APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TULPA (Permainan Cinta)

TULPA (Permainan Cinta)

Dijuluki gadis gila oleh teman-teman sekolahnya tak membuat siswi ini berhenti berfantasi. Baginya, imajinasi adalah pelarian sekaligus nyawa dari kesehariannya yang sepi. Namun, keajaiban muncul saat salah satu ciptaan pikirannya tiba-tiba bermanifestasi menjadi nyata. Sosok pangeran bernama Kelabu kini hadir di dunia fisik demi mendampingi sang putri yang selama ini terasing. Sebuah romansa fantasi tentang obsesi yang melampaui batas logika manusia.
Bab
Bagikan

Bab 2

TULPA

2. Siapa Dia? 

Malam ini, lebih dingin dari biasanya. Walau begitu, tidak membuatku bergerak sedikit pun. Kutatap halaman rumahku yang tidak terlalu luas, ah tidak. Lebih tepatnya aku tidak sepenuhnya menatap hamparan yang penuh bunga-bunga itu. Pikiranku melayang jauh, sejauh harapanku. Jika dipikir-pikir, kehidupanku sungguh memuakkan. Mengingat semua kejadian yang terjadi di sekolah, membuatku mendengus kasar. 

Hei, memangnya salah seorang gadis berusia lima belas tahun ini berharap suatu hari ada seorang pangeran yang menolongnya dari cengkraman para monster berkedok teman sekelas? Saat pemikiran itu berlalang buana, angin kencang berhembus, menabrak wajahku. Sontak saja mataku terpejam sesaat, merasakan hawa dingin. Merasa ada seseorang yang berdiri di belakang, membuatku dengan segera berbalik. Benar saja, jika diperhatikan baik-baik, ada seseorang berdiri di dalam kamarnya yang gelap gulita. Mengandalkan sinar rembulan yang menerobos masuk melalui jendela yang terbuka, mataku menajam, mencoba melihat dengan jelas siapa sosok itu. Namun nihil, semuanya tampak buram. 

"Siapa kau?" tanyaku waspada. 

Hening. Aku hanya bisa bergeming seraya menatap sosok tersebut. Kedua kakiku terasa kaku untuk digerakan. 

"Apa yang kamu pikirkan tentangku?" Bukannya menjawab, seseorang itu bertanya balik. Membuat kerutan di dahiku tercetak. 

"Kau ...." Aku terdiam, mencoba menilai sosok itu. "Anak laki-laki yang berusia tidak jauh dariku?" balasku ragu. 

Samar, dapatku lihat sosok itu mengangguk dua kali. Setelahnya, suara langkah kaki terdengar, disusul dengan sosoknya yang perlahan terlihat jelas. Tanpa sadar kumenahan napas. Ujung kedua kakinya perlahan terlihat jelas karena terpaan sinar rembulan, disusul dengan tubuhnya hingga akhirnya, sempurnalah sosok itu terlihat jelas. 

Aku terpaku. Benar saja, sosok itu adalah anak laki-laki yang berusia tidak jauh dariku. Dia tinggi, dengan tubuh yang cukup dibilang kurus. Rambut hitam legamnya sudah mulai menutupi kedua netranya yang berwarna hijau kekuningan. Netra itu berkilat. Indah dan menyejukkan, bahkan aku sampai larut ke dalamnya. Tampan. 

Mengerjapkan kedua mataku, mencoba menyadarkan diri dari kekaguman. Tatapanku menajam, memasang posisi siaga. Siapa yang tidak waspada ketika mendapati orang asing di kamarnya? 

"Siapa kau?!" tanyaku. 

Dia tersenyum. Membuat kadar ketampanannya bertambah. Bahkan aku mulai goyah akan sikap kewaspadaanku. Berhenti bersikap seperti orang bodoh, Kejora! Lihatlah di depanmu ada orang asing yang tiba-tiba masuk di kamarmu entah dari mana! 

"Aku ... Kelabu."

Hening. 

"Kelabu?" gumamku. 

Siapa Kelabu? Apa aku mengenalnya? Sepertinya tidak ada anak laki-laki di sekitar rumahnya yang bernama Kelabu. Atau dia teman kecilnya dulu? Ah, tidak mungkin. Mengingat sifatku yang pendiam dan sulit bergaul dengan orang lain, kecil kemungkinan aku memiliki teman kecil. 

"Aku tak mengenalmu! Siapa kamu?! Dan, darimana kamu bisa sampai di sini?!"

Dapat kulihat, pancaran manik hijau itu menyendu. Membuatku mengernyit. Kelabu mulai melangkah, mendekat. Membuatku sontak mundur ke belakang. Mengumpat pelan ketika merasakan punggungku, menabrak dinding jendela. 

"Kau mengenalku. Aku, Kelabu dan untuk pertanyaan terakhirmu, kau tidak perlu tahu. Sekarang, yang terpenting adalah aku menemukanmu, Kejora Amara."

Saat itu juga, jantungku rasanya akan berhenti berdetak. Kelabu, mengetahui namaku? Bagaimana bisa? Otak kecilku tidak bisa memahami semua perkataannya. 

Sebuah jentikan tepat di depan wajahku, membuatku tersentak. Dapat kudapati Kelabu yang terkekeh, menertawakan ekspresiku yang kuyakini seperti orang menahan boker. Aku mendengus, tanpa memperdulikan Kelabu, aku melangkah menuju ke kasur empukku. Aku yakin, Kelabu tengah mengekoriku, tetapi aku tidak peduli. Toh, aku tidak mengenalinya walau Kelabu berkata bahwa aku mengenalnya, tetap saja aku tidak mengingat adanya kenangan mengenainya. Jadi, tidak salah bukan bila aku menganggap Kelabu orang asing? 

"Kau mau apa?" Pertanyaan Kelabu membuat kegiatanku yang siap menuju alam mimpi pun tertunda. 

"Kau bisa melihatnya sendiri 'Kan? Aku mau tidur!" ketusku. 

Dapat kutangkap sudut bibir Kelabu berkedut, kedua matanya menajam dengan salah satu alis terangkat. Dengan wajah tertekuk, dia melompat ke kasur lalu duduk bersila.

"Tidak bisa! Kau mau menghiraukanku? Aku jauh-jauh ke sini untuk bertemu denganmu!" sungutnya. Jangan lupakan tangannya yang sudah dengan nakalnya menarik-narik, tangan kananku agar aku duduk. Dengan sebal aku menurut, duduk menghadapnya. 

"Dengar ini baik-baik. Pertama, aku tidak mengundangmu ke rumahku dan kedua, aku tidak mengenalmu. Jadi, silahkan pergi dari kamarku!" Wajah Kelabu semakin masam. Tetapi, aku tidak peduli. 

Tapi, bila diingat-ingat, kedatangan Kelabu seperti sebuah keajaiban. Kelabu datang tepat setelah umurku beranjak lima belas tahun, di mana lagi-lagi aku berharap ada pangeran yang datang menemuiku. Terlebih, kemunculan Kelabu pun aneh, aku tidak tahu asal-usulnya. Ini seperti mimpi. 

"Kau berpikir ini mimpi?"

Mendengar itu, sontak aku menoleh. Menatap sosok Kelabu yang kini bertopang dagu dengan kepalan tangan kanannya yang bertumpu pada lipatan tangan kiri. Apakah dia bisa membaca pikiran seseorang? 

"Jika bisa, aku akan berharap ini hanya mimpi."

Tidak lucu rasanya bila mengingat seorang anak laki-laki di kamarmu. Dan tambah tidak lucu lagi jika tiba-tiba ibumu masuk ke dalam kamarmu yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki. Bisa-bisa, ibu akan berpikir yang tidak-tidak. Itu tidak lucu, sungguh! 

Kelabu mengangguk. Dia menegakkan posisi duduknya. "Kalau itu maumu, baiklah. Anggap kejadian ini dan selanjutnya hanyalah mimpimu. Selamat tidur, Kejora," ujar Kelabu. 

Belum sempat aku membalas, tiba-tiba kedua mataku terasa begitu berat. Aku mencoba menghilangkan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tetapi, semua itu percuma saja. Kegelapan perlahan menarik kesadaranku. Gerbang alam mimpi perlahan terbuka, menyambutku untuk bermain-main di dalamnya. 

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Another Maze
9.6
Keberhasilan mesin waktu memicu kemunculan bola misterius yang meledak saat disentuh Robert Hans. Laboratorium hancur total, menyisakan Zora sebagai satu-satunya ilmuwan yang selamat. Demi menyelamatkan Hans yang pingsan, Zora nekat masuk ke mesin waktu tanpa koordinat pasti. Di sana, Dewi Penjaga Waktu mengungkap rahasia pulang: mereka harus mengumpulkan kepingan Air Mata Aldebran yang tersebar di berbagai dimensi asing guna menciptakan kunci kembali.
Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dendam lama bangkit saat Dersik kembali ke Desa Mangpusu. Meski puluhan tahun berlalu, ia tetap awet muda dan mempesona, siap menuntut balas atas tragedi masa lalunya. Sunarni, sang mantan majikan, kini tunduk karena rasa bersalah saat keluarganya dihabisi satu per satu. Di tengah teror Begu Ganjang, Surya sang dukun sakti mencurigai Dersik sebagai mantan kekasihnya. Ironisnya, putra Sunarni justru jatuh cinta pada wanita misterius yang bertekad menghancurkan mereka.
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Rino Rahman, seorang pemuda yang baru menyelesaikan studinya di Bandung, mendambakan pengalaman asmara yang selama ini belum pernah ia rasakan. Di tengah kesendiriannya, sosok misterius hadir menawarkan bantuan untuk mewujudkan keinginan Rino melalui alam mimpi. Akankah janji pria tersebut menjadi kenyataan indah bagi Rino, ataukah tawaran itu hanyalah bualan kosong belaka? Ikuti perjalanan unik Rino dalam mencari cinta di antara realita dan imajinasi.
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Persahabatan Adrian dan Wandi retak akibat kehadiran Hesta, gadis misterius yang mempesona Adrian namun tampak mengerikan bagi Wandi. Wandi berusaha keras menyadarkan Adrian bahwa pujaan hatinya adalah makhluk astral, sementara serangkaian kejadian buruk mulai menghantui sejak mereka mendatangi sebuah pohon beringin tua. Di tengah belenggu misteri dan bahaya, mampukah Adrian melihat kebenaran? Akankah cinta beda dunia ini bersatu atau justru membawa petaka bagi mereka?
Sampul Novel Ketika Anak Kami Melompat, Saya Memutuskan Ikatan Kami
8.8
Alpha Damien mengabaikan ulang tahun putrinya demi sang selingkuhan. Akibatnya, Noah yang menderita gangguan jiwa merasa terbuang dan nekat mengakhiri hidupnya. Saat duka mendalam menyelimuti, Damien justru lebih memilih melindungi Omega lain daripada mendampingi istrinya yang hancur. Merasa dikhianati sepenuhnya, sang istri memutuskan melakukan Ritual Penolakan di depan seluruh kawanan. Kini, Damien memohon pengampunan saat ikatan takdir mereka terputus selamanya.
Sampul Novel Omega-nya yang Terbuang, Kehancuran Raja Alpha
9.1
Lima belas tahun menjadi pendamping Baskara Adijaya, sang Alpha mematikan, hancur seketika saat aku merasakan pengkhianatannya. Aroma wanita lain dan pesan vulgar dari asistennya, Jasmine, mengungkap perselingkuhan keji mereka. Kondisi 'Penolakan Jiwa' menyerangku akibat ikatan yang tercemar, diperparah klaim kehamilan Jasmine. Kini, aku melepaskan peran sebagai penenang monster dalam dirinya. Tanpa menuntut harta, aku memilih bebas dan bersiap meruntuhkan dunianya.