APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel KISAH PANAS STEWART RANZO

KISAH PANAS STEWART RANZO

Ranzo menavigasi perjalanan hidup yang penuh gejolak emosi dan hasrat mendalam saat ia beranjak dewasa. Dalam pencarian cinta sejati, pria tampan ini terlibat dalam berbagai hubungan romantis dan pengalaman ranjang yang mendebarkan dengan beragam wanita unik. Setiap pertemuan membawa tantangan baru bagi Ranzo. Akankah keberuntungan terus menemaninya di tengah intrik asmara yang panas? Temukan kisah fiktif khusus dewasa ini yang mengupas tuntas liku-liku pencarian jati diri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Gue tambahin lagi 2 juta kalo kita juara." tawar Dimas terus merayuku untuk bergabung dengan timnya.

Sejujurnya bukan itu pertimbangan ku untuk bergabung dengan mereka, tapi aku takut kalau terjadi masalah apabila aku ketahuan bahwa aku masih SMA dan bukan berasal dari kampus mereka.

"Tapi gue gak terdaftar di kampus kalian, gimana caranya gue bisa ikut?" tanyaku kepadanya.

"Kalo masalah itu gak usah khawatir, kita bisa buatin lu KTM palsu, ya gak Bon?" jawab Dimas sambil menengok kearah temannya yang ada di sampingnya.

Teman Dimas yang tangannya sedang melakukan sesuatu dibalik meja di samping ceweknya pun kaget tiba-tiba ditanya seperti itu.

"Ehh iya Bos," jawabnya lalu menarik tangan yang sedari tadi dibawah meja itu.

"Ahh!" sejenak wanita yang ada di sampingnya itu melenguh kecil.

"Jangan disini bego, entar di kosan aja," omel Dimas kepada pria itu yang aku ketahui bernama Boni.

"Jadi gimana? lu mau kan gabung ke tim kita?" tawar Dimas sekali lagi kepadaku.

"Gue pikir-pikir dulu deh."

"Oke tapi jangan lama-lama, karena proses pendaftarannya juga ribet belum bikin KTM palsunya."

"Besok gue kasih jawabannya," kataku.

"Sipp!" jawab Dimas singkat.

Setelah itu kami pun berpisah, aku dan Lisa berjalan menuju motorku, dia masih belum berani berbicara padaku.

***

Sepulang dari kafe itu aku memacu motorku dengan cukup pelan. Kami masih terdiam, belum ada yang berani membuka percakapan.

Beberapa menit kemudian Lisa pun memberanikan diri untuk ngomong duluan.

"Ran," panggilnya.

"Apa?"

"Marah?"

"Gak!" jawabku cuek

"Maaf ..."

"Hmm ..."

Lisa kemudian mencubit pinggangku.

"Aduh!" Aku memekik, bukan karena sakit melainkan geli.

"Lu masih marah ya? Maaf soal tadi," ucapnya sambil meletakkan dagunya di atas bahuku.

"Kenapa dari awal lu gak bilang dulu? setidaknya minta persetujuan gue dulu kek, jangan main asal tawarin gue aja, gue ini bukan barang, tau!" omelku panjang lebar kepadanya.

"Sorry, soalnya gue takut kalo gue bilang dulu lu bakalan langsung nolak," jelasnya.

"Emangnya sekarang gue bakal terima tawarannya?" tanyaku mengancam, aku hanya ingin melihat ekspresinya.

"Yah jangan gitu dong Ran, gue gak enak sama kak Dimas nih."

"Emang Dimas itu siapa sih?"

"Gue udah bilang kan kalo dia temennya kakak gue," balasnya singkat.

"Kok tadi gak ada kakak lu?"

"Kan butuhnya sama gue bukan sama kakak gue," jawabnya menjelaskan.

Aku sudah lelah berdebat dengannya, aku pun memilih mengalah dan diam.

"Ranzo, maafin gue ya ..." pintanya sekali lagi.

"Iya gue maafin."

"Hehe, makasih Ran," jawabnya sambil mencubit pipiku.

Aku kembali memacu motorku sedikit lebih kencang.

"Sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih, habis ini gue traktir deh," tawarnya.

"Halah palingan traktir cilok depan sekolah." ucapku mengejek.

"Enggak dong, kali ini beda gue traktir makan di food court," ajaknya kepadaku.

"Emang lu punya duit?"

"Ada... ada... tapi cuma untuk kali ini aja ya hehe ..." jawabnya sambil cengengesan.

"Oke deh," balasku singkat.

Lalu aku mengarahkan motorku ke tempat yang diberitahukan oleh Lisa itu. Sesampainya di foot court kami pun lalu memesan beberapa makanan dan minuman yang cukup mahal untuk ukuran kantong anak SMA.

"Lis, beneran gak papa nih kita makan di tempat ini?" tanyaku memastikan.

Karena aku memang tau makan di tempat seperti ini dan orang-orang yang datang terlihat dari kalangan menengah ke atas, aku jadi merasa sedikit tidak enak.

"Udah tenang aja," jawabnya menenangkan.

"Lu punya uang banyak, darimana?"

"Dari tabungan gue lah."

"Tabungan?"

"Iya, sebenernya gue nabung buat beliin hadiah ulang tahun nyokap, tapi gak papa lah ulang tahunnya masih lama juga, gue masih bisa nabung lagi, lagian makanan ini juga gak seberapa."

Aku pun jadi tak enak hati mengetahui uang yang dia keluarkan untuk mentraktirku itu hasil tabungannya untuk membeli hadiah ulang tahun mamanya.

Sebenarnya saat itu aku ingin membayar semua tagihan makanan yang sudah terlanjur kita pesan, tapi apalah daya aku Lisa tetap memaksa karena dia tidak enak hati padaku.

"Nanti gue traktir balik sebelah ini ya."

Lisa tidak menjawab melainkan hanya tersenyum, kemudian kami menyantap hidangan yang sudah disajikan.

"Ran, gimana? lu berminat kan gabung timnya kak Dimas?" tanyanya disela-sela makan.

"Belum tau Lis, emang kenapa?" tanyaku balik.

"Yah kenapa? tawarannya kurang? kalo menurut gue sih terima aja, dibandingin sama ikut lomba di sekolah lu cuma dapet piala doang itupun pialanya buat sekolah," ucapnya membujukku.

"Gini deh, sekarang gue tanya balik, emang lu dapet apa kalo gue mau join tim mereka?"

"Gak ada sih, cuman gue gak enak aja sama kak Dimas, dia udah percaya sama gue jadi gue gak mau ngecewain dia."

"Emang ada hubungan apa sih lu sama dia?" tanyaku menerka-nerka.

"Kenalan," jawabnya singkat. Aku jadi curiga dengan hubungan mereka, kenapa Lisa bisa sampai seloyal itu padanya.

Namun aku tidak ambil pusing, aku tidak mau merusak momen berduaan kami saat ini. Kamipun mengganti topik lain yang lebih ringan.

Setelah selesai makan di tempat itu Lisa kemudian mengajakku untuk jalan-jalan. Jarang sekali kami menghabiskan waktu berdua seperti ini, biasanya aku hanya mengantarkannya ke tempat yang dia inginkan lalu menjemputnya setelah dia selesai.

***

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu seharian dan hari sudah larut malam, saat itu kami masih mengenakan seragam sekolah hanya saja kami mengenakan jaket hoodie agar tidak terlalu mencolok. Kami pun memutuskan untuk pulang.

"Ran, pulang yuk! cape nih," ajaknya.

"Ayuk deh!" jawabku balik.

Saat itu kami masih berada di salah satu taman di dekat pusat kota sambil menyantap jajanan kaki lima yang kami beli di pinggir jalan. Saat kami berjalan di tempat motorku diparkirkan, sambil ngobrol dia tiba-tiba menggandeng tanganku.

Aku lalu menatapnya, dia balik menatapku, hatiku dag dig dug tidak menentu. Saat itu kami sudah seperti orang pacaran.

Karena terlalu asik kita saling menatap, kita sampai tidak melihat jalan. Saat itu ada dua buah anak tangga menurun, Lisa tidak melihatnya alhasil diapun tergelincir.

Bruk!!!

Aku yang terlambat bereaksi hanya bisa melihatnya tersungkur ke tanah.

"Aduh. aduh ... aduh Ran, sakittt!!!" Lisa tampak meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang keseleo.

"Diem dulu, jangan gerak." Aku mencoba memeriksa kakinya.

"Gak papa cuma keseleo."

"Tapi sakit Ran!"

Aku pun mencoba mengurutnya. Berkali-kali dia mengerang kesakitan, namun beberapa saat kemudian dia mulai tenang.

"Udah baikan?" Aku mencoba bertanya.

"Masih sakit," jawabnya.

"Bisa jalan?"

"Enggak."

Lalu aku memberi isyarat untuk naik ke punggungku, dia melingkarkan tangannya di leherku lalu ku gendong dia menuju ke motorku.

"Ran!" panggilnya.

"Apa?" Aku mencoba memutar sedikit kepalaku merespon panggilannya.

Tiba-tiba ...

Cuppp.

Lisa mencium pipiku, aku yang syok hampir saja kehilangan pijakan ku namun aku berhasil menyeimbangkan badanku lagi.

"Makasih ya, lu udah care sama gue," ucap Lisa kepadaku.

Aku diam saja lalu melanjutkan langkahku, aku tersenyum mengingat kejadian barusan, apa dia juga menyukaiku ya? apa aku tembak saja dia sekarang? tembak tidak ya? Ahh, pikiranku benar-benar blank.

Pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa, aku takut hubunganku malah jadi renggang karena perasaanku ini tidak diterimanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam
9.2
Dahulu Jenni hanyalah wanita lemah yang menjadi korban perundungan serta dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Kini, ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan tak tergoyahkan. Didorong dukungan penuh sahabat setianya, Jenni bertekad membuktikan kekuatannya melalui rencana balas dendam yang matang. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama. Simaklah perjalanan Jenni menuntut keadilan.
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.
Sampul Novel Lure Young Master Wolf
9.5
Terjebak dalam konspirasi licik, seorang gadis tak sengaja masuk ke pelukan Bei Minghan, putra keenam keluarga Beiming yang misterius. Pria berkuasa di Mingcheng ini dijuluki manusia serigala karena sifatnya yang kejam dan ganas. Meski reputasinya menakutkan, Bei Minghan justru menunjukkan sisi lain yang tak terduga. Bagi sang serigala, kesetiaan adalah segalanya. Di balik sosoknya yang dingin, ia hanya memilih untuk mencintai dan memanjakan satu wanita selamanya.
Sampul Novel MELEPAS JERAT SUAMI PARAS(H)IT
9.7
Elmi dan Damar mengawali asmara sejak kuliah hingga menikah. Namun, lima tahun berumah tangga, Damar justru menjadi parasit yang menganggur dan mengklaim rumah warisan Elmi sebagai miliknya. Konflik memuncak saat Damar menolak punya anak, meski Elmi sangat mendambakannya. Saat mendapat kerja, Damar malah berselingkuh. Di tengah luka, Elmi bertemu kolega yang tulus mendukungnya. Kini ia harus memilih: bertahan dalam kepalsuan atau pergi mengejar kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Menikah Dengan Keponakan
9.0
Akibat satu kesalahan fatal, Aeris dan Leon terjebak dalam pernikahan tanpa landasan cinta. Perbedaan usia serta kepribadian yang kontras memicu konflik terus-menerus di antara mereka. Sanggupkah Leon yang berhati dingin menghadapi tingkah abnormal Aeris setiap hari? Tantangan semakin berat saat cinta pertama Leon muncul kembali di hidupnya. Akankah ia tetap setia menjaga komitmen rumah tangga ini atau justru memilih berpaling demi masa lalunya?
Sampul Novel Never Move On
9.6
Nico dan Nina berpisah saat kuliah akibat restu orang tua hingga Nico pindah ke Amerika. Enam tahun berselang, Nina yang kini yatim piatu dan kehilangan tempat tinggal terpaksa bekerja menjaga sebuah apartemen kosong. Tak disangka, sang pemilik adalah Nico yang baru saja pulang. Karena Nina tak punya tujuan lain, Nico mengizinkannya menetap. Terjebak dalam satu atap, mantan kekasih ini harus berbagi ruang dengan berbagai aturan demi menjaga jarak profesional.