APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel The Witcher of Mallacht

The Witcher of Mallacht

Le Delleraz adalah penyihir misterius yang mengacaukan dunia dengan kutukan dan api. Setelah mencuri sesuatu yang sangat berharga, ia kini menjadi buruan banyak pihak. Di tengah pelariannya, ia terus dikejar oleh Laccuan Holt, seorang pemburu yang pantang menyerah. Meski Le Delleraz bertekad tak akan terhentikan, Laccuan memiliki ambisi berbeda. Ia mengejarnya bukan demi keadilan, melainkan untuk memiliki sang penyihir sepenuhnya di mana pun ia bersembunyi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Shanley adalah seorang ratu yang memimpin hutan Nirthina dan semua peri yang berada di dalamnya. Shanley terlihat begitu murka, netranya yang berwarna putih seperti salju terlihat begitu tajam menatap Delleraz.

Melihat kedatangan Shanley tentunya membuat Delleraz semakin waspada, ia terus bergerak menangkis dan membalas serangan para prajurit peri sembari mencari cara agar bisa melarikan diri dari hutan Nirthina dalam keadaan masih bernyawa.

Delleraz berputar dengan pedang yang mengayun cepat sehingga benda tajam itu berhasil mengenai tubuh beberapa peri.

"Arghh!"

Suara desingan pedang dan teriakan mulai memecah keheningan hutan Nirthina. Mata Delleraz memicing, ia segera menghunuskan pedangnya ke arah belakang, dan benar saja, ada seorang peri yang berniat untuk menebasnya.

Delleraz mencabut pedangnya dengan cepat kemudian kembali bergerak secepat mungkin, beruntung keahliannya dalam berpedang bisa melindunginya di saat sedang terdesak seperti sekarang ini. Tidak salah ia mempelajari berbagai senjata untuk melindungi dirinya agar dia tidak hanya mengandalkan sihirnya.

Melihat beberapa prajuritnya yang sudah mati dan juga kewalahan membuat Shanley menggeram marah.

Shanley segera melesat cepat dengan pedang yang sudah terangkat tinggi, pedangnya terlihat memancarkan cahaya membuat Delleraz langsung melompat. Bukannya lari, Delleraz malah melesat ke arah yang berlawanan dengan Shanley membuat keduanya seperti akan bertabrakan.

Prang!

Dua benda logam itu kini bertemu sehingga menimbulkan suara desingan yang begitu memekakkan telinga.

Delleraz menangkis setiap serangan anak panah dan tombak yang mengarah kepadanya disela-sela pertarungannya dengan Shanley. Wanita peri itu menyerangnya dengan amarah, Shanley terlihat sangat lihai memainkan pedangnya membuat Delleraz tidak bisa menganggap enteng gadis bertelinga runcing itu begitu saja.

Prang!

Pedang milik Shanley hampir saja menghunus jantung Delleraz, namun Delleraz berhasil menahannya dengan menggunakan pedangnya sekuat tenaga.

Netra keduanya kini saling bertemu, Shanley menatapnya tajam seolah sangat ingin membunuh dan mengulitinya hidup-hidup.

"Dasar pencuri," desis Shanley yang mana membuat Delleraz tersenyum miring.

"Katakan itu pada ibumu," sahut Delleraz kemudian menendang perut Shanley membuatnya terpelanting.

"Arghh!"

Punggung Shanley membentur pohon dengan keras, ia sampai terbatuk-batuk sembari memegangi perutnya.

Melihat para prajurit yang ingin kembali menyerangnya membuat Delleraz segera berlari sekencang mungkin sembari sesekali melompat. Delleraz tidak mungkin menghadapi Shanley dan semua prajuritnya, dia bisa kewalahan atau bahkan mati di Nirthina.

Delleraz berlari cepat dengan pedang yang sudah ia sarungkan, tangannya bergerak meraba tasnya. Di sana ada bungkus permata Damanta dan juga bungkus serbuk hitam miliknya.

"Ini serbuk terakhir," gumamnya kemudian menggenggamnya erat.

Delleraz menoleh ke belakang, terlihat para prajurit peri dan juga Shanley yang juga mengejarnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Delleraz segera melompat kemudian melemparkan serbuk hitam itu ke udara.

"Apa itu?"

"Menghindar!" teriak Shanley bersamaan dengan asap hitam yang mulai menyelimuti mereka.

Beberapa prajurit langsung berjatuhan karena menghirup asap itu.

Delleraz menatap pintu gerbang di depannya, pintu itu terlihat bergerak ingin menutup dirinya sendiri. Dan Delleraz yakin bahwa Shanley yang mengendalikan pintu gerbang itu dengan sihirnya.

"Kau tidak akan bisa mengurungku di Nirthina!"

Delleraz merapalkan sihirnya membuat tubuhnya kini memancarkan cahaya berwarna kemerahan, pintu gerbang Nirthina langsung terbuka lebar kembali membuat Delleraz tersenyum miring karena nyatanya sihir Shanley tidak sekuat sihirnya.

"Selamat tinggal Shanley," Delleraz menoleh ke belakang untuk memberikan senyuman kepada Shanley.

Wanita peri itu terlihat tidak menyerah untuk mengejarnya, Shanley kembali mengeluarkan busur panahnya kemudian membidik Delleraz yang berlari depannya.

Wusshhh!

Anak panahnya meluncur dengan cepat, namun tiba-tiba saja Delleraz berguling lalu menaiki seekor kuda berwarna putih yang muncul tanpa diduga-duga.

"Arghh kembalikan permataku Le Delleraz!" teriak Shanley penuh kemarahan.

Kuda yang ditunggangi oleh Delleraz berlari begitu cepat membuat rambut panjang Delleraz berkibar ke sana-kemari, terlihat sangat indah. Wajahnya yang sempurna tampak begitu dingin, cahaya rembulan membuatnya terlihat bersinar. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpukau jika tidak mengetahui siapa dirinya.

"Lebih cepat lagi, Orla. Aku masih merasakan kehadiran mereka, para peri itu pastinya mengejarku," bisik Delleraz kepada kudanya.

Sesekali ia menoleh ke belakang, walaupun para peri itu tidak terlihat, tetapi Delleraz tahu bahwa mereka tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Shanley dan para prajurit Nirthina pasti masih mengejarnya.

Tiba-tiba saja Orla berhenti bahkan hampir melompat membuat Delleraz tersentak kaget dan langsung kembali menatap ke arah depan.

Matanya sedikit melebar melihat sosok serigala bertubuh besar dengan bulu berwarna hitam legam dan mata merah seperti darah kini berdiri menghadangnya.

"Menyingkir dari jalanku, Laccuan Holt," suara Delleraz terdengar sangat tenang, begitu juga dengan wajahnya.

Sosok serigala itu terdengar menggeram kemudian merubah wujudnya menjadi seorang pria manusia berwajah menawan dan tubuh kekar yang sempurna. Terlihat pahatan di perut kotak-kotaknya, rahang tegasnya tampak begitu pas dengan matanya yang tajam.

Pria itu adalah Laccuan Holt, seorang pemburu yang selama tiga bulan ini selalu mengejar-ngejar Delleraz dan mencari keberadaannya. Delleraz tidak tahu siapa yang memerintahkan Laccuan Holt, yang jelas dia harus menghindar karena pria itu berbahaya.

Laccuan Holt pemburu brutal yang bisa melakukan apa saja demi uang ataupun harta.

"Akhirnya kita bertemu lagi, Delleraz."

Suara berat yang sudah cukup lama tidak didengar lagi oleh Delleraz kini kembali masuk ke dalam telinganya.

Delleraz menatapnya dingin, "Kau tidak akan bisa menangkapku, aku bukan buruan yang tepat."

"Tentu saja aku bisa," Laccuan tersenyum tipis untuk sesaat sebelum ia mengernyit karena mendengar suara tapak kaki puluhan kuda yang berasal dari arah belakang Delleraz.

"Apa lagi yang sekarang kau lakukan?" tanya Laccuan namun hanya mendapatkan senyuman sinis dari Delleraz.

"Aku tidak memiliki urusan denganmu."

Delleraz menoleh ke belakang, kini terlihat puluhan kuda yang ditunggangi oleh para prajurit peri dan juga Shanley. Mereka memacunya dengan cepat ketika melihat Delleraz yang berhenti di tengah luasnya padang rumput.

"Sekarang para peri, apa yang sudah kau curi dari mereka?"

Delleraz kembali menatap Laccuan Holt, "Kau pasti tahu apa yang sudah ku curi dari peri-peri itu."

"Jangan sampai dia lolos lagi!"

"Panah!"

Teriakan Shanley terdengar nyaring, puluhan anak panah segera dilepaskan oleh para prajurit peri ke arah Delleraz.

Melihat Laccuan yang tidak kunjung menyingkir dan sepertinya benar-benar akan menangkapnya membuat Delleraz segera membaca sihirnya sembari mengusap kepala Orla.

Matanya menatap netra milik Laccuan Holt lekat-lekat seolah akan menenggelamkannya. Bahkan Delleraz tidak mempedulikan puluhan anak panah serta tombak yang menghujaninya, sihirnya membuat semua senjata itu menjadi tidak berguna karena semuanya hancur di udara sebelum mengenai dirinya.

"Arghh serang dia!"

Shanley terlihat sudah siap dengan pedangnya, ia memacu kudanya secepat mungkin agar mendekat kepada Delleraz.

Laccuan hanya tersenyum melihat kabut hitam yang menyelimuti tubuh Delleraz, sepasang sayap yang begitu kokoh dan besar muncul secara tiba-tiba di kedua sisi tubuh Orla.

Wusshhh!

Ayunan pedang Shanley tentunya meleset karena Orla yang langsung membawa Delleraz terbang tinggi.

Delleraz tersenyum penuh kemenangan kemudian mengeluarkan permata Damanta dan mengangkatnya tinggi untuk memperlihatkan kepada Laccuan dan juga Shanley bahwa dia berhasil mencuri permata Damanta yang sangat berharga untuk para peri.

"Aku pasti akan membunuhmu Le Delleraz!" teriak Shanley sembari terus berusaha memanah Delleraz yang sudah terbang tinggi bersama dengan Orla dan perlahan menjauh, menghilang dari pandangan mereka.

Laccuan hanya diam di tempatnya membuat Shanley menatapnya tajam.

"Kau! Kenapa kau membiarkannya kabur begitu saja? Kenapa kau tidak langsung menangkapnya?"

"Aku tidak memiliki urusan dengannya," sahut Laccuan Holt lalu kembali merubah wujudnya menjadi sosok serigala.

Laccuan Holt berlari dengan cepat meninggalkan Shanley dan para prajuritnya yang tampak kalang kabut karena Delleraz berhasil kabur membawa permata Damanta.

Laccuan tidak akan menangkap Delleraz untuk para peri itu, dia memiliki tugas dari orang lain, dan dia diperintahkan untuk bisa menangkap Delleraz hidup-hidup. Tugas yang sangat sulit, menangkap gadis itu tidaklah mudah. Namun dia adalah Laccuan Holt, dia menyukai tantangan dan dia tidak pernah melepaskan buruannya begitu saja. Dia akan terus mengejar Le Delleraz sampai bisa mendapatkannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calamity Of Love
9.4
Camilio Danielle Osvaldo adalah jenius ber-IQ 150 dengan prestasi militer gemilang. Namun, patah hati mendalam akibat ditinggal wanita tercinta mengubah hidupnya. Mike, petinggi Black Nostra, mengajaknya bergabung ke sindikat mafia global tersebut. Meski awalnya menolak karena nurani, Camilio akhirnya luluh setelah melihat solidaritas luar biasa di sana. Di balik aksi kriminal, ia menemukan kehangatan keluarga yang tak terduga dalam kelompok tersebut.
Sampul Novel DENDAM CINTA SANG MAFIA
8.3
Kehidupan seorang wanita biasa berubah drastis saat ia masuk ke dunia mafia yang kelam. Terpikat oleh pesona bos kriminal yang sangat berbahaya, ia terjebak dalam pusaran gairah mematikan dan aksi balas dendam yang brutal. Di tengah konflik berdarah ini, ia dipaksa menghadapi dilema batin yang hebat. Kini, ia harus memilih antara mengikuti kata hatinya untuk terus mencintai sang mafia atau tetap memegang teguh prinsip moralitasnya.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Suami
9.0
Kehidupan Gunawan hancur seketika saat ia kehilangan jabatan kepala pengawas di pabrik. Penderitaannya kian memuncak ketika sang istri melayangkan gugatan cerai dan mengusirnya tanpa belas kasihan. Terpuruk dan terhina, harga diri Gunawan sebagai pria terusik hebat. Ia menolak untuk menyerah pada keadaan yang pahit ini. Kini, ia bertekad bangkit demi membuktikan kekuatannya dan membalas dendam pada semua orang yang pernah memandang rendah dirinya.
Sampul Novel (NOT) Your Ordinary Lab Girl
8.3
Meha, asisten lab mikrobiologi di Universitas Elephas, mendadak jadi tersangka pembunuhan berantai karena mayat ditemukan di tempat kerjanya. Bersama rekannya, Remi, mereka terjebak fitnah dan konspirasi politik kampus yang pelik. Demi membersihkan nama baik dan kelanjutan studinya, Meha terpaksa turun tangan memecahkan misteri tersebut. Namun, keberhasilannya justru memicu kasus baru, seolah ia adalah magnet bagi para pembunuh yang haus untuk diungkap aksinya.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Mafia Berdarah Dingin
8.7
Dominic Toretto tega menjual anaknya demi harta dengan menjanjikan pernikahan kepada keluarga De Luca yang kejam. Alessia Toretto akhirnya memilih maju demi menggantikan posisi adiknya untuk menikahi seorang bos mafia pembunuh berdarah dingin. Tanpa diduga, keputusan nekat ini justru menjerumuskannya ke dalam pusaran konflik hidup dan mati. Kini Alessia harus berjuang menemukan keberanian demi melawan nasib kelam yang telah dipaksakan padanya.
Sampul Novel Tanah Para Naga
9.2
Setelah puluhan tahun berlalu, pandangan masyarakat di benua timur mulai beralih penuh rasa ingin tahu ke arah Benua Baru. Aku yang mulanya sekadar mendampingi langkah guruku, kini mulai merasa terpesona oleh kemurnian alam yang ditawarkan oleh tanah misterius tersebut. Namun, di tengah petualangan yang memikat ini, ada sebuah bara dendam lama di dalam hatiku yang masih menyala dan belum sanggup kulepaskan sepenuhnya. Perjalanan ini pun menjadi lebih rumit.