APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kill Me, Love Me

Kill Me, Love Me

Fajar adalah pemilik perusahaan teknologi yang menyembunyikan rahasia besar mengenai kondisi kepribadian gandanya. Meskipun ia memiliki kekasih bernama Mariska, hanya Indira yang mengetahui kebenaran tersebut. Kedekatan yang terjalin antara Fajar dan Indira memicu benih cinta yang rumit, di mana ketiga kepribadian Fajar justru jatuh hati pada Indira. Di tengah konflik batin ini, mampukah Indira menyembuhkan Fajar? Siapa yang akhirnya akan dipilih oleh hati Fajar?
Bab
Bagikan

Bab 3

Fajar sangat tahu jika Indira menatap ke arahnya beberapa kali, memastikan bahwa semua baik-baik saja. Beberapa lirikan yang Indira lakukan membuat dirinya tidak nyaman sama sekali, perubahan dalam dirinya yang tiba-tiba semakin membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.

“Apa anda baik-baik saja?” Indira membuka suara membuat keheningan mereka terhenti.

“Baik.” Fajar menjawab singkat, “kamu pelajari dengan baik mengenai kerjasama itu, saya yakin Rifan sudah memberikan penjelasan.”

“Saya sudah membaca, bahkan sampai ke titik koma. Kerjasama ini saya yang buat bukan Pak Rifan.” Indira menjawab kesal perkataan Fajar.

Fajar terdiam tidak tahu harus bersikap atau menjawab apa. Suasana kembali tenang, sibuk dengan pikiran masing-masing. Fajar mencoba mengingat mengenai keberadaan Indira disampingnya, biasanya yang ikut antara Kunto atau Rifan. Fajar yang mana membawa Indira berada disampingnya, menggelengkan kepala pelan tanda bahwa dirinya tidak bisa mengingat apapun.

“Bapak, tidak papa?” tanya Indira memegang lengan Fajar.

“Saya tidak suka ada yang memegang bagian tubuh saya, jadi jauhkan tanganmu dari lengan saya.” Fajar berkata datar tanpa menatap Indira.

Indira melepaskan sentuhan tangannya di lengan Fajar. “Maaf.”

Fajar membeku mendengar seseorang mengucapkan maaf, seluruh hidupnya tidak pernah mendengar kata itu dari orang lain. Fajar sendiri tidak pernah melakukannya, kata itu adalah kata-kata untuk pengecut dan bodoh. Wanita disampingnya hanya memegang bagian tubuhnya, dan dirinya tidak menyukainya langsung meminta maaf.

“Bodoh,” gumam Fajar dengan suara kecil yang hanya bisa didengar dirinya.

Melirik kesamping dimana Indira memilih menatap pemandangan yang ada disampingnya, wajah yang sangat berbeda dengan tunangannya membuat sesuatu dihati Fajar berdetak kencang. Mengalihkan pandangan ke samping, tindakan yang sangat bodoh menatap karyawannya.

Mobil tidak lama kemudian berhenti, Indira dan Fajar berjalan berdampingan. Klien yang satu ini memang sedikit sulit, beberapa kali Fajar bertemu tidak menemukan jalan terang. Fajar tidak ingat kapan tepatnya klien ini menyetujui kerjasama, langkah Fajar terhenti saat melihat salah satu pria mendatangi mereka dan berbicara dengan Indira, mereka terlihat akrab atau lebih tepatnya serius dalam berbicara entah apa.

Tidak ingin banyak bicara, mengikuti langkah pria itu. Fajar hanya mengamati apa yang dilakukan Indira, menggelengkan kepalanya pelan melihat wanita yang disampingnya. Sisi Fajar yang lain bisa menemukannya dengan baik, dibandingkan Fajar yang asli.

“Berkat penjelasan dari Ibu Indira, kami menerima kerjasama dengan perusahaan anda,” ucap pria yang memegang jabatan tertinggi di perusahaan ini, Fajar lupa siapa namanya.

“Memang sudah seharusnya dia melakukan yang terbaik untuk perusahaan.” Fajar berkata datar.

Suasana menjadi tenang, Fajar tidak peduli dengan semuanya. Memilih duduk kembali, menatap berkas yang harus mereka tanda tangani. Fajar membukanya, membaca sekilas isi dari perjanjian itu. Hembusan nafas panjang saat membaca ini semua, mengalihkan pandangan pada Indira dengan tajam.

“Mohon maaf, ada beberapa isi yang harus diubah.” Fajar mengatakan dengan suara datar, membuat semua mata memandang ke arahnya.

Indira berjalan mendekati Fajar dengan tatapan bingung, “bagian mana yang harus diubah, Pak?”

Fajar menunjukkan kata yang harus diubah. “Kamu salah menuliskan nama.” Indira membelalakkan matanya mendengar perkataan Fajar, “apa kamu tidak tahu nama atasanmu?”

Indira mencoba membaca, Fajar Herdianto itu namanya dan benar, “tertulisnya Fajar Herdianto, itu kan namanya?” menatap Fajar seakan meyakinkan.

“Dibaca sekali lagi.” Fajar mengetukkan tangan pada huruf yang dimaksud, tidak lama kemudian Indira membelalakkan matanya, “sudah tahu?”

“Maaf, Pak.” Indira menundukkan kepalanya. “Saya akan segera menggantinya.”

Indira mengambil berkas, seorang staf dari perusahaan klien mengarahkannya ke suatu ruangan. Fajar mengangkat sudut bibirnya melihat bagaimana reaksi Indira, mengalihkan pandangan pada pimpinan perusahaan ini, sekali lagi Fajar tidak mengingat namanya.

“Reputasi mengenai anda memang benar adanya.” Pria itu berkata dengan nada meremehkan, “kesalahan kecil sangat terlihat jelas, apalagi kesalahan besar.”

“Bukankah sebagai pengusaha kita harus jeli, pada hal terkecil sekalipun.” Fajar menatap datar.

Menunggu kedatangan Indira membuat dirinya kesal, menatap jam di tangannya dengan perasaan tidak tenang. Pria dihadapannya sangat payah untuk diajak berdiskusi, menatap ruangan yang ditempatinya membuatnya tersenyum kecil. Kantor kliennya memang tidak sebesar kantornya, hanya saja kantor ini memberikan kerjasama yang luar biasa.

“Apa sudah selesai?” tanya pria itu membuat Fajar mengalihkan pandangan ke arah Indira.

“Maafkan saya.” Indira menunduk untuk meminta maaf atas kesalahan yang dibuatnya.

“Bukan hal yang besar, kita bisa melanjutkannya. Pak Fajar silahkan dibaca terlebih dahulu, siapa tahu masih ada kesalahan sehingga bisa diperbaiki kembali.” Indira menundukkan kepala mendengar sindiran dari pria pemilik perusahaan.

Perjanjian kerjasama berlangsung cepat, setelah kesalahan kecil yang dibuat Indira. Fajar merutuki pegawainya yang tidak teliti, nanti saat sudah sampai di kantor akan memarahi Rifan. Fajar menggelengkan kepalanya, semua ini karena semalam melakukan balapan liar dan wanita ini menjadi bahan taruhan. Fajar sangat tahu kepribadiannya yang lain Frans akan membuat onar, dan juga Silvi yang membawa serta dalam perjanjian besar ini.

“Katakan pada Rifan, jangan mengirim kamu untuk ikut serta dalam perjanjian dengan klien. Saya tidak suka keberadaan kamu, semuanya jadi berantakan karena sikap tidak profesionalmu.” Fajar berkata dengan nada dingin, tanpa menatap Indira yang hanya menelan saliva kasar.

“Baik,” jawab Indira langsung.

Perjalanan mereka dari tempat klien ke kantor berjalan cepat, Indira turun terlebih dahulu. Fajar menatap punggungnya dengan tatapan penuh tanda tanya, salah satu sudut hatinya tidak suka dengan apa yang dilakukannya tadi.

“Aish...kenapa sekarang jadi suka pusing,” ucap Fajar memegang kepalanya dengan keras “Langsung pulang.” Fajar memerintahkan supirnya untuk pulang.

Kepala Fajar semakin sakit, rasanya ingin sekali pecah. Memegang kepalanya dengan sesekali menarik rambutnya, berharap sakit kepalanya hilang. Memejamkan matanya saat merasakan sakitnya semakin keras, Fajar tidak tahan dengan apa yang terjadi pada kepalanya.

“Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit?” tanya supirnya, Amir.

“PULANG! AKU BILANG PULANG YA PULANG! JANGAN PERNAH MEMBAWA AKU KE TEMPAT SIALAN ITU!” Fajar teriak membuat Amir diam.

Rasa sakitnya semakin menjadi, Fajar benar-benar tidak bisa menahannya. Sampai ke rumah langsung meminum obatnya, itu yang saat ini ingin dilakukannya. Mobil berhenti tidak lama kemudian, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sangat dibencinya. Budi, pamannya yang selama ini merawatnya. Paman yang memberikan kenangan buruk untuknya, kepergian kedua orangtuanya membuat pria itu yang merawatnya dan memberikan kenangan buruk, membentuk kepribadiannya yang lain.

“Sudah pulang.” Budi berkata santai dengan menatap Fajar tajam. “Berhasilkan perjanjiannya? Jangan lupa persenan buatku.”

“PERGI! JANGAN PERNAH KAMU DATANG KESINI!” Fajar teriak dengan menunjuk Budi.

“Apa ini bentuk terima kasihmu pada paman yang merawat dari kecil? Anak tidak tahu diuntung...Cuih...” Budi meludah dekat Fajar dengan menarik rambutnya, “kamu harus membayar semua yang sudah aku keluarkan untukmu selama ini.”

Fajar tersenyum kecut. “Apa yang harus dibayar? Penyiksaanmu? Kalau memang itu maka akan aku lakukan dengan senang hati.”

PLAK

Tamparan keras membuat Fajar terdorong dan mengenai tembok, menatap Budi yang saat ini menatap dirinya tajam. Berusaha untuk tidak takut dengan apa yang dilakukan Budi, seperti apa yang dilakukannya saat Fajar kecil.

“Anak nggak tahu diuntung! Pantas saja orang tuamu meninggal karena kamu memang membawa kesialan,” ucap Budi dengan tatapan tajam. “Kirim uangnya atau aku akan melakukan hal lebih dari ini.”

Menatap punggung Budi dengan tatapan benci, tapi bukan Budi yang dibencinya melainkan dirinya sendiri.

“Aku bilang apa, seharusnya dari awal aku hajar sampai mati dia.” Frans

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Lover (Alec & Alea)
8.6
Hasrat Alec Cage memuncak saat melihat kecantikan Azalea Mahendra. Peluang muncul ketika Arsen, kakak Alea, menyerahkan adiknya demi kursi CEO. Terpaksa tunduk, Alea menjalani pernikahan formal meski hatinya milik Arza, kakak angkatnya. Namun, badai datang saat Alec mengungkap masa lalu mereka. Sebagai pria pencemburu yang benci pengkhianatan, Alec tak akan memberi ampun. Ia bertekad menyiksa Alea dengan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.
Sampul Novel Cinta Nekatnya, Kehidupan Hancurnya
9.5
Dua belas tahun lamanya hidupku diabdikan sepenuhnya bagi Davian Adhitama, pewaris takhta teknologi. Sejak usia enam belas, aku dijual demi biaya pengobatan kanker ibuku, berperan sebagai sekretaris hingga kekasihnya. Namun, kembalinya Kania, cinta masa kecil Davian, mengubah segalanya. Dia memutuskan menikahinya dan membuangku dengan tawaran pesangon miliaran rupiah sebagai ganti atas seluruh masa muda yang telah kuhabiskan bersamanya.
Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku
8.4
Dunia Flora runtuh saat Kevin meminta cerai demi cinta lamanya yang kembali. Tanpa air mata, Flora justru menuntut mobil mewah, vila megah, dan separuh harta bersama sebagai syarat perpisahan. Kevin terkejut, baru menyadari bahwa selama ini istrinya adalah otak genius di balik kesuksesan finansialnya. Setelah kehilangan sosok kunci dalam hidup dan bisnisnya, Kevin kini harus berjuang keras demi memenangkan kembali hati Flora yang telah dia lepaskan.
Sampul Novel GAIRAH ISTRI SATU MILIAR
8.6
Hidup Sinta Maheswari hancur setelah ayahnya menjual dirinya demi melunasi utang dan biaya medis sang ibu. Ia dipaksa menikah dengan putra keluarga konglomerat berkuasa yang memperlakukannya bak budak tanpa nurani. Di tengah penderitaan tanpa cinta, Sinta justru hamil, membawa kegembiraan bagi keluarga besar namun tidak bagi suaminya yang kejam. Kini, Sinta harus berjuang keras mencari cara agar pria berhati iblis itu bisa benar-benar mencintainya.
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku
9.1
Elias Pradana, pengusaha sukses yang merasa terjebak dalam hampa pernikahan bersama Safira, menemukan pelipur lara pada sosok Dina. Kepolosan gadis desa itu membawa warna baru saat hubungannya dengan sang istri mendingin pasca insiden pahit. Namun, keadaan berbalik ketika Safira berusaha berubah kembali menjadi wanita yang dulu dicintai Elias. Merasa menjadi beban, Dina memilih pergi menghilang. Kini Elias terjebak di persimpangan antara masa lalu dan kebahagiaan barunya.