APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Warisan Pembawa Petaka

Warisan Pembawa Petaka

Keluarga Vallage menerima warisan berupa rumah di pelosok Nevada. Claire, sang janda, memboyong Bianca dan Lisa untuk memulai hidup baru di sana. Namun, kediaman tersebut justru menyimpan teror mengerikan yang mengancam nyawa. Mereka terjebak tanpa jalan keluar, menghadapi ancaman maut yang terus mengintai. Akankah ketiganya berhasil lolos dari rumah pembawa petaka tersebut, atau justru berakhir tragis? Sebuah kisah misteri penuh adegan keras bagi pembaca dewasa.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lisa memang mempunyai kepekaan yang sangat tajam. Entah apa yang dia rasakan tentang mimpi tersebut. Bukan hanya mimpi yang sedang dia pikirkan, tapi ada beberapa hal yang sedang dia pikirkan juga. Sedangkan Bianca terlihat santai menanggapi mimpi buruk itu. Ya, Bianca memang tipikal perempuan yang cuek dan masa bodoh. Berbeda dengan Lisa yang begitu memperhatikan semuanya.

Kedua putri dari Claire Vallage ini kadang memang tidak pernah akur. Mereka kadang berselisih pendapat atau pun meributkan soal laki-laki. Ah, lebih tepatnya pacar.

Apa Bianca dan Lisa punya pacar? Atau kah mereka berdua berpacaran dengan laki-laki yang sama?

Tentu saja tidak. Mereka memang mempunyai banyak teman terutama para kaum adam. Bianca dan Lisa memang mempunyai paras yang cantik, mewarisi kecantikan alami dari Claire. Tak heran jika di sekolah Bianca dan Lisa menjadi dambaan para kaum adam.

Dua saudara yang hanya terpaut usia satu tahun ini memang kadang akur dan kadang cekcok. Ini sudah wajar dikalangan kakak-adik. Namun, Bianca dan Lisa mempunyai sifat yang berbeda.

Lisa mencebik, dia menarik napas panjang dan mengembuskan dengan kasar. Dia terdiam lama tidak menjawab pertanyaan dari Bianca.

"Aku tahu kau akan seperti ini, tapi jika kau butuh tempat curhat. Aku buka 24 jam untuk mendengarkan curhatan mu," ujar Bianca.

Bianca bangkit dari duduknya. Namun seperti biasa, apa yang dilakukan oleh Lisa. Dia kembali mencegah Bianca dengan menarik tangannya. Bianca menoleh menatap Lisa.

"Ada apa?" tanyanya.

"Ini soal—"

Teeeettt!

Bunyi bel berbunyi sebanyak tiga kali yang menandakan bahwa kelas akan mulai. Lisa mengurungkan untuk bercerita pada Bianca.

"Tidak jadi. Aku akan menceritakan nanti. Bel sudah berbunyi, aku harus masuk ke kelas," pamit Lisa meninggalkan Bianca.

"Kenapa dia jadi aneh seperti itu? Apa karena mimpi yang semalam atau karena hal lain—semisal soal Daddy?" Bianca merenung sesaat sebelum akhirnya sebuah suara memanggilnya.

"Kak, apa kau akan membolos?" teriak Lisa dari jauh, karena dia melihat Bianca masih berdiri di sana.

"Yee ... siapa juga yang mau membolos. Ini juga mau kembali ke kelas," balas Bianca berteriak.

Para murid telah masuk ke dalam kelas masing-masing. Siang itu adalah pelajaran yang terakhir sebelum para murid pulang ke rumah masing-masing. Bianca masing duduk termenung di bangkunya sambil berpangku dagu dan menatap keluar jendela. Kebetulan bangku Bianca dekat jendela besar.

Gulungan awan putih saling berkejaran di atas sana. Serasa seperti menonton film 3 dimensi di kaca besar. Bianca memang cuek dan masa bodoh, tapi ingatan dia masih merekam tentang mimpi tersebut.

Mimpi yang begitu menyeramkan, tapi kenapa bisa kebetulan sekali bisa terjadi bersamaan dengan Lisa malam itu. Apakah mimpi itu sebuah tanda atau kah hanya bunga tidur?

"Huft ... kenapa aku jadi parno memikirkan mimpi itu," gumam Bianca mengoceh lirih sendiri. Dia pun mengeluarkan buku dari dalam tasnya saat seorang guru masuk ke dalam kelasnya.

Siang itu Bianca mulai tidak fokus. Sama halnya dengan Lisa, adiknya. Di dalam kelas dia mulai sering melamun sampai berkali-kali Lisa harus kena tegur gurunya.

"Lisa!" Sebuah panggilan membuyarkan lamunannya.

"Eh, ada apa?" balas Lisa bengong.

"Apa kau tidak mendengarkan Bu Cherry memanggilmu?" Grace memberi kode dengan kepalanya ke depan. Lisa langsung menoleh dan menatap gurunya.

"Lisa, apa kau ada masalah? Kenapa Ibu lihat akhir-akhir ini kau sering melamun?" tanya Bu Cherry.

"Tidak, Bu!" jawab Lisa tegas.

"Lalu kenapa? Apa kau sedang sakit?" lanjut Bu Cherry bertanya.

"Tidak juga, Bu. Hanya saja—"

Teeeettt!!

Bunyi bel tanda pulang menyela ucapan Lisa. Itu membuat Lisa menjadi lega. Bu Cherry masih berdiri menatap Lisa, lalu dia membereskan buku-bukunya.

"Oke anak-anak. Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Kita akan menyambungnya minggu depan. Dan kau Lisa, Ibu minta kau fokus saat Ibu mengajar. Jika tidak, kau boleh keluar kelas saat pelajaran Ibu dimulai. Paham!" titah Bu Cherry.

"Paham, Bu." Lisa mengangguk. Dia berjalan lesu keluar dari kelasnya. Dari jauh Bianca berlari menghampiri Lisa.

"Kau kenapa tampak lesu?" tanya Bianca. "Apa kena marah gurumu?" lanjutnya.

"Tidak. Aku hanya lapar saja." Lisa beralasan.

"Oke. Kalau begitu ayo kita pulang." Bianca menggandeng tangan Lisa dan menunggu bus datang di halte bus. Dalam kebisingan yang dihasilkan kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Lisa masih tampak dia menatap ke depan.

"Kak, aku merasakan ada yang aneh," ucap Lisa tiba-tiba. Ucapan Lisa sukses mengalihkan atensi Bianca yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.

"Maaf, kau bilang apa baru saja? Aneh? Apanya yang aneh, Lis?" tanya Bianca balik.

"Aku merasa kenapa mimpi kita itu bisa bersamaan, Kak. Bukankah itu sangat aneh," jelas Lisa sedikit berteriak karena suara kendaraan yang lewat.

"Ah, sudahlah. Kita akan membahas soal mimpi itu di rumah. Sekarang kita pulang, bus yang menjemput kita sudah datang." Bianca menarik tangan Lisa dan menaiki bus yang berhenti tepat di depan halte.

Bianca dan Lisa duduk di kursi bus paling belakang. Lisa duduk dipojokan sedangkan Bianca duduk di sampingnya. Bianca tengah asik dengan ponsel dan headset-nya, hingga membuat Lisa mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Lisa menoleh ke arah Bianca dan menarik napas saat melihat sang kakak tengah asik sendirian.

"Ah, sudahlah. Dia memang selalu seperti itu. Tidak pernah bisa di ajak serius," dengkus Lisa mengalihkan pandangannya keluar jendela bus.

°°°

Claire duduk berhadapan dengan ranjang yang dimana sang Ayahnya terbaring di sana. Ayah Claire menderita kelumpuhan selama setahun ini. Dia hanya tidur dan terkadang diajak jalan-jalan oleh Claire menggunakan kursi roda. Sedangkan Ibu Claire sudah lama meninggal. Ayah Claire tinggal bersama dengan Janet, kakak pertama Claire. Hari itu Claire diminta untuk datang ke rumah Ayahnya. Ada hal yang ingin dibahas hari itu.

"Ada apa Ayah memanggilku ke sini?" tanya Claire dengan meraba lembut tangan Ayahnya.

"Sudah sampai mana prosesnya?" tanya pria tua tersebut.

"Itu—hmm—masalah itu, Ayah tidak perlu khawatir. Ayah jangan terlalu memikirkan masalahku itu. Aku jamin semua akan berjalan dengan lancar sampai selesai." Claire menenangkan sang Ayah. Tangannya menepuk-nepuk tangan sang ayah dengan lembut. Claire tahu kalau Ayahnya itu sangat mengkhawatirkannya.

"Di mana Bianca dan Lisa? Kenapa kau tidak membawa serta mereka berdua?"

"Mereka sekolah. Akhir pekan nanti aku akan mengajak mereka berdua menginap di sini," ujar Claire tersenyum.

"Aku sangat rindu dengan kedua cucuku itu. Janet belum bisa memberiku cucu."

"Ayah, jangan berkata seperti itu. Mungkin memang belum saatnya untuk Kak Janet," hibur Claire.

"Aku harap akhir pekan nanti kau membawa mereka ke sini, karena ada hal penting yang akan aku bicarakan padamu dan juga Janet." Sang Ayah menatap Claire dengan serius.

"Baiklah, aku pasti akan datang." Claire begitu penasaran saat melihat sorot mata Ayahnya. Di sana terpancar suatu rahasia yang belum diketahui oleh Claire. Sorot mata tua dan sayu itu begitu sangat serius menatap Claire, hingga membuat Claire bertanya-tanya.

Kenapa Ayah begitu terlihat sangat serius? Apa ini ada hubungannya dengan Dia? Claire bertanya dalam hatinya. Sesekali dia menatap wajah sang Ayah sambil tersenyum. Pria tua itu belum mengalihkan pandangannya pada putrinya itu.

"Apa Ayah sudah makan?" Claire berusaha mengalihkan suasana yang terlihat semakin sangat serius dan tidak membuat Claire nyaman, walaupun itu Ayahnya sendiri yang menatapnya.

"Ayah belum lapar. Pergilah makan, jika kau sudah merasa lapar. Tapi kau jangan sampai lupa akhir pekan nanti." Kembali pria tua itu mengingatkan Claire saat dia hendak beranjak dari tempat duduknya. Claire menatap sang Ayah dan menganggukkan kepalanya.

Saat Claire hendak membuka pintu kamar tersebut, kembali dia dikejutkan dengan ucapan Ayahnya.

"Cepatlah kau urus itu. Dari dulu aku tidak menyukainya. Aku menangkap ada yang tidak beres dalam dirinya. Hal ini membuatku selalu memikirkan kalian."

Claire membalikkan badannya dan tersenyum, "Ayah tidak perlu khawatir. Sekarang lebih baik Ayah istirahat." Claire keluar dari pintu dan melihat sang kakak sedang berbincang-bincang dengan suaminya. Claire pun menghampiri mereka berdua dan duduk disudut sofa. Janet memperhatikan Claire.

"Apa kau merasa ada yang aneh?" Janet menghampiri Claire.

Claire menarik napas dan menatap Janet, "Ayah—aku menangkap sorot mata yang aneh."

"Tidak perlu kau pikirkan itu. Maklumi saja, Ayah kan sudah tua. Mungkin saja Ayah hanya mengigau," tutur Janet.

"Soal akhir pekan?" Claire menatap Janet.

"Kalau soal itu aku juga tidak begitu tahu, Ayah akan membicarakan apa. Tapi ada baiknya kau datang saja ke sini."

"Aku akan datang bersama dengan Bianca dan Lisa," balas Claire.

Hari semakin sore, matahari sudah mulai redup. Kilauan cahayanya yang sangat menyilaukan kini telah berganti dengan cakrawala senja yang begitu indah. Warna oranye kemerah-merahan menghiasi langit kala itu. Sudah waktunya untuk pulang, Claire pun berpamitan pada ayahnya serta Janet dan suaminya.

"Tampaknya aku harus pulang sekarang. Aku takut anak-anak di rumah akan mencariku," ujar Claire.

"Pulanglah. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Ayah," sahut Janet. Claire pun mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.

Claire membunyikan klaksonnya dan setelah itu melaju pergi meninggalkan rumah sang Ayah. Dalam perjalanan pulang, pikiran Claire mulai tidak fokus. Dia masih tetap memikirkan kata-kata sang ayah. Karena tidak fokus menyetir mobilnya, Claire hampir saja menabrak pembatas jalan. Untung saja Claire sigap menginjak rem mobilnya, jika tidak mobil yang dikendarai Claire akan rusak menabrak pembatas jalan.

Jantung Claire berdegup sangat kencang, dua kali lebih kencang dari biasanya. Dia menundukkan kepalanya pada setir mobilnya dan menenangkan dirinya. Claire mengangkat kepalanya dan menatap ke depan. Asap keluar dari kap depan mobilnya. Claire menghela napas panjang.

"Oh, my God. Something wrong with me?" Claire memegang kepalanya.

Sebenarnya hal apa yang membuat Claire tidak fokus? Siapa yang dimaksud dengan dia?

TO BE CONTINUE

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Enggak Siap Dengan Perasaan Ini
8.4
Dunia Shiloh Jung runtuh saat bisnisnya hancur dan sang mantan menikah. Sang ayah lalu mengirimnya berlibur ke luar negeri demi memulihkan diri. Di sana, ia bertemu Edward Leung yang misterius. Mereka sepakat menjelajahi Rusia sebagai kekasih tanpa mengungkap identitas asli, sambil berjanji akan bersatu jika takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, setahun kemudian Edward justru bersikap seolah tidak mengenal Shiloh. Rahasia besar apa yang sebenarnya ia simpan?
Sampul Novel (bukan) Telepati Cinta
8.3
Hyura Anastasya terobsesi mencari reinkarnasi Fino dari buku kuno kakeknya, namun pencarian itu justru mengancam hubungan dengan sahabat dan cinta sejatinya. Di tengah kemelut, muncul sosok hantu laki-laki yang ternyata memegang kunci atas segala teka-teki hidupnya. Mengandalkan kemampuan telepati unik yang ia miliki, Hyura harus berjuang menuntaskan misteri besar ini. Mampukah ia menyelesaikan masalahnya saat telepati itu terasa tak berguna untuk urusan cinta?
Sampul Novel Bukan Teman Tapi Sekamar?
8.4
Amanda, sosialita kaya raya yang sombong, terjebak dalam masalah besar setelah menyetujui syarat ayahnya. Ia terbangun di pulau terpencil bersama Senja, pria dingin yang tak ia kenal. Keduanya terpaksa tinggal serumah demi misi reality show televisi dengan tujuan berbeda. Amanda yang manja membuat Senja kewalahan, sementara ketus pelayan itu membuat Amanda frustrasi. Di tengah konflik kepribadian yang kontras, mampukah mereka bertahan di lingkungan yang asing?
Sampul Novel Jiwa Pengganti
8.5
Hidup Amelia berakhir tragis di usia 27 tahun setelah kecelakaan fatal akibat patah hati. Namun, maut justru membawanya melintasi waktu dan bereinkarnasi ke dalam raga Castarica, seorang putri bangsawan yang dikenal kejam bak iblis. Amelia kini terjebak dalam kehidupan baru sebagai istri dari pria berhati dingin yang menyimpan ambisi rahasia. Mampukah ia bertahan hidup di tubuh antagonis ini sembari menghadapi suaminya yang penuh misteri dan rencana tersembunyi?
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni pertamaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, justru melindungi wanita lain di berita. Dia mengabaikan ikatan kami demi aliansi baru dan menyebut karyaku sekadar hobi, bahkan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongannya akan menjadi senjata penghancur dirinya sendiri.
Sampul Novel Pendewaan
8.8
Zen Luo, seorang bangsawan yang jatuh kasta, kini terhina sebagai budak sekaligus sasaran latihan fisik sepupunya. Namun, sebuah kecelakaan mengubah tubuhnya menjadi senjata mistis yang tak terpatahkan. Di tengah kekacauan dunia akibat persaingan antar klan, Zen bangkit membawa misi balas dendam dan ambisi besar. Dengan fisik sekuat pusaka, ia menantang para pendekar kuat demi meraih keabadian. Mampukah ia menaklukkan takdir dan menjadi legenda?