APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Napas saya berakhir di meja operasi setelah ginjal saya dirampas paksa demi Chika, cinta pertama suami saya, Handi. Saat Handi merayakan kesembuhan Chika, terungkap bahwa wanita itu hanyalah penipu yang mengincar asuransi. Penyesalan menghancurkan Handi hingga ia nekat menggali tanah makam saya dengan tangan kosong. Namun, nisan itu kini bertuliskan istri orang lain berkat bantuan Feri. Meski Handi mengakhiri hidupnya demi menebus dosa, semuanya sudah terlambat.
Bab
Bagikan

Bab 1

Tentu, saya akan menambahkan POV (Point of View) ke setiap bab sesuai dengan permintaan Anda, tanpa mengubah format atau konten lainnya.

Di meja operasi yang dingin, napas saya berhenti selamanya.

Suami saya, Handi, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah jasad saya.

Dia sibuk memeluk cinta pertamanya, Chika, merayakan keberhasilan transplantasi ginjal yang dia rampas paksa dari tubuh saya yang sekarat.

Bagi Handi, kematian saya hanyalah harga murah demi keselamatan "bidadari" palsunya.

Namun, karma datang lebih cepat dari dugaannya.

Seorang perawat dengan sinis memberitahunya:

"Selamat, Tuan. Anda baru saja membunuh istri Anda sendiri demi seorang penipu."

Kebenaran terbongkar. Chika ternyata hanya mengincar uang asuransi kematian saya.

Handi hancur. Dia meraung, mengemis untuk melihat makam saya.

Tapi sahabat saya, Feri, sudah menyembunyikan jasad saya jauh-jauh.

Yang Handi temukan hanyalah nisan bertuliskan "Istri Feri".

Gila karena penyesalan, Handi menggali tanah dengan tangan kosong di samping nisan itu.

Dia mengiris nadinya sendiri, berharap darahnya bisa menebus dosa.

Sayangnya, bahkan kematiannya pun tidak lagi berarti bagi saya.

Bab 1

Riana POV

Kaki saya terikat, pergelangan tangan saya diborgol, dan mulut saya disumpal. Dingin sekali, sampai ke tulang. Saya tahu ini adalah akhir. Tidak ada yang datang menyelamatkan.

Selang-selang menancap di tubuh saya, alat monitor berbunyi berirama. Setiap bunyi "bip" terasa seperti detak jarum jam menuju kematian. Saya mencoba berteriak, tapi suara saya tidak keluar. Hanya air mata yang mengalir dari sudut mata.

Tiba-tiba, bunyi "bip" itu menjadi panjang dan solid. Garis hijau di monitor berubah menjadi garis lurus. Dingin memenuhi saya, bukan hanya dari meja operasi, tapi dari dalam. Ini dia.

Kemudian, suara dokter terdengar, samar-samar tapi jelas. "Operasi Nona Chika berhasil! Ginjalnya berfungsi sempurna." Dunia saya gelap total. Betapa ironisnya.

Lampu di atas saya meredup, perlahan-lahan. Saya menutup mata, merasakan kegelapan menelan saya. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi harapan.

Tapi kegelapan tidak bertahan lama. Saya merasa melayang, ringan seperti kapas. Sebuah dorongan menarik saya ke suatu tempat. Ke arahnya.

Di sebuah kamar mewah, Handi memeluk Chika erat-erat. Wajahnya penuh kelegaan, mata Handi berkaca-kaca. Chika membalas pelukannya, tersenyum lemah. Tubuh saya menegang, meskipun saya tidak punya tubuh lagi.

Rasa sakit yang baru menghantam saya. Lebih dalam dari luka pisau bedah. Ini adalah rasa sakit karena diabaikan, dilupakan. Kehilangan yang tak terlukiskan.

Apakah dia pernah peduli sedikit saja? Tentang hidup saya, atau kematian saya? Hanya sebuah pertanyaan kosong di kehampaan.

Jawabannya jelas. Tidak. Dia tidak pernah peduli.

Handi telah menuntut saya untuk Chika. Menuntut agar saya mendonorkan ginjal saya. Padahal saya sekarat.

Dia menyewa pengacara terbaik di Jakarta. Untuk memastikan saya tidak punya jalan keluar. Tidak ada celah hukum.

Saya kalah. Sejak awal, saya tidak punya kesempatan. Hukum tidak berpihak pada orang lemah.

Pisau bedah terasa dingin di perut saya. Rasa sakit itu, bahkan setelah saya mati, masih melekat. Setiap jahitan di tubuh Chika adalah luka baru di jiwa saya.

Sebelum operasi, saya mencoba menelepon Handi. Suara saya serak, hampir tidak terdengar. Ini adalah upaya terakhir saya.

"Handi, tolong... hentikan," saya berbisik ke telepon. "Saya tidak kuat. Saya merasa... saya akan mati." Setiap kata adalah gelembung udara terakhir saya.

Saya tidak pernah memohon padanya. Tidak pernah menundukkan kepala. Bahkan ketika dia memperlakukan saya seperti pembantu.

Saat itu, saya rela melakukan apa saja. Mengatakan maaf, mengakui kesalahan yang tidak saya perbuat. Asal saya bisa hidup.

Di ujung telepon, hanya ada desahan. Lalu, tawa dingin yang menusuk. Itu adalah tawa Handi.

"Akhirnya kau sadar, Riana," suara Handi dingin. "Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah menyakiti Chika?"

"Mendonorkan ginjalmu untuk Chika adalah kehormatan bagimu," katanya. "Chika adalah pahlawan yang tidak kau pahami." Pahlawan? Saya hampir mati.

"Jangan harap kau bisa main-main," ancamnya. "Ini belum selesai."

"Donor ginjalmu ini tidak akan menghapus dosamu," lanjut Handi. "Chika menderita karena ulahmu."

"Setelah Chika pulih, kita akan bicara lagi," katanya. "Aku akan pastikan kau membayar semua perbuatanmu."

"Sekarang, minta maaf pada Chika," perintahnya. "Sebelum terlambat." Sebelum terlambat? Saya sudah berada di ambang kematian.

Saya ingin membantah, ingin berteriak. Tapi tenggorokan saya tercekat. Hanya air mata yang bisa menjawab.

"Aku muak dengan sandiwaramu, Riana," suara Handi penuh kebencian. "Dasar wanita egois."

Klik. Telepon terputus. Dunia saya runtuh. Jatuh ke dalam jurang yang gelap dan dingin.

Lima tahun pernikahan. Cinta yang saya berikan tanpa syarat. Hancur dalam sekejap.

Dulu, dia pernah berjanji. "Aku akan selalu mencintaimu, Riana." Kata-kata itu kini seperti racun.

Chika kembali, dan saya dilupakan. Semudah membalikkan telapak tangan. Saya tidak pernah ada baginya.

Di kamar itu, Handi membelai rambut Chika. Begitu lembut, begitu penuh kasih. Sentuhan yang tidak pernah saya rasakan.

"Syukurlah, kau selamat, Chika," Handi berbisik. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."

Matanya bengkak, kantungnya gelap. Dia pasti tidak tidur semalaman. Khawatir akan Chika.

Apakah dia pernah memikirkan saya? Bahkan sedetik pun, setelah saya mati? Tidak ada jawaban.

"Handi, bagaimana dengan Riana?" tanya Chika lembut. "Apa dia baik-baik saja?" Senyumnya terlihat begitu tulus, tapi saya tahu itu palsu.

Chika berusaha bangkit, seolah ingin mencari saya. Gerakannya terlalu lambat, terlalu dramatis. Sandiwara kelas kakap.

Handi menahan Chika, mendorongnya kembali ke bantal. "Jangan pikirkan dia, Sayang," katanya lembut. "Prioritasmu sekarang adalah sembuh."

"Riana yang salah," Handi menambahkan. "Kau tidak perlu khawatir. Kau tidak bersalah."

Seorang perawat masuk, membawa nampan. Dia tersenyum melihat Handi dan Chika. "Tuan Handi dan Nona Chika, kalian memang pasangan serasi," katanya. "Sama-sama baik hati."

"Tuan Handi sudah menjaga Nona Chika semalaman, tidak tidur sedikit pun," perawat itu bercerita. "Cinta sejati memang luar biasa."

Chika tersipu, menundukkan kepala. Handi hanya tersenyum tipis, tidak menyangkal. Dia menerima pujian itu.

Perawat itu lalu menghela napas. "Kasihan sekali pasien di meja operasi satunya," gumamnya. "Meninggal sendirian."

"Tidak ada keluarga yang menjenguk, apalagi mengurus jenazahnya," lanjut perawat itu. "Nanti biar rumah sakit yang urus." Jantung saya hancur.

Handi tiba-tiba berhenti bergerak. Wajahnya mengeras, sedikit mengerutkan dahi. Apakah dia... apakah dia mengenali saya? Sebuah harapan kecil bersemi di dada saya.

Handi, tolong. Lihat saya. Uruslah jenazah saya, setidaknya. Saya istrimu.

Detik-detik berlalu, terasa seperti berjam-jam. Handi hanya menghela napas panjang. Sebuah desahan yang kosong.

"Memang kasihan," gumam Handi, suaranya datar. Tidak ada emosi. Hanya simpati yang dangkal.

Harapan saya padam, secepat ia menyala. Saya tertawa, tawa hampa yang pahit. Tawa seorang hantu.

Kenapa saya masih berharap? Bukankah saya sudah tahu? Dia tidak pernah peduli.

Handi mendorong kursi roda Chika keluar kamar. Meninggalkan saya, sekali lagi. Sendirian.

Mereka melewati pintu ruang operasi yang tertutup. Di mana tubuh saya terbaring. Dingin dan tak bernyawa.

Handi berhenti sejenak, melirik ke dalam. Matanya kosong. Tidak ada pengakuan.

Tubuh saya terbungkus selimut putih. Wajah saya tertutup. Hanya keheningan yang tersisa.

Tapi ada satu hal yang tidak tertutup. Bekas luka lama di pergelangan kaki kiri saya. Garis putih, tipis, tapi jelas.

Bekas luka itu ada di sana karena saya menyelamatkannya. Dari kecelakaan lima tahun lalu. Bekas luka itu berteriak. Tapi Handi tidak mendengar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel CINTA ATAU BENCI
8.5
Akibat fitnah keji, Ella harus merasakan kekejaman Evan, pria yang sangat ia cintai. Ketidakpercayaan Evan dan penolakan keras dari keluarganya membuat hidup Ella hancur hingga berujung di penjara. Setelah bebas, takdir justru menyeretnya kembali ke pelukan Evan. Meski diselimuti ketakutan luar biasa, Ella seolah tak bisa menjauh dari pria itu. Di tengah siksaan yang terus berlanjut, Ella tidak menyadari bahwa Evan sebenarnya juga menyimpan rasa cinta.
Sampul Novel Dignity ( Demi Harga Diri)
9.4
Delapan tahun menikah, Suri Hidayah menghadapi kehancuran rumah tangga karena Prasetyo, suaminya, berubah angkuh sejak menjadi direktur. Pras kerap merendahkan Suri dan membandingkannya dengan Murni, atasan yang dianggapnya sempurna. Di tengah luka, Suri bangkit memperbaiki diri dan merintis usaha rajut. Takdir mempertemukannya dengan Damar Adhiyatna, pengusaha benang sekaligus mantan suami Murni. Lewat kerja sama barter, Suri berjuang memulihkan harga dirinya di tengah konflik cinta yang rumit.
Sampul Novel Fall For You (Rindu)
8.0
Rindu Kinasih mengira perjodohannya dengan Derren Aji Putra adalah anugerah. Namun, pria mapan itu justru menjadi sumber siksaan fisik dan batin yang kejam. Di tengah penderitaan, Danielo Chris selaku atasan Rindu yang trauma akan kekerasan muncul menawarkan bantuan. Ia menyodorkan kontrak pernikahan sebagai jalan keluar dari neraka Derren. Kini, Rindu terjebak dilema besar: tetap bertahan dalam maut atau menerima tawaran gila demi kebebasannya.
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Cinta sering kali membutakan logika dan meninggalkan goresan luka yang mendalam di hati. Meski penuh dengan kegilaan serta rasa sakit, perasaan ini menyimpan kekuatan yang tidak terduga. Siapa yang akan menyangka bahwa cinta justru menjadi penawar paling ampuh untuk menyembuhkan segala duka? Inilah sebuah kisah tentang bagaimana keajaiban kasih sayang mampu menggetarkan jiwa siapa pun dan mengubah kepedihan menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata bagi mereka.