kakek!!!” Nivea terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Dia pun bangkit bersandar pada dipannya. Menepuk-nepuk dadanya, terasa jantungnya tengah berpacu dengan kuat. Salah satu tangannya menggapai gelas berisi air minum di sisi kirinya.

Setelah minum, dia mulai mengatur ritme nafasnya. Lagi-lagi sang Kakek hadir dalam tidurnya. Nivea semakin tak mengerti, namun dia kembali mencoba untuk memejamkan kedua matanya karena diluar sana hari tampak masih gelap.

Beberapa jam berlalu, Ayah dan Ibu Nivea pagi itu telah duduk di kursi makannya, bersiap memulai sarapan.

“Selamat pagi Ayah, Ibu.”

“Selamat pagi Nak, duduklah!” titah sang Ayah.

“Kami kira kau sudah pergi sejak pagi-pagi. Jarang sekali kau mau ikut sarapan dengan kami.”

“Tidak Ibu. Aku rasa, aku bangun agak telat pagi ini.”

“Apa kau baik-baik saja Nivea? Kau sakit?”

“Ah, tidak Ayah. Aku hanya... mungkin kualitas tidurku kurang baik.”

“Segeralah pulang setelah membuat roti, kau tidak perlu seharian berada di toko.”

“Tidak Ibu. Justru aku sangat senang jika bisa melayani banyak pelanggan.”

Setelah menyelesaikan sarapannya pagi ini, Nivea bersama Seri segera berangkat ke toko. Melakukan aktivitas hariannya seperti biasa.

Dalam perjalanan mereka kali ini, Nivea memilih diam dan sesekali tampak memejamkan mata, membuat pelayan pribadinya itu tak berani membuka mulut.

Sesampainya mereka di toko, dengan telaten Nivea mulai bekerja membuat adonan rotinya. Dia tampak berkonsentrasi jika dilihat dari luar, tak ada yang tahu bahwa pikirannya sedang bercabang.

“Kenapa kau terus menggangguku, Kakek? Untuk apa kau menyampaikan tentang pelayan kerajaan yang mati konyol karena lelaki yang dicintainya? Apa hal itu penting buatku?” batinnya tak terucap. Pandangannya masih tertuju pada wadah berisi adonan roti di hadapannya. Dan tangannya masih meremas setiap bagian dari adonan yang mulai tampak kalis itu.

Beberapa jam berlalu, Nivea telah selesai dengan roti-rotinya. Dia berdiri dengan anggun di balik etalase rotinya. Tampak seorang lelaki dengan topi koboi memasuki toko itu.

Dengan sopan lelaki itu melepas topinya lalu sedikit membungkuk saat menyadari keberadaan Nivea disana.

“Ah, nona Nivea! Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Sangat cerah, tuan Rodrigues. Kau ingin roti yang mana?”

“Dua buah roti dengan selai cokelat di dalam.”

“Kau berencana duduk disini?” tanya Nivea seraya mengambil kedua buah roti dengan bantuan alat capit.

“Tidak nona. Tolong dibungkus saja. Saya membelinya untuk seorang teman.”

“Ah, baiklah!”

“Temanku sangat menyukai rotimu.”

“Benarkah?”

“Tentu. Saya rasa Anda mengenalnya. Dia kakak kelas Anda di perguruan ketiga.” seraya menerima bungkus roti berwarna cokelat yang diserahkan oleh Nivea.

“Ah, mungkin aku mengenalnya. Ada banyak kakak kelas disana.”

“Dia putra dari count Antonio.”

“Ah.. Hahaha. Ya, aku cukup mengetahuinya.”

“Baiklah, terima kasih nona. Kalau begitu Saya pamit.” lelaki itu kembali membungkuk sebelum beranjak dari hadapan Nivea.

Nivea masih termenung di tempatnya. Tampaknya dia memikirkan seorang kakak kelas yang dimaksud oleh tuan Rodrigues tadi. Tak lama dirinya tersadar dari lamunannya, dia melangkah untuk mengambil sebotol limun di lemarinya. Dan seperti biasa, hanya dengan tangan kosong dia begitu mudah membuka tutup botol beling yang masih tertutup sangat kuat.

Jika orang lain harus membuka tutupnya dengan bantuan alat, tapi tidak dengan Nivea. Tangannya memiliki kekuatan ajaib yang tidak diketahui oleh banyak orang. Dan dia menyadari kemampuan itu sejak berusia tujuh tahun.

Setelah menuang limunnya ke dalam gelas, dia segera meminumnya.

“Nona, Anda baik-baik saja?” tanya Seri yang muncul dari arah dapur.

“Hmm!”

“Ah, selamat sore nona. Kau ingin roti yang mana?” Seri mengalihkan pandangannya kepada seorang gadis bergaun hijau yang menghampiri etalase.

“Aku mau roti... Ah, itu Anda nona Nivea?” kedua mata yang sedang menjelajah seisi etalase akhirnya dapat menangkap keberadaan Nivea yang masih berdiri setengah membelakangi etalase roti itu.

Diiringi senyum, Nivea membalikkan tubuhnya ke arah gadis itu.

“Biar aku saja.” ucapnya lirih pada Seri sehingga Seri bergeser dan kembali ke dapur.

“Selamat sore nona Martha. Apa kau akan duduk disini untuk menikmati roti dan limun kami?”

“Sore nona Nivea. Aku ingin membawa pulang beberapa roti untukku dan kakak.”

Nivea membulatkan kedua matanya, senyumnya menipis, “Ada apa dengan Matias? Semua orang ingin membelikannya roti hari ini.” batinnya.

“Kakak ku sedang kurang sehat, nona.”

“Hah, apa? Ah, baiklah. Jadi, kau mau roti yang mana nona?”

“Apa nona Martha bisa mendengar apa yang ku ucapkan dalam hati? Ah, tidak tidak..” batinnya lagi-lagi mengaduh.

Kedua tangan Nivea cekatan menyiapkan roti-roti yang disebutkan oleh Martha. Dia pun segera membungkusnya dalam kantung kertas berwarna cokelat.

“Ini rotimu, nona.”

Martha membayarnya setelah Nivea menyebutkan total belanjanya.

“Terima kasih nona Martha.”

“Ya nona. Terima kasih kembali. Sampai jumpa.” diiringi senyum Martha membalikkan tubuhnya kembali ke arah pintu masuk toko.

Nivea beranjak dari balik etalasenya, dia melangkah ke dapur mencari pelayan pribadinya.

“Seri, ayo pulang!”

“Apa? Anda mau pulang sekarang, nona?”

“Aku harus bicara berapa kali, Seri?”

“Ah, baik nona.”

Seri meninggalkan selai kacang yang sedang dibuatnya dalam wadah di atas meja, dengan kode dia meminta tolong pada pekerja yang lain untuk melanjutkan pekerjaan yang harus ditinggalkannya. Seri berlarian kecil mengejar nonanya yang baru saja melangkah keluar dari toko.

“Anda terlihat pucat nona.” ucapnya saat mereka telah duduk berhadapan di dalam kereta kudanya.

“Benarkah? Aku rasa... aku... Entahlah! Aku hanya ingin pulang lebih cepat dan beristirahat.”

“Bukankah... gadis tadi itu putri count Antonio?”

“Hmm. Kau benar!”

“Apa yang dia katakan padamu nona? Apa Anda mendadak ingin pulang karena dia mengatakan sesuatu?”

“Tidak ada.”

“Anda berbohong nona.”

“Apa aku tampak sedang berbohong, Seri? Dan kenapa kau selalu ingin tahu sesuatu dariku?”

“Ah, tidak.. tidak.. Maafkan Saya nona. Saya akan berusaha untuk tidak mengulanginya.”

Sepanjang perjalanan menuju kediamannya sore ini, Nivea hanya terdiam memandang ke sisi jalan lewat jendela kecil yang berada di samping kanannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Luna Baru Alfa-ku: Hidup yang Dirampas, Pasangan yang Ditelantarkan
9.6
Terbangun dari tidur terkutuk selama lima tahun, aku mendapati Kaelan, Alpha-ku, telah menggantikanku dengan seorang Omega. Keluargaku sendiri menyatakan aku mati secara hukum demi melantik Luna baru. Bahkan anakku lebih memilih wanita itu dan mengharapkan kematianku. Saat aku sekarat setelah dicelakai, Kaelan justru menguras darahku demi menyelamatkan kekasihnya. Melihat pengkhianatan mereka, aku sadar keberadaanku hanyalah beban bagi kebahagiaan mereka.
Sampul Novel DANGEROUS MAN
9.8
Athur Paker adalah CEO ternama sekaligus mahasiswa dengan sisi gelap yang haus darah. Hidupnya yang dingin berubah saat ia terobsesi pada Shena, gadis ceria yang berani menolak ajakannya. Meski ditolak, Athur menggunakan paksaan demi mengklaim Shena sebagai miliknya. Kini, hidup tenang Shena hancur dalam jeratan sang psikopat yang tak bisa ia hindari. Namun, rahasia masa kecil mulai terungkap. Akankah identitas asli Athur membawa petaka baru bagi Shena?
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Gamma, Pasangan Pendendam Sang Alpha
8.2
Lima tahun kuberikan segalanya untuk Lucian hingga ia menjadi Gamma, namun ia mengabaikan nyawaku demi saudara tiriku. Setelah disiksa di penjara atas perintahnya, aku menyadari ia hanya haus kekuasaan. Kini, saatnya pembalasan. Lucian hadir di upacara ikatanku dengan harapan palsu, hanya untuk menyaksikan aku bersanding dengan Alpha rival yang menjadi pasangan kedua sejatiku. Ini bukan tentang pengampunan, melainkan awal kehancurannya yang menyakitkan.
Sampul Novel Penyihir Terakhir
8.3
Zephyr menjadi penyihir tunggal yang tersisa setelah pembantaian kaumnya seabad silam. Berkat sihir teleportasi sepupunya, ia lolos dari maut dan mengasingkan diri di reruntuhan Kadipaten Elzir. Namun, kedamaiannya terusik saat pasukan Kerajaan Elde memburunya sebagai ancaman besar. Kini, Zephyr harus menentukan nasibnya: menghancurkan umat manusia demi dendam masa lalu atau mencari jalan perdamaian. Keputusannya akan mengubah sejarah hubungan manusia dan sihir selamanya.