APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ketika Istri Kedua Jatuh Cinta

Ketika Istri Kedua Jatuh Cinta

Kiandra terjebak dalam pernikahan sebagai istri kedua demi memberikan keturunan bagi Evan, suaminya yang bersikap dingin serta egois. Di tengah penderitaan itu, ia bertemu Damar, pria lajang tampan dengan kepribadian hangat yang menawarkan sebuah hubungan terlarang. Kini, Kia berada di persimpangan jalan untuk memilih antara kewajiban atau cinta barunya. Siapakah yang akan Kia pilih, dan sanggupkah ia menghadapi segala konsekuensi dari keputusan tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kamu ... berani membohongiku?"  Giginya bergemelatuk. "Kamu lupa aku nikahi untuk apa, Ki?" 

Dengan sisa keberanian yang ada, Kiandra menatap mata Evan. "Aku ingat. Aku ingat kenapa kamu perlu menjadikanku istri kedua." 

"Kamu ingat sama kesepakatan kita?" 

Cukup lama menunggu, Evan tak kunjung mendengar istri keduanya bersuara. Kia malah menunduk, membuatnya semakin geram. 

Tangan pria itu menarik dagu Kia. Membuat tatapan mereka bertemu. "Satu buah rumah. Uang untuk biaya pernikahan Rina. Uang sekolah Nando sampai lulus SMA. Kamu lupa aku membayar semua itu untuk imbalan supaya kamu memberikan aku satu orang anak?" 

Kia bungkam. Matanya panas dan memerah. 

"Aku tidur di kamar kamu tiga kali dalam seminggu, selama setahun ini. Aku penasaran kenapa kamu belum juga terlambat datang bulan. Dan ternyata ini? Kamu bohong sama aku, Ki?" 

"Aku enggak mau punya anak." 

"Kamu minum pil KB tanpa sepengetahuan aku?" 

"Aku enggak mau punya anak." 

"Kamu kira kamu siapa berani bersikap begini sama aku, Ki?" 

"Aku enggak mau punya anak." Tangis Kiandra pecah. Perempuan itu sesegukkan. Kepalanya menunduk dalam. 

Satu tangan Evan mengepal. "Jangan nangis. Aku enggak perlu air mata kamu. Jelaskan. Kenapa kamu sampai seberani ini sama aku? Kamu besar kepala karena selama ini aku selalu nurut sama mau kamu?" 

Apa yang tak Evan lakukan untuk istri keduanya yang keras kepala itu? Evan menuruti syarat material yang Kia mau sebelum mereka menikah. Membelikan rumah untuk orang tua Kia, menanggung biaya pernikahan adik Kia yang nomor dua dan mengambil tanggung jawab untuk biaya sekolah Nando. 

Evan bahkan meninggalkan rumah lamanya dengan Lidia untuk tinggal di rumah yang punya kamar lebih dari tiga. Demi Kia yang berkata tak ingin tinggal sendiri dan dikunjungi hanya saat akan dibuahi. 

Lelaki itu juga tak pernah meminta Kia menjadi sebenar-benarnya istri. Kia tak perlu mengurusi pekerjaan rumah tangga atau dirinya. Bebas tidur seharian, makan apa saja, minta uang kapan saja dan mengatakan apa saja. 

Lalu, setelah semua itu, Kia berani menipunya? Wajar jika Evan ingin sekali memukul gadis itu sekarang. Namun, itu pun tak Evan lakukan. 

"Jelaskan, Kia!" Tak mampu menahan diri, Evan berteriak tepat di depan sang istri. 

Kiandra tersedu. Gadis itu merosot dan berjongkok di depan Evan. Bahunya bergetar karena tangis. 

"Kamu enggak pernah bersikap baik sama aku. Kamu selalu sesuka hati. Kamu enggak pernah mikirin aku. Aku enggak mau punya anak dari laki-laki jahat kayak kamu," sungut perempuan itu dalam tangis. 

Pada perempuan yang berjongkok di bawahnya, Evan merapatkan gigi. Mengusap wajah, rambut, frustrasi. "Kamu berlebihan, Kia. Sikap kamu ini, seolah kamu yang paling menderita. Kamu tahu? Lidia yang dimadu aja, enggak secengeng dan sedrama kamu ini." 

Evan melihat perempuan itu mengangkat kepala. Menampakkan wajahnya yang basah dan memerah. 

"Lidia? Kamu bandingkan aku sama Lidia?" Perempuan itu berdiri. Satu pukulan keras ia berikan di dada Evan. "Kamu pernah perlakukan dia kayak kamu perlakukan aku, Evan?" 

"Aku berusaha untuk enggak membedakan kalian," sanggah si lelaki. 

Air mata Kia jatuh semakin banyak. "Kamu pernah ancam dia, Evan? Kamu pernah bentak dia? Kamu pernah ngatain dia? Kamu pernah maksa dia untuk bermesraan kayak yang kamu lakuin ke aku? Pernah?" 

Wajah Evan memerah. "Lidia enggak pernah keras kepala dan membantah. Aku enggak punya alasan untuk ancam atau bentak dia." 

Evan memegangi dua bahu Kia. Memojokkan perempuan itu ke dinding. "Aku datang ke kamu, memang di saat jadwalnya aku sama kamu. Aku enggak pernah maksa kamu, Kia." 

Evan membebaskan Kiandra mengatakan apa saja. Kecuali mengatainya memaksakan diri. Evan hanya datang ke Kia di hari yang memang sudah mereka sepakati. Dituduh memaksakan diri seperti tadi, sungguh Evan tak terima. 

"Aku ini enggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Kita nikah karena terpaksa. Tapi aku diharuskan melayani kamu. Kamu pernah mikir sama perasaan aku, Evan?" 

"Kamu setuju sama kesepakatan kita, Kia." 

Kiandra menghapus air matanya. Perempuan itu melepaskan diri dari Evan. "Udah enggak. Aku udah berubah pikiran. Aku enggak tahan sama sikap kamu. Aku mau kesepakatan ini batal." 

Perempuan itu berlari keluar dari kamar. Menuju rak sepatu, mengambil sepasang sepatu kesayangannya. 

"Kamu mau ke mana?" Lidia yang melihat Kiandra akan pergi bertanya. Dari luar, samar ia mendengar percakapan si suami dan madunya. 

"Aku mau pergi. Aku enggak tahan hidup sama orang kayak suami kamu." Kiandra memakai sepatu di teras.  

Evan yang sudah ikut berdiri di teras rumah hanya bersedekap menatapi Kiandra yang bersiap pergi. 

"Jangan terbawa emosi, Ki. Kamu cuma lagi marah." Lidia berusaha membujuk madunya itu. 

"Enggak. Aku mau pergi. Aku mau ini semua berakhir." 

"Kamu mau ke mana? Pulang ke rumah Bapak? Kamu mau rumah itu aku ambil lagi?" Evan tersenyum remeh pada istrinya yang sudah melempar sorot benci.  

Kiandra berdiri dengan dua tangan terkepal. Matanya yang menatap Evan penuh rasa marah. "Aku udah enggak peduli. Ambil semua yang kamu kasih. Aku enggak peduli." 

"Kamu enggak bisa." Evan menggeleng dengan sorot sinis. "Mau kabur ke mana kamu? Memang ada orang yang mau nampung kamu?" 

"Dasar ba*ingan," maki Kia. Air matanya jatuh lagi karena hinaan tadi. "Aku bisa, Evan. Aku bisa pergi ke mana pun. Aku enggak butuh kamu!" 

Kiandra berbalik, perempuan itu berlari menuju pagar rumah, lalu melewatinya. Lidia yang panik berteriak dan berusaha memanggil. Namun, tak ada sahutan atau dilihatnya Kia kembali. 

"Evan, kejar dia. Dia beneran mau kabur." 

Evan bergeming. Raut wajahnya terlihat tenang, tetapi juga marah. 

"Evan! Kejar Kia." 

Lelaki itu menggeleng. "Dia enggak akan berani kabur, Lid. Nasib keluarganya ada di tanganku. Dia cuma mau menggertak. Bentar lagi paling pulang lagi." Evan melenggang masuk ke rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Absurd Boyfriend With Kianna
8.5
Kianna Augustephie yang pendiam diam-diam mengagumi Giorgio Fernandes, idola sekolah yang tampan. Ia bahkan menjadikan Gior inspirasi utama dalam novel romansa tulisannya. Tak disangka, sang primadona justru mendekatinya dengan serangkaian aksi konyol dan rayuan gombal yang tak terduga. Perubahan sikap Gior yang absurd ini membuat Kianna bingung sekaligus makin terpikat. Benarkah imajinasi cinta dalam bukunya akan segera menjadi kenyataan di dunia nyata?
Sampul Novel Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
9.4
Di balik kesuksesan Sienna, Julian hanyalah sosok terabaikan yang pernah mencuri ciuman pertamanya dalam kegelapan. Saat hidup Sienna hancur, Julian pulang demi melihat wanita itu terpaksa menerima pinangan pria lain. Namun, ketika Sienna berada di titik terendah, Julian telah menjelma menjadi sosok berkuasa yang siap melindunginya. Lewat ajakan nikah yang tegas, ia membuktikan bahwa tak ada pria lain yang mampu mencintai Sienna sedalam dirinya.
Sampul Novel Gadis Penyuka Hujan
8.5
Seorang siswi SMA terjebak dalam memori kelam masa lalu saat hujan turun membasahi malam yang dingin. Di balik tetesan air itu, ia menyembunyikan kesedihan mendalam dan kenyataan pahit sebagai remaja yang tengah mengandung. Kisah ini mengikuti perjalanan emosionalnya menghadapi luka lama yang kembali terbuka, sembari berjuang menanggung beban hidup yang berat di usia muda. Sebuah narasi tentang duka, rahasia, dan kenyataan yang tak terelakkan.
Sampul Novel Luka & Keegoisan
9.1
Sembilan tahun lamanya Lina Damaris Adelia berjuang menghapus jejak Elian Zayn Anderson dari hatinya. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan pria yang pernah memberi luka batin tersebut. Kini, Lina terjebak bekerja di perusahaan milik Elian yang angkuh dan egois. Di tengah gejolak emosi dan kesabaran yang kian menipis, mampukah mereka memperbaiki hubungan yang telah hancur, ataukah perasaan lama itu hanya akan menjadi ujian yang menyakitkan?
Sampul Novel Mencari Cinta Sejati
8.7
Anggita Anggraini mendambakan sosok yang mampu mencintai dirinya apa adanya tanpa syarat. Namun, rentetan kegagalan dalam asmara justru membuat Gita kian menutup diri dan membangun tembok perlindungan demi menghindari luka baru. Di tengah rasa trauma yang mendalam, ia harus berjuang menghadapi keraguan hatinya sendiri. Akankah Gita berhasil meruntuhkan benteng tersebut dan menemukan seseorang yang tulus? Ikuti perjalanan emosional Gita dalam menjemput cinta sejati.
Sampul Novel My Absurd Ning
9.4
Zora Alifia dikenal sebagai santriwati pembuat onar yang kerap memicu kekacauan di pesantren. Kelakuannya sering kali membuat Emir, sepupunya yang juga seorang Gus, merasa sangat kewalahan. Meski sering ditegur, Zora tetap membangkang hingga hubungan keduanya diwarnai ketegangan. Emir pun melontarkan ancaman pernikahan untuk menertibkan Zora. Ajaibnya, gertakan itu mulai mengubah sikap Zora menjadi lebih rajin dan taat menjalani kehidupan di pondok.