APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Napas saya berakhir di meja operasi setelah ginjal saya dirampas paksa demi Chika, cinta pertama suami saya, Handi. Saat Handi merayakan kesembuhan Chika, terungkap bahwa wanita itu hanyalah penipu yang mengincar asuransi. Penyesalan menghancurkan Handi hingga ia nekat menggali tanah makam saya dengan tangan kosong. Namun, nisan itu kini bertuliskan istri orang lain berkat bantuan Feri. Meski Handi mengakhiri hidupnya demi menebus dosa, semuanya sudah terlambat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Riana POV

Handi mendorong Chika pergi, meninggalkan ruang operasi. Pintu rumah sakit terbuka lagi, kali ini dengan suara tergesa-gesa. Langkah kaki berat terdengar di lorong. Feri muncul, terengah-engah.

Dia berlari ke arah meja operasi, tempat tubuh saya terbaring. Tangan Feri gemetar saat menyentuh selimut putih. Dia menariknya pelan, memperlihatkan wajah saya. Dingin, pucat, dan damai.

"Riana..." suaranya pecah. Air mata langsung membanjiri matanya. Feri tidak bisa mengendalikan dirinya. "Kenapa kau pergi secepat ini?"

Jemari Feri menyentuh rambut saya. Gerakannya begitu lembut, penuh kasih. Dia membelai pipi saya yang dingin. Feri, sahabatku.

Feri menempelkan dahinya ke dahi saya. Gemetar, dingin, dan basah oleh air matanya. "Saya menyesal," bisiknya, suaranya hancur. "Maafkan saya, Riana."

"Seandainya kau memilih saya," katanya, terisak. "Seandainya kau mau menikah dengan saya." "Kau tidak akan berakhir seperti ini, Riana." Saya tahu, Feri. Tapi saya terlalu bodoh.

"Mereka bahkan tidak mau mengurus jenazahmu," Feri menggeram. "Suami macam apa dia? Keluarga macam apa mereka?" "Kau sendirian, Riana. Tapi tidak lagi."

Pakaian Feri kusut, wajahnya lelah. Dia pasti baru saja tiba dari perjalanan jauh. Mungkin dia berlari begitu mendengar kabar. Sahabat sejatiku.

Feri pergi setelah pernikahan saya. Dia bilang dia tidak bisa melihat saya setiap hari dengan Handi. Sakit katanya. Sekarang saya mengerti.

"Saya tidak ingin menyulitkanmu, Riana," katanya dulu. "Handi itu orang yang kuat. Kamu butuh perlindungan." Dia selalu memikirkan saya. Berbeda dengan yang lain.

Saya tidak pernah punya keluarga kandung. Hanya anak yatim piatu yang diadopsi. Oleh keluarga Handi sendiri. Itulah awal dari semua ini.

Feri adalah anak tertua di panti asuhan. Dia seperti kakak bagi saya. Melindungi saya dari anak-anak lain. Selalu ada untuk saya.

Awalnya, Feri tidak menyukai saya. Saya anak baru, cengeng, dan sakit-sakitan. Tapi dia berubah. Perlahan-lahan. Menjadi bayangan saya.

Dia akan mencarikan saya makanan. Membacakan buku cerita. Menghibur saya saat saya menangis. Cintanya tumbuh tanpa saya sadari.

Saya menyerahkan segalanya untuk Handi. Bahkan keluarga adopsi saya. Mereka menentang pernikahan saya. Dan saya memilih Handi.

Mereka mengadopsi saya bukan karena cinta. Tapi karena saya adalah alat. Alat untuk memperkuat posisi mereka. Melalui pernikahan saya.

Feri tahu rencana busuk mereka. Dia membantu saya kabur. Meskipun itu berarti dia juga harus pergi. Dia mengorbankan segalanya.

Saya tidak buta, Feri. Saya tahu kau mencintai saya. Lebih dari sekadar adik. Saya hanya terlalu pengecut.

Menikahi Feri? Itu mustahil. Keluarga adopsi saya tidak akan pernah mengizinkan. Handi adalah satu-satunya jalan keluar.

"Feri itu tidak punya apa-apa," kata ibu adopsi saya. "Kau ditakdirkan untuk yang lebih besar." "Jangan buang masa depanmu." Saya percaya mereka.

Feri mengangkat tubuh saya, terbungkus selimut putih. Dia membawa saya keluar dari ruang operasi. Jauh dari tempat dingin ini. Jauh dari Handi.

Handi sudah pergi. Membelikan makanan kesukaan Chika. Sesuatu yang mahal, dari restoran jauh. Dia selalu begitu.

"Handi, saya ingin kue dari toko di ujung kota," Chika merengek. Tanpa ragu, Handi mengambil kunci mobilnya. "Saya akan segera kembali," katanya. Demi Chika, tidak ada yang mustahil.

Saya pernah meminta dia membelikan bubur di seberang jalan. Dia bilang terlalu jauh, terlalu merepotkan. Saya lapar dan sendirian. Dia tidak peduli.

Feri membawa saya keluar. Di pintu utama, dia berpapasan dengan Handi. Handi baru saja akan masuk kembali. Dua pria itu berdiri begitu dekat.

Saya terbungkus rapi dalam selimut putih. Wajah saya tidak terlihat. Hanya bentuk tubuh yang samar. Handi tidak tahu itu saya.

Mata Feri dan Handi bertemu. Ada kilatan amarah di mata Feri. Handi mengerutkan dahi. "Feri?" bisiknya, terkejut.

"Minggir," geram Feri. Suaranya rendah dan penuh ancaman. Dia tidak peduli siapa Handi. Dia hanya ingin pergi.

Tentu saja, Feri. Dia membunuh saya. Anda berhak membencinya. Lebih dari siapa pun.

Handi melangkah mundur. Wajahnya menunjukkan kebingungan. Dia tidak mengerti. Apa yang tidak dia mengerti?

"Kau membawa... jenazah?" tanya Handi, suaranya aneh. "Tidak sopan membawa jenazah di lorong umum." "Harusnya lebih terhormat." Terhormat? Dia yang membunuh saya.

Feri berbalik, mempercepat langkah. Tapi mata Handi terpaku. Pada pergelangan kaki kiri saya. Pada bekas luka itu.

"Tunggu!" Handi berteriak. Suaranya sedikit lebih keras. Ada sesuatu di matanya. Pengenalan?

"Siapa... siapa yang kau bawa itu?" tanya Handi. "Kenapa dia punya bekas luka yang sama?" "Kau mengenalnya?" Handi, ini saya.

Jantung saya berdebar. Atau, seharusnya berdebar. Haruskah Feri mengatakannya? Apa yang akan terjadi jika dia tahu?

Apakah dia akan menyesal? Apakah dia akan berduka? Ataukah dia akan tetap acuh tak acuh? Saya ingin tahu.

Feri berhenti, menoleh perlahan. Wajahnya tegang, tapi matanya dingin. "Dia istri saya," katanya, jelas dan lantang. Apa?

Kata-kata itu menghantam saya seperti gelombang. Istrinya? Handi terhuyung, seolah dipukul. Matanya membelalak, tidak percaya.

Handi tahu Feri mencintai saya. Dia selalu tahu. Tapi dia tidak pernah menganggapnya serius. Cinta Feri adalah rahasia kami.

"Kapan... kapan kalian menikah?" Handi bertanya, suaranya tercekat. Ada nada cemburu di sana. Sebuah ketidakpercayaan yang mendalam. Kenapa dia begitu terkejut?

Handi sendiri terkejut dengan pertanyaannya. Dia memandang Feri, lalu ke saya. Mencoba memahami. Terlalu terlambat, Handi.

Feri menyeringai, senyum dingin. "Itu bukan urusanmu, Handi," katanya tajam. "Kau tidak punya hak untuk bertanya." "Ini hidup saya, dan hidup istri saya."

"Kau... kau juga sama saja," Handi membalas. "Pura-pura polos, padahal kau juga licik." "Kalian berdua sama."

Feri berhenti melangkah. Dia berbalik penuh, menatap Handi. "Saya memang licik," Feri mengakui. "Tapi saya lebih baik dari kau."

Tentu saja Handi mengerti. Dia tahu apa maksud Feri. Lebih baik karena tidak meninggalkan saya mati sendirian. Lebih baik karena mencintai saya.

Saya merasa ditarik, mengikuti Feri. Keluar dari rumah sakit. Menuju kebebasan. Atau, apa pun itu.

Saya menoleh ke belakang sekali lagi. Handi masih berdiri terpaku di pintu. Wajahnya pucat, matanya kosong. Sebuah bayangan penyesalan?

Tapi itu tidak penting lagi. Saya tidak merasakan apa-apa. Cinta itu sudah mati. Bersama dengan saya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel CINTA ATAU BENCI
8.5
Akibat fitnah keji, Ella harus merasakan kekejaman Evan, pria yang sangat ia cintai. Ketidakpercayaan Evan dan penolakan keras dari keluarganya membuat hidup Ella hancur hingga berujung di penjara. Setelah bebas, takdir justru menyeretnya kembali ke pelukan Evan. Meski diselimuti ketakutan luar biasa, Ella seolah tak bisa menjauh dari pria itu. Di tengah siksaan yang terus berlanjut, Ella tidak menyadari bahwa Evan sebenarnya juga menyimpan rasa cinta.
Sampul Novel Dignity ( Demi Harga Diri)
9.4
Delapan tahun menikah, Suri Hidayah menghadapi kehancuran rumah tangga karena Prasetyo, suaminya, berubah angkuh sejak menjadi direktur. Pras kerap merendahkan Suri dan membandingkannya dengan Murni, atasan yang dianggapnya sempurna. Di tengah luka, Suri bangkit memperbaiki diri dan merintis usaha rajut. Takdir mempertemukannya dengan Damar Adhiyatna, pengusaha benang sekaligus mantan suami Murni. Lewat kerja sama barter, Suri berjuang memulihkan harga dirinya di tengah konflik cinta yang rumit.
Sampul Novel Fall For You (Rindu)
8.0
Rindu Kinasih mengira perjodohannya dengan Derren Aji Putra adalah anugerah. Namun, pria mapan itu justru menjadi sumber siksaan fisik dan batin yang kejam. Di tengah penderitaan, Danielo Chris selaku atasan Rindu yang trauma akan kekerasan muncul menawarkan bantuan. Ia menyodorkan kontrak pernikahan sebagai jalan keluar dari neraka Derren. Kini, Rindu terjebak dilema besar: tetap bertahan dalam maut atau menerima tawaran gila demi kebebasannya.
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Cinta sering kali membutakan logika dan meninggalkan goresan luka yang mendalam di hati. Meski penuh dengan kegilaan serta rasa sakit, perasaan ini menyimpan kekuatan yang tidak terduga. Siapa yang akan menyangka bahwa cinta justru menjadi penawar paling ampuh untuk menyembuhkan segala duka? Inilah sebuah kisah tentang bagaimana keajaiban kasih sayang mampu menggetarkan jiwa siapa pun dan mengubah kepedihan menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata bagi mereka.